Merdika, Merdeheka, Merdeka

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 10 Agu 2015

Ilustrasi: Michael S. Nugraha

Buku itu berukuran besar, berjudul Merdeka. Di atas judul, ada gambar tangan mengepal dalam kobaran api berwarna merah. Di sisi belakang, terdapat peta Indonesia dalam lingkaran. Buku itu diterbitkan surat kabar Merdeka, Jakarta. Buku disajikan ke pembaca sebagai “Nomor Peringatan 6 Boelan Repoeblik Indonesia”. Barangkali peringatan terasa dini, tak bersabar menanti sampai 12 bulan alias satu tahun. Buku itu mungkin sengaja diterbitkan agar api kemerdekaan terus membara.

Buku tersebut memuat tiga sambutan penting dari tiga tokoh besar: Sukarno, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir. Sambutan dari Sukarno berjudul “Enam Boelan Merdeka”. Tulisan itu dibuat pada 17 Februari 1946. Di akhir sambutan dua halaman, Sukarno mengingatkan: “Enam boelan kita telah merdeka. Sesoedah enam abad, masih merdeka! Sekali merdeka, tetap merdeka!” Sambutan sehalaman dari Hatta berjudul “Enam Boelan Merdeka”. Di alinea ketiga, Hatta menjelaskan: “Sekali merdeka, tetap merdeka adalah sembojan seloeroeh ra’jat Indonesia jang tak maoe didjadjah lagi.” Sjahrir memberi tulisan untuk sambutan berjudul “Melakoekan Revoloesi dengan Pengertian”. Tulisannya diawali dan diakhiri dengan pekik “Merdeka”.

Penggunaan istilah “merdeka” dalam tiga tulisan membuktikan sejarah sedang bergerak. Para pemimpin ingin ada ikhtiar besar menjaga api kemerdekaan. Hari demi hari berganti. Indonesia harus tetap merdeka meski terus mendapat ancaman dan serangan hebat dari pihak imperialisme. Sejarah memang belum berjalan jauh. Hatta mengingatkan: “Enam boelan beloem berarti apa-apa dalam sedjarah soeatoe bangsa, jang biasanja dibilang dengan poeloehan tahoen.” Hatta tak memamerkan pesimisme atau ironi. Sjahrir justru membuat penjelasan berbeda: “Enam boelan jang dibelakang kita ini, oentoek sedjarah kita lebih besar artinja agaknja dari pada enam abad jang mendahoeloeinja.”

Kita tak sedang membandingkan pemikiran tiga pemimpin ampuh. Kita mendingan mengurusi kegandrungan para pemimpin dan jurnalis menggunakan istilah “merdeka”, sejak peristiwa bersejarah 17 Agustus 1945. Penerbitan buku besar itu diadakan surat kabar Merdeka berkaitan dengan misi politik dan kerja jurnalistik. Pemimpin Merdeka adalah B.M. Diah. Penggunaan judul Merdeka dimaksudkan untuk menguatkan dan membesarkan makna kemerdekaan. Surat kabar itu didirikan pada 1 Oktober 1945. Diah (1992) mengaku bahwa motif menjuduli surat kabar sesuai dengan situasi politik dan bersepakat dengan pengenalan salam atau pekik merdeka. Sejak 1 September 1945, Sukarno mengeluarkan perintah agar disosialisasi pekik nasional: “Merdeka”. Sukarno juga memberi anjuran gerak raga saat mengucap pekik: kelima jari tangan kanan diangkat ke dekat telinga.

Apakah itu merdeka? Bratanata dalam artikel berjudul “Merdika” di surat kabar Tjahaja edisi 3 Mei 1945 menjelaskan: “Saja goenakan kata merdika, tidak seperti biasanja merdeka, sekedar oentoek pokok mengoepas, apakah sesoenggoehnja benar bangsa Indonesia mempoenjai djiwa dan rasa merdika dan telah mengalami merdika di masa jang lampaoe sebeloem didjadjah oleh bangsa-bangsa Barat.” Kata “merdeka” berasal dari Sanskerta: “mahardika”. Arti “mahardika” adalah “kaja raja, koeat, pintar, loehoer, bidjaksana”. Pada 1930-an dan 1940-an, orang-orang memang biasa menulis dan mengucap “merdeka” ketimbang “merdika”. Penulisan ejaan dalam teks Proklamasi adalah “kemerdekaan”, bukan “kemerdikaan”.

Pada 1943, E. St. Harahap dalam Kamoes Indonesia Ketjik menulis “merdeheka” berarti “bebas, tiada diperintahi, tiada dibawah koeasa orang lain”. Pengertian ini berbeda dengan penjelasan dalam Kamoes Indonesia (1942). “Merdeheka” adalah “dilepaskan dari pada perhambaan”. Harahap memberi penjelasan tambahan: “Asalnja kata merdeka ialah orang saleh, pandai agama, diketahoeinja jang akan terdjadi sesoedah mati, sebab itoe ia mendapat oentoeng kelebihan: merdeka dari pada perhambaan, tiada terikat kepada sesoeatoe.” Penulisan dalam dua kamus itu berbeda dari kebiasaan para pemimpin, wartawan, dan sastrawan saat memilih menulis “merdeka”, bukan “merdeheka”.

Sukarno dan Hatta termasuk pemuka dalam penggunaan istilah “merdeka”, sejak 1920-an. Istilah itu tercantum dalam tulisan-tulisan dan diucapkan saat memberi pidato-pidato politik. Tahun demi tahun berlalu. Sukarno dianggap paling sering menggunakan istilah “merdeka”. Pada peringatan setahun kemerdekaan, 17 Agustus 1946, Sukarno berpidato dengan judul impresif: “Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!” Sukarno berseru: “Asal djiwa kita tetap djiwa merdeka… maka Repoeblik tidak akan tenggelam, tapi akan tetap kekal dan abadi.” Istilah “merdeka” semakin digandrungi dan moncer dari masa ke masa. Sejarah Indonesia pun sering ditulis bergelimang istilah “merdeka”. Begitu.

* Pengelola Jagat Abjad Solo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s