Mengapa Berbuka Puasa?

Yanwardi*, KOMPAS, 11 Jul 2015

1758594benhil-2780x390

Ilustrasi: Hidangan untuk berbuka puasa (Sumber: Kompas)

Eko Endarmoko, penulis Tesaurus Bahasa Indonesia, agaknya tersentak ketika mendengar seorang anak kecil mempertanyakan berbuka puasa atau menutup puasa yang benar. Jauh sebelum itu, pertanyaan ini pernah diutarakan seseorang dalam sebuah milis bahasa. Ada dua hal menarik dalam kasus ini. Pertama, secara linier, ungkapan bahasa yang muncul kiranya (seolah-olah) lebih logis menutup puasa. Bukankah kita faktanya menutup puasa setelah berpuasa dari matahari belum muncul sampai matahari tenggelam? Kedua, mengapa kata buka mengambil awalan ber– khusus dalam kolokasi dengan kata puasa. Biasanya buka mengambil awalan me(N)-, misalnya, membuka mata, baju, toko, warung, dsb. Tulisan ini akan mencoba menjawab dua ihwal tersebut.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi IV, halaman 217, buka memiliki dua bentuk, sebagaimana bisa. Jadi, kata ini memiliki homonimi. Buka yang ditandai dengan angka arab (2), bermakna ’minum atau makan pada petang hari (biasa ditandai dengan masuknya magrib) untuk membatalkan puasa sesudah berpuasa’. Jelas makna ini diturunkan dari makna buka angka arab (1), yakni berkaitan dengan ’terbuka, jarak, lebar’. Dari komponen makna tersebut, tampak ada korelasi dengan makna angka arab (2) ’minum dan makan’ yang perlu menggunakan mulut dalam posisi terbuka. Penetapan makna kedua di KBBI ini terasa janggal karena sejatinya makna buka baru muncul bila berkolokasi dengan puasa. Tidak bisa diperlakukan hanya kata buka saja, harus sebagai kata majemuk: buka puasa. Secara pragmatis (dalam pemakaian bahasa) memang bisa muncul kata buka saja. Namun, dalam konteks kamus, makna yang seharusnya diangkat adalah makna leksikal.

Kembali pada soal pertama, kata buka dalam bahasa Indonesia tidak selalu muncul secara berpasangan dengan kata tutup. Kita tidak menemukan lawan kata buka baju (tutup baju), buka sepatu (tutup sepatu), dll. Sebab itu, tidak mengherankan jika kita hanya mendapatkan kata majemuk buka puasa, tetapi tidak ada tutup puasa. Bahwa peristiwa berpuasa ini dilakukan tidak secara linier terbukti dengan tidak adanya bentuk membuka puasa ketika kita mengawali berpuasa. Sebab itu, tatkala kita mengakhiri puasa, yang muncul bukan ujaran menutup puasa, melainkan buka puasa dengan makna semi-idiomatis ’minum/makan pada petang hari’. Makna ini kemudian dileksikalisasi oleh KBBI. Permasalahan pertama dengan demikian terjawab sudah,

Persoalan kedua, mengapa memunculkan awalan ber-, bukan me(N)-, sebagaimana dalam membuka warung, membuka toko, dsb. bisa dijelaskan dengan melihat buka puasa sebagai kata majemuk, yang berkelas nomina. Fakta ini berbeda dengan buka warung, buka toko, dsb yang merupakan frasa (verbal). Karena berstatus kata majemuk dan berkelas nomina, buka puasa mengambil awalan ber-, menjadi berbuka puasa, sepola dengan beribadah, berzakat, berpuasa, berdoa. Pola dalam konteks ini secara gramatikal sama, yakni dasarnya nomina dan bermakna gramatikal ’melakukan D’ (melakukan zakat, melakukan ibadah, melakukan buka puasa, dst). Jadi, permasalahan kedua juga menjadi bisa dijelaskan secara kebahasaan.

Demikianlah bahasa, memiliki sistem dan ihwal masalah selalu bisa dijelaskan secara gramatikal.

Jika suatu masalah tidak bisa dijelaskan secara gramatikal, kita wajar mencurigai bahwa ”bentuk bahasa” itu melanggar kaidah suatu bahasa. Bentuk bahasa yang melanggar ini biasanya, kalau dibiarkan, akan bertabrakan dengan bentuk-bentuk bahasa lainnya yang sepola.

* Editor pada Yayasan Obor

2 thoughts on “Mengapa Berbuka Puasa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s