Preman

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 25 Jul 2015

Tentu semua tahu preman berasal dari vrijman (Belanda) atau freeman (Inggris). Free ’bebas’. Man ’manusia’. Ada juga yang mengatakan bahwa preman dari pre-man, pra-manusia. Disebut demikian karena tampang dan kelakuan seperti primata sebelum manusia. Kasarnya, manusia macam monyet atau kera. Rasanya ini terlalu dibuat-buat dan tak perlu dipertimbangkan kecuali bukti kuat tertulis bisa ditunjukkan.

Kata freeman punya sejarah panjang di Eropa. Dalam masyarakat statik kerajaan Abad Pertengahan yang menentukan kelas sosial permanen setiap orang dari lahir sampai mati, terdapat kelompok yang tak pas betul masuk ke dalam hierarki rigid itu. Ada kelompok petani perdesaan yang memiliki tanah sendiri dan, karena itu, nasib mereka tak bergantung sepenuhnya pada kehendak penguasa dan bangsawan. Ada penduduk tertentu perkotaan, seperti pedagang dan tukang (ahli), yang penghidupan mereka juga tak ditentukan kemurahhatian kelas sosial di atas mereka. Pada pokoknya manusia bebas adalah istilah teknis yang dikenakan kepada mereka yang bukan dari golongan bangsawan atau penguasa, juga bukan dari golongan serf (hamba), buruh tani yang mengolah tanah milik para bangsawan atau penguasa dan, karena itu, nasib hidup mereka terikat kepada pemilik tanah. Sebagian dari mereka hidup relatif bebas, memiliki hak politik tertentu sebab diakui sebagai warga negeri yang merdeka.

Lama-kelamaan golongan bebas ini—yang sebelumnya dianggap setengah tingkat di atas para hamba sahaya—berhasil jadi kelompok kuat secara ekonomik. Mereka ini kemudian jadi landasan kemunculan kelas menengah di Eropa yang akhirnya menumbangkan golongan aristokratik (dengan atau tanpa pancung kepala) dan melahirkan sistem masyarakat demokratik, sistem yang sekarang jadi pegangan atau harapan rakyat—kalau bukan pemimpin—bangsa-bangsa dunia. Tentu ada juga yang tak suka para manusia merdeka itu. Di perkotaan terjadi perkembangan menarik. Kota atau benteng disebut borough, burgh, burg, atau semacam itu. Para penggila bola kaki tentu kenal Middlesbrough atau Hamburg. Nah, manusia bebas yang sukses di perkotaan disebut bourgeois. Kita tahu apa pendapat Karl Marx tentang mereka, para pemilik alat produksi itu.

Sampai sekarang borjuis adalah kata makian yang khas untuk orang yang lebih kaya dan makmur daripada si pemaki.

Di Nusantara sejak dulu tersua kelompok yang bukan bangsawan atau penguasa dan juga bukan rakyat jelata yang tunduk total kepada raja atau sultan absolut. Mereka para jagoan, orang kuat yang disegani dan ditakuti rakyat. Mereka mungkin merampok dan menjarah di kampung orang lain, tapi melindungi dan membela kampung sendiri dari perampokan dan penjarahan yang dilakukan jagoan kampung lain. Bandit sekaligus pahlawan.

Mereka kriminal terorganisasi yang melembagakan sistem ”perlindungan” yang memaksa penduduk membayar ”pajak perlindungan” dengan balasan keamanan dari ancaman para kriminal lain. Mereka bermanfaat bagi penguasa yang lebih mementingkan ketenangan negara daripada ketenangan rakyat, yang mengutamakan kelanggengan kekuasaan negara daripada keadilan dan kebebasan rakyat. Kesejajaran dalam hal kebebasan diri mereka (bukan kebebasan rakyat banyak) dengan kebebasan freemen Eropa tak sulit dilihat, maka kata preman melekat pada mereka. Namun, beda profesi dan keahlian membuat faktor kriminalitas jadi dominan pada kata preman.

Freeman punya keahlian dan kegiatan produktif yang menyumbang pada kehidupan masyarakat. Preman mengandalkan otot dan parang untuk mengambil produksi orang lain, jadi parasit masyarakat.

Sebagian organisasi preman ”resmi” bekerja sama dengan polisi dan tentara dalam ”memelihara” keamanan dan ketertiban di pasar, perkantoran, pertokoan, terminal, dan berbagai tempat umum. Di situ penjaga keamanan resmi negara yang digaji dari harta rakyat melakukan penyumberluaran dengan melimpahkan tanggung jawab itu ke tangan kelompok preman yang dibiayai (terpaksa) rakyat setempat pula. Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah, dalam suatu pertemuan akbar Pemuda Pancasila, memuji fungsi preman dalam masyarakat Indonesia. Karena sifat aslinya ialah melindungi kampung sendiri dari ancaman kampung lain, banyak dari organisasi preman memiliki ikatan internal kesukubangsaan.

Demikianlah terjadi pindah bahasa tukar benua alih makna. Dari vrijman ke preman. Dari Eropa ke Indonesia. Dari warga bebas merdeka ke jagoan bromocorah, pendekar urban sepupu begal, dan kriminal terorganisasi. Dari pejuang demokrasi, penjunjung kesetaraan dan kesederajatan manusia, pembela kemerdekaan universal ke penjaga dan pemelihara keamanan dan ketertiban bayaran, ditakuti rakyat, dibiarkan dan dikawani aparatus keamanan negara, dihormati seorang wakil presiden, serta dibutuhkan dan dihargai oleh partai politik yang ingin melaksanakan rencana-rencana ekstrademokratik.

* Penggelut Semantik

Iklan

One thought on “Preman

  1. Ping-balik: Neoliberalisme | Rubrik Bahasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s