Sekali Lagi Soal ‘Meninggal’

Bagja Hidayat*, Majalah Tempo, 3 Agu 2015

Ilustrasi: Macleans

Pada Tempo edisi 13-20 Juli 2015, Zen Hae menganjurkan agar para penyusun kamus tak perlu menggubris usul saya supaya mengeluarkan lema “meninggal” dari kata “tinggal”. Sebab, sebagai arti mati, meninggal jelas berbeda makna dengan tinggal. Meninggal mengacu pada roh yang pergi, sementara tinggal bermakna menetap.

Ada dua pijakan yang dipakai Zen untuk menyebut usul saya lemah dan kurang teliti. Pertama, cetakan ke-10 Kamus Umum Bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwadarminta tahun 1987 di halaman 1076, yang menyebut “meninggal” sebagai ragam percakapan dari “meninggalkan”, yang tentu saja berasal dari “tinggal”. Rujukan ini sebenarnya tak perlu karena malah memperkuat paparan saya di kolom Tempo edisi 2-8 Maret 2015 yang ditanggapi Zen Hae.

Objek kolom saya mempersoalkan kamus-kamus yang mencantumkan lema meninggal diturunkan dari kata tinggal. Justru karena kamus mencantumkan lema meninggal sebagai turunan tinggal sebagai arti mati, saya usul memisahkan kedua kata ini. Maka memakai kamus sebagai sandaran mematahkan argumen yang sedang mengkritik kamus seperti kecipak menggantang asap.

Rujukan kedua yang dipakai Zen untuk menyebut usul saya kurang teliti adalah sebuah kitab tua dari tahun 1865 berjudul Syair Kiamat, yang tak jelas pengarangnya. Ia kutip dua bait: Tatkala sudah nyawah melayang/ Tinggallah sekalian orang dan dayang/ Datanglah fakih yang kasih sayang/ Memandikan mayat lalu disembahyang// Tatkala nyawah sudahlah terbang/ Meninggalkan dunia dengannya bimbang/ Datanglah sekalian adik dan abang/ Dipikulnya mayat dibawa ke lubang.

Kutipan itu, menurut Zen, memuat dua contoh sekaligus untuk menyoal kata “meninggal”. “Pertama, bentukan meninggalkan dunia yang masih lengkap, tidak dikurangi salah satu unsur imbuhannya (-kan), dengan makna yang sudah cukup jelas. Sedangkan di baris sebelumnya (disembahyang), kita mendapatkan contoh bahwa kebiasaan menghilangkan salah satu unsur imbuhan adalah hal yang wajar dalam bahasa sastra. Bentuk lengkapnya seharusnya disembahyangkan, versi negatif dari menyembahyangkan. Kenapa ini terjadi? Karena si penggubah syair (yang entah siapa) ingin mengejar persamaan bunyi akhir -ang pada kata disembahyang, sejajar dengan -ang dalam melayang, dayang, sayang. Jika bentuk lengkapnya (disembahyangkan) dipertahankan, prinsip rima akhir tidak tercapai.”

Benar belaka. Syair dan puisi adalah sebuah ranah yang tak terjangkau kaidah bahasa. Ia terbuka luas untuk tafsir dan main-main. Jika sebuah puisi bisa dinikmati, tak perlulah ia susah payah dipahami. Chairil Anwar menulis, “Memberat-mencekung punda. Sampai binasa segala. Belum apa-apa. Udara bertuba” (“Hampa”). Apa arti punda? Para penafsirnya menyangka itu kependekan dari “pundak”.

Dalam puisi, kritikus sastra seperti Zen memaklumi pemenggalan-pemenggalan kata dan akhiran. Untuk apa? “Mengejar persamaan bunyi akhir” alias rima sehingga bahasanya menjadi indah dan berirama. Demi irama itu, jika mengacu pada contoh Zen, penyair boleh mengubah-ubah kata dan struktur bahasa. Dalam dunia puisi, cara seperti itu mungkin sah.

Karena itu, puisi tak bisa dijadikan pijakan untuk mempersoalkan arti kata yang spesifik, karena syair menampung segala makna, ambiguitas, dan menghindari makna tunggal.

Makna tunggal hanya milik prosa. Seperti itulah usul saya. Ketika meninggal diturunkan dari tinggal yang bermakna kontradiktif, kata dalam prosa akan kehilangan makna yang ajek.

Barangkali karena Zen seorang yang mentahbiskan diri sebagai penyair sehingga perlu memungut argumennya dari syair. Para penyair, kita tahu, bertugas “membebaskan kata dari makna”, “membebaskan kata dari beban pengertian”. Tugas ini bertolak belakang dengan tugas wartawan, seperti saya, yang bergumul dengan bahasa untuk “mengembalikan kata kepada makna”.

Apa jadinya jika seorang wartawan bertindak sebagai penyair ketika menulis berita? Fakta akan kacau karena multitafsir dan tak bisa diadili di Dewan Pers. Padahal kerja wartawan bisa diverifikasi karena terikat prosedur dan etika. Apakah ada mahkamah puisi? Mungkin ada, jika hakimnya berpikir bahwa mempidanakan penyair seperti Zen bukan pekerjaan sia-sia.

Karena itu, saya usul agar lema meninggal dipisahkan dari tinggal sebagai arti mati. Kamus kita punya yurisprudensinya: meriang tak berarti “menjadi riang” karena ini kata dasar yang tak dibentuk dari “me + riang” dan ia bukan turunan dari kata dasar riang yang berarti gembira.

* Wartawan Tempo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s