Pelajaran Bahasa

P Hasudungan Sirait*, KOMPAS, 15 Agu 2015

Anak yang lahir di negeri kita kian banyak saja yang menjadikan bahasa Inggris bahasa pertamanya. Profesor Bambang Kaswanti Purwo menanggapi topik yang sedang menjadi perbincangan di dunia maya itu di Kompas edisi 27 Juli 2015. Di penutup artikelnya, ia menggugah pembaca lewat pertanyaan: keunikan ini patut dibanggakan atau diratapi?

Sungguh sebuah ironi bahwa bahasa Indonesia yang semakin mendapat tempat di mancanegara justru kehilangan pamor di negeri sendiri. Jadi, sepatutnyalah diratapi. Daya pesona bahasa persatuan kita yang tergerus di teritori asal mengisyaratkan setidaknya dua hal sekaligus: menipisnya nasionalisme kita serta amburadulnya pengajaran bahasa nasional.

Sekolah kita umumnya gagal menyemaikan bahasa Indonesia. Pengajarannya tak seksi di semua jenjang sehingga sesi bahasa Indonesia cenderung membosankan.

Menghafal, bukan menalar, itulah yang dilakukan siswa saat pelajaran bahasa Indonesia.

Seorang anak kelas IV, misalnya, menggambarkan suasana kelas saat pelajaran bahasa Indonesia di sekolahnya. Guru mendikte saja tatkala menerangkan titik-koma [tanda baca]. Seperti hendak membuang waktu saat membahas yang lain pengajar itu selalu meminta siswa menyalin soal apa saja dari buku paket ke buku harian. Tulisan sambung harus dipakai. Jawaban soal ditulis dengan aksara serupa. Bila tulisan tak elok, nilai siswa jeblok. Lantas, teks cerita yang di buku harus dihafalkan. Siswa kemudian mengisahkan ulang cerita itu sepersis mungkin di depan kelas. Jika terbata-bata, mereka harus kembali ke bangku untuk menghafal. Begitu seterusnya sampai tuturannya lancar. Kalau tak kunjung beres? Seperti di dunia tinju, loncenglah yang akan menyelamatkan. Waktu merapal puisi pun aturan mainnya sama. Bila masa ujian tiba, kepala siswa kontan puyeng akibat soal yang seabrek. Rupanya prinsip ”mutu, bukan jumlah” belum menjadi pegangan pengajar.

Materi ajarnya sendiri di SD pun sudah berat. Di kelas IV, umpamanya, sudah ada pokok bahasan tentang kalimat, menggabungkan dua kalimat tunggal, melengkapi kalimat rumpang (ompong) dengan kata hubung, serta menyusun kalimat menjadi paragraf yang padu. Kuasakah kanak-kanak itu mencernanya? Tentu tidak. Potongan-potongan definisi bisa mereka ingat, sedangkan esensi tak kunjung mereka tangkap. Guru juga belum tentu menguasai hal-ihwal kalimat-paragraf dan unsur sintaksis yang lebih kecil: kata, frasa, dan klausa. Menurut pengamatan saya, pengalimatan dan pengalineaan dalam buku ajar yang mereka gunakan pun belum beres.

Bukan anak-anak SD saja yang awam soal pengalimatan dan pengalineaan, sarjana kita pun banyak yang demikian.

Saya tahu persis itu karena, selain menjadi editor lepas, saya mengajar di kelas menulis tak kurang dari 20 tahun. Peserta kelas saya umumnya sarjana. Bila tulisan mereka rancu, penyebabnya biasanya adalah kurangnya unsur kalimat (terutama subyek atau predikat) dan/atau bertumpuknya gagasan pokok dalam sebuah paragraf. Kemungkinan lain adalah logikanya bengkok.

Di SD, SMP, dan SMA-SMK, bahasa Indonesia bukan pelajaran favorit banyak siswa sebab pengajarannya monoton, penekanannya cenderung pada tata bahasa sehingga siswa merasa berhadapan dengan ilmu pasti yang sarat rumus. Masalah utama dalam pengajaran bahasa Indonesia di negeri kita selama ini adalah kurangnya pendidik bermutu. Menguasai materi, kreatif, dan kaya imajinasi, itulah yang saya maksudkan dengan bermutu. Bagaimanapun pengajar yang cerdas dan kreatif merupakan syarat mahapenting dalam kebergairahan sebuah kelas apa pun itu. Mereka akan selalu memiliki siasat menyita perhatian hadirin. Saya kerap melihat aksi pengajar semacam itu di sebuah kursus bahasa Inggris terkemuka di negeri kita.

Di tempat les yang sebagian pengajarnya ekspatriat tersebut, materinya serba menyenangkan bila siswanya masih kelas IV SD ke bawah. Di atas kelas IV SD barulah bahan ajarnya disesuaikan dengan pelajaran di sekolah. Materi untuk orang dewasa dicocokkan dengan kebutuhan mereka. Apa pun jenis kelasnya, konsep menyenangkan selalu dirasukkan di sana. Saya kerap mencermati kelas kanak-kanak. Selama di kelas, peserta les wajib menggunakan English. Cara belajar mereka interaktif. Gurunya terkadang bisa berperilaku gila-gilaan bila bermain peran.

Mungkinkah konsep pengajaran yang hidup seperti ini diterapkan di sekolah-sekolah kita? Sangat mungkin. Kata kuncinya: kreativitas.

Biaya adalah soal kesekian sebab sarananya bisa disetarakan dengan kemampuan sekolah masing-masing. Kalau siasat seperti ini dijalankan, saya yakin pelajaran bahasa Indonesia bakal menggairahkan sehingga kaum muda kita tak perlu lagi mencampakkannya laksana gombal rombeng. Prof Bambang Kaswanti Purwo dan yang lain pun tak perlu lama-lama galau.

* Ketua Dewan Redaksi Naskahkita.com

One thought on “Pelajaran Bahasa

  1. Sangat setuju dengan isi tulisan di atas. Apa yang bisa kita buat untuk mengajarkan bahasa Indonesia dengan kreatifitas?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s