Mencuri Angka

Suprianto Annaf*, Media Indonesia, 26 Jul 2015

Persepsi awal terhadap kata mencuri tentu tidak akan jauh dari makna Kamus Besar Bahasa Indonesia, yakni meng ambil milik orang lain tanpa izin atau dengan tidak sah, biasanya dengan sembunyi-sembunyi. Tanpa merujuk kamus pun, sebenarnya persepsi itu sudah sebangun dengan makna yang ada di pikiran kita. Namun, bagaimana halnya dengan judul tulisan ini: mencuri angka? Bukankah rangkaian kata itu juga sudah terlalu lumrah kita dengar? Biasanya di setiap pertandingan sengit, ditandai susul-menyusul perolehan poin, kedua kata itu disematkan dalam berita. Secara cermat bandingkan saja konteks mencuri dalam KBBI itu dengan mencuri angka di pertandingan. Dalam kamus, titik tekan pengertian dasar mencuri mengambil milik orang lain tanpa izin, tidak sah, dan sembunyi-sembunyi.Makna itu tentu berbeda jauh dan Makna itu tentu berbeda jauh dan tidak sepadan dengan mencuri angka di pertandingan.

Secara realitas, pertandingan tentu mencari kemenangan, satu sama lain saling mengalahkan, dan adu kemampuan. Pemain yang tangguh dalam segala hal tentu akan bisa memenangi pertandingan. Patut diapresiasi, kemenangan itu tentu bukan hadiah dari lawan, hanya bisa didapat dengan perjuangan. Untuk menambah satu angka saja, upaya yang dilakukan sudah luar biasa, bercucur keringat.

Pantaskah upaya sang pemain itu disamakan dengan mencuri angka? Diksi itu dirasa merendahkan. Upaya yang gigih dan luar biasa hanya diganjar dengan sebutan mencuri. Terlalu, bukan? Untuk sebuah kemenangan, justru mereka berjuang mati-matian. Apalagi, perjuangan itu, katakanlah, untuk martabat bangsa, tegaknya Merah Putih dan kumandang Indonesia Raya.

Selain itu, kata mencuri angka kehilangan logika. Pemain tidak sedang mengambil hak orang lain, tetapi hanya memperebutkan angka.Perebutan yang wajar dan sah. Dilakukan secara terbuka dan bahkan disaksikan banyak orang, jauh dari kesan sembunyi-sembunyi.

Pergeseran kata mencuri dalam KBBI untuk sebuah upaya menambah angka dalam suatu pertandingan dirasa mengaburkan makna. Kata mencuri yang sesungguhnya tidak beretika dan berasosiasi negatif dipaksa memiliki sensasi netral dan cenderung positif. Kesan mencuri dibiaskan ke dalam sesuatu yang baik, yakni ingin menstigma bahwa mencuri bukan hal tabu untuk dilakukan. Pemaknaan bahasa itu hendak dibelokkan ke kesan yang positif. Namun, justru makna negatif digunakan dalam kata mencuri angka.

Tak jarang pergeseran kata mencuri itu berkesan positif karena dirangkaikan dengan kata yang notabene memang bernilai rasa positif. Sebut saja gabungan kata mencuri salam (menjawab salam yang bukan ditujukan kepada kita), mencuri perhatian (misalnya, Stan itu mencuri perhatian pengunjung), dan mencuri hati (menggugah rasa ingin tahu). Sebelum dirangkaikan dengan kata mencuri, kata salam, perhatian, dan hati telah bermakna positif. Kesan-kesan itu dipaksakan berparadigmatik dengan mencuri angka. Padahal, jelas berbeda makna dan rasa.

Untuk sebuah apresiasi, eloknya diksi mencuri angka diganti dengan menambah poin/angka, memperkecil jarak skor, melewati skor lawan, atau berhasil melampaui skor. Kata-kata itu lebih berlogika dan tidak kehilangan daya konotasi positifnya. Hidup dan mengena.

* Tim Bahasa Media Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s