Lokalisasi

Rainy M.P. Hutabarat*, KOMPAS, 8 Agu 2015

Kata lokalisasi kerap dihubungkan dengan seks komersial. Hanya dengan menyebut lokalisasi, orang langsung mengaitkannya dengan tempat jual-beli seks walau secara leksikal berbeda arti. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi IV) Pusat Bahasa, lokalisasi berarti pembatasan pada suatu tempat atau lingkungan.

Sebagai kompleks jual-beli seks, lokalisasi dipandang sepadan dengan tempat maksiat, dan seks komersial setara dengan perbuatan maksiat. Lokalisasi juga dituduh sebagai penyebab perdagangan perempuan dan anak-anak. Umumnya, moralitas dijadikan alasan utama penolakan atau penutupan lokalisasi.

Namun, kecaman keras terhadap seks komersial diikuti penutupan lokalisasinya tak berhasil menyurutkan transaksi. Transaksi kini tak memerlukan ruang yang luas, cukup berbekal telepon seluler dan gawai. Kompleks Dolly di Surabaya ditutup, transaksi meluap ke dunia maya. Muncullah ratusan Dolly-E. Kamar apartemen, vila, bungalo, dan hotel bisa dijadikan tempat pelampiasan syahwat, apalagi seks komersial juga tak selalu berlatar kemiskinan ekonomi.

Tulisan ini tak ingin mengupas argumen pro-kontra lokalisasi. Yang hendak disorot adalah sebutan pekerja seks komersial (PSK) dan implikasi yang muncul.

Sebutan ini sudah lama dipakai di media massa menggantikan wanita tuna susila (WTS), perempuan jalang, pelacur, lonte, perek, sundal, dan kupu-kupu malam. Semasa remaja saya sering mendengar sebutan hostes dan perempuan penghibur sebagai padanan pelacur. Kata perek tak terdaftar dalam KBBI, tetapi kita rekam kata-kata sepadan yang jarang digunakan: jobang, cabo, dan munci. Kamus gaul menambah istilah seprofesi tetapi berbeda kelompok usia dan modus operandi: ayam kampus, cabe-cabean, dan jablay.

Dalam percakapan formal di ruang publik sekarang orang sungkan menyebut pelacur, lonte, sundal, perek, WTS, atau kupu-kupu malam. Kosakata ini dipandang kasar dan menghina. Singkatan PSK dianggap santun dan tak berbias, sebagaimana istilah lokalisasi untuk kompleks jual-beli seks. Meski begitu, beredarnya singkatan ini tak serta-merta menyetujui jual-beli seks.

Harus diakui, feminisme berjasa mengangkat persoalan bahasa dan jender. WTS, perempuan jalang, pelacur, lonte, perek, sundal, dan kupu-kupu malam dianggap kosakata yang melecehkan perempuan secara sepihak dan menjadikannya sebagai korban. KBBI, juga masyarakat luas, mendefinisikan pelacur sebagai wanita tunasusila atau perempuan yang melacur. Sundal itu pasti perempuan, bukan laki-laki. Kitab suci ikut mengukuhkannya. Padahal, butuh dua orang untuk menari tango. Maka, singkatan PSK digunakan untuk menghindari bias.

Ditilik secara linguistik, singkatan PSK mengindikasikan penerimaan terhadap jual-beli seks dan pekerja seks. PSK adalah sebuah profesi seperti halnya pegawai. Dalam hal ini tubuh seseorang, perempuan atau laki-laki, diakui sebagai otonomi pemiliknya. Logis apabila lokalisasi disediakan sebagaimana para pedagang lain juga membutuhkan kompleks jual-beli.

Kata serapan prostitusi–prostitution berasal dari bahasa Latin pro-stituere–yang merupakan padanan pelacuran cenderung dipilih sebagai penghalusan. Media massa menyebut bisnis esek-esek, istilah gaul untuk pelacuran yang memberi rasa ringan dan jenaka. Kendati praktik pelacuran sulit diterima, toh orang lebih memilih kata prostitusi.

Kata pelacur sendiri tak digunakan semata-mata untuk urusan seks. Kita mengenal pelacuran intelektual untuk kaum terpelajar yang melacurkan integritas dirinya. Agama-agama tertentu dulu mengenal pelacuran suci. Aktor William Holden mengatakan, “I am a whore. All actors are whores. We sell our bodies to the highest bidder.”

* Cerpenis, Pekerja Media

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s