Akar Pun Jadi

Sori Siregar*, KOMPAS, 22 Agu 2015

Dua peribahasa Indonesia hampir bersamaan bunyinya. Yang pertama ”tiada rotan, akar pun jadi” yang bermakna, jika tak ada yang baik, yang jelek pun berguna. Yang kedua, ”tiada rotan, akar pun berguna” yang berarti bahwa apabila tak ada yang lebih baik, yang kurang baik pun boleh. Saya membaca ini dalam Kamus 5000 Peribahasa Indonesia yang ditulis Heroe Kasida Brataatmadja keluaran Penerbit Kanisius, Yogyakarta (1985).

Perbedaan kedua peribahasa tersebut hanyalah pada kata jadi dan berguna. Maknanya sebenarnya sama. Dari peribahasa yang menggunakan kata rotan, tampaknya kedua peribahasa inilah yang paling populer. Karena populer, rasanya tak mungkin adaorang yang salah menuliskannya.

Karena itu, ketika harian ini menulis peribahasa itu dengan pengertian sebaliknya, semula saya terkejut. Namun, hanya sebentar. Setelah itu saya berpikir bahwa ini adalah pelesetan atau lucu-lucuan. Mang Usil yang menulis di Rubrik Pojok (Kompas, 22 April 2015) mengatakan ”tiada akar, rotan pun berguna”. Nah, artinya berubah menjadi ”jika tak ada yang jelek, yang baik pun jadi”. Saya tidak yakin maksudnya seperti itu. Mang Usil menulis demikian untuk mengomentari pendapat Komisi III DPR yang menilai Budi Gunawan layak jadi wakil kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Peribahasa yang digunakan Mang Usil itu mengingatkan saya kepada kalimat yang berbunyi ”kalau bisa dibuat sulit, mengapa harus dipermudah”. Seharusnya kalimat ini ditulis, ”kalau bisa dibuat mudah, mengapa harus dipersulit”. Ini juga dapat dianggap pelesetan karena masyarakat muak menyaksikan perilaku para pejabat yang menyalahgunakan kekuasaannya.

Pelesetan memang sering membuat hati senang. Bahkan, dalam puisi pun pelesetan dapat dilakukan.

Seingat saya penyair Taufiq Ismail dalam larik-larik puisinya pernah menulis ”maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan kepanjangan”. Seorang pengarang lainnya dengan enak mengatakan ”berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu, bersakit-sakit selamanya”.

Apabila dihimpun, peribahasa yang dipelesetkan ini banyak sekali. Misalnya, ”hidup segan, mati tak hendak” dipelesetkan menjadi ”hidup segan, mati pun mau”. ”Ilmu lebih baik daripada harta” menjadi ”harta lebih baik daripada ilmu”. ”Biar lambat asal selamat” sudah lama berganti menjadi ”boleh cepat asal selamat”. ”Raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah” dianggap tidak sesuai dengan kemajuan zaman karena itu dibuatlah ”raja adil raja disembah, raja lalim juga disembah”. Di negeri ini kan begitu.

Pelesetan di atas tampaknya ada kaitannya dengan realitas sosial di sekitar kita. Yang menyusul ini demikian juga halnya. Komponis Cornel Simanjuntak tentu tidak main-main ketika menulis lirik lagu ”Maju Tak Gentar”. Namun, orang-orang yang gemar membuat pelesetan dengan seenaknya mengubah lirik ”maju tak gentar membela yang benar” menjadi ”maju tak gentar membela yang bayar”.

Pepatah yang berbunyi ”sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya”, menurut seorang aktivis layak diganti dengan ”berkali-kali lancung ke ujian, tetap saja masih dipercaya”. Pelesetor (kalau saya boleh menggunakan kata ini) yang gemar bercanda juga tak kehilangan rasa humor ketika mengatakan ”bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi”.

Pepatah atau peribahasa diwariskan oleh para pendahulu kita sebagai peringatan tak resmi, yang perlu mendapat perhatian.

Karena itu, jika kita mendengar orang berbicara terlalu banyak, sedangkan pengetahuannya setempurung, kita akan segera diingatkan oleh peribahasa ”tong kosong nyaring bunyinya”. Pelesetan yang banyak dilakukan terhadap pepatah sama sekali tidak bermaksud merendahkan, tetapi semata-mata dimaksudkan sebagai gurauan segar. Mang Usil juga mungkin bermaksud seperti itu.

* Cerpenis

Iklan

2 thoughts on “Akar Pun Jadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s