Baru

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 13 Jul 2015

Ilustrasi: Pencanangan gerakan Ini Baru Indonesia (MetroTVNews.com)

Di Blitar, Jawa Timur, Majelis Permusyawaratan Rakyat mengumumkan gerakan Ini Baru Indonesia berbarengan dengan peringatan 70 tahun kelahiran Pancasila. Gerakan itu disahkan dengan pameran spanduk berisi ajakan mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Penamaan gerakan itu mirip iklan, tapi menguak sejarah Indonesia, sejak 1930-an. W.J.S. Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952) mengartikan “baru” sebagai “masih dalam keadaan baik, segar, habis selesai dibuat”. Barangkali Zulkifli Hasan atau para penggagas gerakan Ini Baru Indonesia mengacu ke Tesaurus Bahasa Indonesia (2006) susunan Eko Endarmoko. “Baru” juga berarti “gres, hangat, segar, kontemporer, modern, modis, mutakhir, dan trendi”. Gerakan itu diselenggarakan demi memenuhi tugas-tugas MPR. Penamaan gerakan pasti sudah dipertimbangkan serius.

Kita tak sedang merepotkan diri memikirkan Ini Baru Indonesia. Kita cuma ingin mengambil istilah “baru”, bermaksud menata ingatan tentang sejarah Indonesia. Sutan Takdir Alisjahbana (STA) saat bekerja di Balai Poestaka bertugas mengurusi majalah Pandji Poestaka. STA mengadakan rubrik bernama “Menoedjoe Kesoesasteraan Baroe”, 1932. STA ingin mengubah corak dan arah kesusastraan Indonesia. Ambisi itu diwujudkan bersama Armijn Pane dan Amir Hamzah melalui pendirian majalah Poedjangga Baroe (1933). Slogan majalah itu mengajak pembaca bersepakat mengadakan pelbagai perubahan untuk kemajuan Indonesia. Slogan Poedjangga Baroe edisi 1935: “Pembawa semangat baroe dalam kesoesasteraan, seni, keboedajaan dan soal masjarakat oemoem.” Edisi 1936 mengalami perubahan: “Pembimbing semangat baroe jang dinamis oentoek membentoek keboedajaan persatoean Indonesia” (Ajip Rosidi, 1969). Pada masa 1930-an, istilah “baru” memberi gairah untuk misi-misi modernisasi, kemajuan, dan nasionalisme.

STA menerbitkan buku berjudul Poeisi Baroe (1946) yang berisi puisi-puisi gubahan puluhan pujangga. STA menjelaskan: “…saja sesoenggoehnja hendak memperlihatkan poeisi baroe sebagai pantjaran masjarakat baroe.” STA rajin mengajukan pelbagai gagasan agar Indonesia menuju kemajuan, meninggalkan zaman silam. Tugas besar ditanggung kaum terpelajar dan sastrawan. Penjelasan STA: “Mata mereka tertoedjoe kedepan. Bagi mereka perkataan toea, koeno, kolot mempoenjai arti jang djelek, sedangkan perkataan moeda, baroe, moderen mempoenjai kekoeatan jang menggembirakan.” Bermula dari memilih puisi, STA memastikan ada kemauan mewujudkan kesusastraan dan peradaban Indonesia bercap baru atau modern.

Istilah “baru” juga digunakan Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) dalam buku berjudul Angkatan Baru (1962). Buku itu berisi seruan perubahan di Minangkabau. HAMKA menghendaki kemajuan berlangsung di kalangan muda. HAMKA sadar risiko penerbitan buku: “Maka hikajat jang sekali ini, Angkatan Baru agaknja akan ada teman-teman saja jang akan merasa tersinggung atau terkeritik. Biarlah dia menjesali, karena hal ini diterangkan. Hal ini adalah suara hati, suara hatinja seluruh masjarakat di Minangkabau dalam zaman pantjaroba ini.” Buku itu diterbitkan saat Indonesia sedang mengalami revolusi. HAMKA pun menginginkan ada revolusi di Minangkabau, diselenggarakan kaum muda.

Penggunaan istilah “baru” perlahan politis. Kita bisa membuka lagi buku tebal berjudul Manusia dan Masjarakat Baru Indonesia (1960) terbitan Balai Pustaka. Buku itu berisi sejarah dan penjelasan tentang Pancasila, UUD 1945, Demokrasi Terpimpin, dan Konferensi Asia-Afrika. Prijono menerangkan: “Mudah-mudahan buku ini akan dapat mentjapai maksudnja, jaitu membentuk manusia Indonesia baru jang berdjiwa patriotik, mengerti dan mendukung Manifesto Politik Republik Indonesia beserta USDEK-nja, sehingga ia akan berusaha keras untuk membangun masjarakat baru, jang oleh Presiden Sukarno disebut masjarakat sosialis Indonesia….” Pada 1950-an dan 1960-an, baru cenderung obsesionis dan politis. Segala hal diharuskan baru demi pengesahan dan pembenaran program-program penguasa.

Pemaknaan politis dilakukan oleh Soeharto. Pidato Soeharto di Sidang Istimewa MPRS, 12 Maret 1967, berisi propaganda tentang Orde Baru. Soeharto berkata: “Djiwa besar Orde Baru sudah nampak lebih djelas dilaksanakan jaitu bahwa rasa tanggung djawab kita bersama telah merasa terpanggil sehingga kita bersama menundukkan kepentingan golongan sendiri dan diri sendiri kepada kepentingan jang lebih tinggi, jaitu kepentingan rakjat, bangsa dan negara.” Pidato bersejarah terjadi pada 13 Maret 1967. Soeharto ditunjuk sebagai Pengemban Ketetapan MPRS Nomor IX/MPRS/1967. Soeharto berkata: “Kami telah siap dan segera melaksanakan tugas baru jang diberikan oleh rakjat.” Soeharto menginginkan Orde Baru bisa mewujudkan kebahagiaan dan kemakmuran.

Keberakhiran Orde Baru (1998) tak mungkin dilanjutkan dengan gerakan politik bernama Orde Sangat Baru atau Orde Baru Lagi. Kita sudah jemu dan bermusuhan dengan istilah “baru” di jagat politik. Sekarang, MPR mengingatkan lagi arus pemaknaan “baru” melalui gerakan Ini Baru Indonesia. Kita tak usah repot membuka kamus-kamus atau buku-buku lawas. Kita berdoa saja agar istilah “baru” bukan cuma sensasi atau kerinduan kepada lakon politik masa lalu. Begitu.

* Pengelola Jagat Abjad Solo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s