Aman dan Merdeka

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 29 Agu 2015

Aman dan terkendali, begitulah sudah berpuluh tahun laporan paling ideal dari lapangan yang bisa disampaikan seorang komandan atau pejabat daerah kepada atasan di Jakarta. Aman tentu mahapenting bukan hanya demi keamanan itu sendiri, melainkan demi segala sesuatu yang hanya bisa hidup dan berkembang di atas keamanan yang langgeng. Suatu negeri yang gagal memelihara keamanan umum, misalnya, tak akan berhasil dalam hal lain apa pun. Hanya orang kuat bersenjata dan kelompok preman yang hidup subur makmur di tengah darah dan maut. Pun cita-cita negeri demokratis dewasa—kebebasan, ketenteraman, kesejahteraan, dst—hanya akan terwujud bila keamanan jangka panjang terjamin. Mengapa terkendali? Apa yang harus dikendalikan? Bagaimana mengendalikan? Pemahaman tentang makna ideal terkendali telah dan akan menentukan sistem kekuasaan publik yang berlaku di negeri ini.

Kendali tentu sama dengan kekang. Kalau Anda tak percaya, bukalah kamus atau tesaurus.

Tak punya kamus? Hari gini? Jangan bikin malu diri sendiri. Pergilah beli!

Pilih yang paling tebal, bagus dijadikan latar selfie untuk pamer intelek. Oh, Anda pilih percaya saja? Bagus belaka. Nah, sekarang coba bayangkan laporan sang komandan berbunyi: ”Situasi di Tolikara sekarang aman dan terkekang.” Aha! Roda pikiran Anda mulai terdengar berderik-derik, bukan?

Dalam pemakaian sehari-hari kendali (Jawa) cenderung berpamor positif mengedepankan sisi keteraturan, ketertiban, dan tanggung jawab. Orang Indonesia yang senang kebaikan pun rajin memakainya untuk segala urusan sapi, kuda, mobil, motor, RT, RW, dst dsb dan sampai juga ke urusan perusahaan, keluarga, dan kenegaraan tingkat presiden. Kekang terbatas pemakaiannya karena lebih mendekati breidel atau berangus, menekankan unsur pengaturan, pemaksaan, dan ketundukan. Breidel, walaupun aslinya dalam Belanda juga berarti kekang, di Nusantara tertimpa sial mendapatkan makna khas dan spesifik pemberangusan koran dan majalah oleh penguasa politik paranoid alergi kritik.

Kendali, kekang, breidel, atur, kontrol, dan semacamnya menjelaskan implementasi kekuasaan dalam ukuran tertentu, bagaimana kekuasaan itu dimanfaatkan dan apa hasilnya. Salah satu ciri kekuasaan yang baik adalah rasa percaya dan sikap terima orang yang dikuasai terhadap pihak yang menguasai. Kendali menimbulkan rasa aman, nyaman, beres, damai, teratur, terjamin. Kekang, apalagi breidel, walaupun artinya sama dengan kendali, menerbitkan rasa curiga, takut, waswas, tegang, kacau, gelisah. Kalau Anda penguasa, dengan atau tanpa kamus Anda tahu harus sering-sering pilih pakai kata apa.

Dengan demikianlah penguasa (mencoba) meninabobokan rakyat. Walaupun berlapis gula, kendali tetaplah kekang.

Di bawah rezim otoriter seperti Orde Baru, kendali adalah kata kunci yang menjelaskan kekuasaan negara atas rakyat. Di dalam sistem demokratis Reformasi, kendali seharusnya adalah kata kunci yang menggambarkan kedaulatan rakyat atas negara. Dengan kata lain, bukan lagi ”negara mengendalikan keadaan” (eufemisme untuk ”negara menjajah rakyat”), melainkan rakyat mengendalikan pemerintahan—melalui pemisahan kekuasaan (trias politica), berbagai instrumen hak-hak asasi manusia, undang-undang dan sistem peradilan yang adil, media massa yang terbuka dan bebas, pemilihan umum yang dikelola lembaga nonpartisan jujur, dst.

Begitulah ciri rakyat merdeka sejati. Bukan dikendalikan, melainkan mengendalikan.

Merdeka, seruan utama bulan ini, sudah semua orang tahu berasal dari Mardijker (Belanda), dari Mardica (Portugis), dari Maharddhika (Sanskerta). Adalah VOC yang membawa para Mardijker itu, bekas budak Portugal dari India, Afrika, dan Filipina, ke Nusantara. Istilah itu kemudian dikenakan kepada golongan rakyat yang memiliki kedudukan hukum tertentu dalam strata sosial Hindia Belanda. Mereka berbudaya setengah Portugis dan sebagian besar Kristen. Namun, pakaian, sikap, dan kelakuan mereka, aduh, liar dan bebas seenak jidat sonder sopan-santun. Mungkin keliaran itu, sebagai simbol kemerdekaan yang menjengkelkan orang-orang beradab Eropa, turut membuatnya popular. Merdeka sebagai kebebasan dari perbudakan dan penjajahan pun jadi pekik perjuangan awal abad ke-20 dan jargon sosial politik masa kini.

Maharddhika sendiri berarti orang besar atau orang kuat. Orang merdeka jangan mau jadi jongos penguasa. Rakyat negeri demokratis hasil perjuangan darah dan nyawa Reformasi menuntut kehidupan publik yang aman dan merdeka. Adapun kendali, itu untuk mengekang para penguasa supaya jadi pelayan kita semua.

* Penggumul Makna Kata

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s