Mudik

Rohman Budijanto*, Majalah Tempo, 6 Jul 2015

Ilustrasi: Dakwatuna

Mudik adalah kata yang mengalami peningkatan martabat. Sejak menjadi sebutan untuk tradisi eksodus tahunan menyambut Lebaran, kata ini makin jauh dari makna asalinya, yakni “mengudik” atau menuju udik. Kata “udik” ini pernah menjadi ejekan untuk orang yang tertinggal kemajuan. Sergahan “dasar udik” atau “maklum, dari udik” atau “udik banget” menjadi ekspresi merendahkan. Keadaan menjadi berubah setelah berjuta-juta orang, bahkan mayoritas orang kota, ternyata berasal dari “udik” dan mengikuti tradisi “mudik”. Kata “udik” pun kian jarang disebut untuk menghina.

Pemberian imbuhan yang kurang taat dengan tata tertib berbahasa Indonesia baku pun tak jadi soal. Semestinya kata bentukan baku itu berbentuk “mengudik”. Gejala bentukan kata “mudik” ini mirip dengan kata “mundur”, yang berasal dari “undur” tapi kemudian mandiri menjadi kata dasar sendiri.

Bahasa memang kerap harus tunduk kepada kebiasaan para pemakainya.

Kata “udik”, sebagai lawan kata “hulu”, adalah generalisasi dari persepsi terhadap lokasi peradaban. Peradaban yang lebih dinamis memang biasanya tumbuh di hulu: muara sungai, tepi sungai, atau pantai. Sarana transportasi termudah memang lewat perairan, tak perlu membangun jalan. Muncullah kemudian kota yang kebanyakan di tepi perairan atau di hulu sungai. Orang-orang yang tinggal di hulu disebut orang kota. Sedangkan yang bertahan di udik disebut orang kampung, orang desa.

Kota dianggap cermin peradaban halus, karena orang kota biasanya kosmopolitan, harus menenggang banyak perbedaan dari penghuninya yang beragam. Tak aneh bila padanan kota adalah urban, bahasa Latin yang artinya halus. Selain dijadikan sebutan untuk kota, urban dipakai sebagai nama yang mencitakan kehalusan, misalnya Paus Urbanus (ironisnya, Paus Urbanus II adalah pencetus Perang Salib). Mungkin nama Urbaningrum juga dimaksudkan sebagai doa agar si empunya nama menjadi sosok yang halus.

Sebaliknya, orang-orang yang kurang halus atau terlalu lugu kerap diidentikkan dengan “kampungan” atau “ndeso” atau juga “udik”. Untung ada kata “mudik” sehingga “udik” tak semata bermakna jelek. Bahkan mudik tak harus bermakna jeda liburan dari kota ke desa. Dari kota tempat tinggal ke kota kelahiran pun disebut mudik. Kepulangan dari kota di luar negeri ke kota besar di Indonesia untuk berlebaran pun dianggap mudik. Bahkan, apabila orang kota bekerja di pelosok Indonesia, kemudian kembali ke kotanya untuk Lebaran, juga disebut mudik.

Padanan kata mudik yang agak mirip adalah “pulang kampung”. Kota pun dianggap “kampung halaman” sebagai sebutan tempat kelahiran. Kata “kampung halaman” ini jelas menunjukkan suasana desa zaman dulu, ketika belum padat penduduk, yakni banyak rumah punya halaman luas di depannya. Kampung dan halaman menjadi tempat tumbuh anak manusia yang tak terpisahkan. Kini lahan permukiman kampung menyempit, halaman menjadi kemewahan.

Mudik jelas merupakan produk kultural Islam rahmatan lil alamin di Indonesia. Kaum muslim, juga bukan muslim, menikmati liburan reuni dalam momen Lebaran dengan berkumpul di daerah asalnya. Istilah “lebaran” itu pun khas Indonesia, tidak dikenal di Arab, yang menyebutnya “eid mubarak” (hari berkah). Uniknya, tak ada yang tahu persis bagaimana lahirnya kata “lebaran” itu. Tapi tak usah dipusingkan. Bukankah tujuan berbahasa adalah efektivitas komunikasi? Yang jelas, pemakaian istilah “lebaran” yang sangat lokal itu menjadikan hari raya ini seakan-akan menjadi hari raya bersama warga Indonesia.

Bulan puasa, sebelum Lebaran tiba, tak luput dari sentuhan kultural itu. Istilah “buka puasa”, misalnya, jelas bahasa Indonesia murni. Bahasa Arabnya iftaar. Adapun “sahur” memang berasal dari bahasa Arab. Makna “buka puasa” itu juga agak aneh karena justru menjadi “penutup” puasa, karena makan buka puasa berarti mengakhiri puasa. Puasa justru “dibuka” dengan makan sahur menjelang fajar. Tapi, sekali lagi, yang penting istilah ini efektif digunakan dalam berbahasa.

Yang agak lucu juga pemaknaan istilah “takjil” yang identik dengan makanan ringan untuk buka puasa. Kaum muslim Nusantara seperti lupa bahwa makna “takjil” sebenarnya adalah “menyegerakan”. Memang, Nabi Muhammad menganjurkan untuk menyegerakan berbuka puasa. Sementara di Arab dengan kurma dan air, di sini buka puasa “ditakjil” dengan kolak pisang atau es kelapa muda.

Dalam ibadah Lebaran, pemaknaan kultural juga terjadi. Nabi Muhammad mencontohkan salat Id di mushalla. Makna asli mushalla ini adalah tempat salat berupa tanah lapang. Tapi, di Indonesia, musala diartikan menjadi masjid kecil. Padanan katanya, yang juga bukan berasal dari bahasa Arab, adalah surau, meunasah (Aceh), juga langgar (Jawa). Dalam film Sang Pencerah, gerakan Muhammadiyah berpangkal dari Langgar Kidul di Yogyakarta.

Bukan hanya muslim Indonesia yang mengkreasi istilah kultural untuk agama. Orang Turki menyebut surau dengan mescit (baca: masjid). Sedangkan masjid besar disebut camii (baca: jamik), seperti kita menyebut “masjid jamik”. Sementara kita menyebut Lebaran, mereka menyebut Idul Fitri dengan bayram.

Alangkah indahnya warna-warni pelangi ekspresi agama yang merasuk ke dalam jantung bahasa lokal.

* Wartawan Jawa Pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s