Makna yang Merewang

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 5 Sep 2015

Tidak pernah ada dalam sejarah, sebuah kamus dapat selesai paripurna dalam sekali pengerjaan. Kamus selamanya berkejaran dengan bahasa yang dinamis. Kata sebagai bahan bakunya hampir niscaya bukan saja terus bertambah, tetapi juga berubah, baik dari segi bentuk maupun isi atau makna. Begitulah yang selalu kita saksikan. Sementara kata terus bergerak, terkadang dengan ringan dan gesit dalam konteks berbeda-beda, kamus yang berpretensi merekam kesemua itu mesti berhenti pada menit ia siap terbit.

Asumsi-asumsi itulah yang ada di balik penyusunan Tesaurus Bahasa Indonesia (TBI) yang dengan itu berusaha tetap berpegang pada asas ramah pengguna. Kata yang menjadi lema di sana tak jarang adalah kata sebagaimana ia hidup, lisan maupun tertulis, bukan melulu sebagaimana ia mesti diperlakukan menurut norma yang dijunjung bersama. Tepat di titik ini TBI sadar berada persis di tengah tegangan atau tarik-menarik yang niscaya antara kaidah dan praktik berbahasa, antara hukum dan kenyataan hidup. Ini menjelaskan mengapa TBI memilih kucel, bukan kucal, lempeng, bukan lempang. Dan nalar ini jugalah yang mendorong Tesamoko, TBI edisi revisi, membalikkan kumal ke kumel dan dari sundal ke sundel. Lain dari itu, Tesamoko menambahkan sejumlah kata lain, baru, yang kental watak lisannya, seperti ciamik, gaul, ngedumel, dan ngelunjak.

Bersama TBI, Tesamoko—sembari memperbaiki banyak hal pada TBI, seperti menambahkan antonim, menertibkan korespondensi, yaitu memenuhi prinsip resiprokal (bila memprediksi tercatat bersinonim antara lain dengan membaca, maka di sublema membaca, memprediksi mestilah tercatat pula sebagai bagian dari sinonimnya), atau mengoreksi salah tik—sedapatnya berusaha memotret evolusi makna kata dalam bahasa Indonesia. Mungkin salah tik ini soal kecil. Ranah tercetak dalam TBI sebagai salah satu sinonim dari kata senyap dan sepi. Ini tentu saja sumbang yang fatal sebab mestinya ranap. Sekadar ilustrasi betapa edisi pertama rada sembrono, tetapi toh dicomot begitu saja secara brutal oleh tesaurus lain dalam bahasa Indonesia yang pernah ada.

Anton M Moeliono sewaktu mengenalkan kembali kata canggih sekian tahun silam, misalnya, saya pikir punya maksud memadankannya dengan, atau menjadikannya sebagai pengganti, satu kata dari bahasa Inggris, sophisticated. Sayangnya, kata yang sangat populer hingga kini itu tidak mendapat perlakuan semestinya dari kamus resmi bahasa Indonesia. KBBI edisi terakhir (IV, 2008) masih menyalin utuh pemerian edisi sebelumnya (III, 2001), yaitu dengan menaruh pengertian-pengertian sophisticated tidak di urutan pertama. Sementara dalam Tesamoko, sedikit memperbaiki TBI, saya menawarkan urut-urutan polisemi berbeda, kira-kira lebih mendekati pemikiran sekaligus lebih meladeni apa yang (saya kira) dimaui Anton Moeliono tadi seperti ini:

canggih a sin
1 a berbelit-belit, elusif, kompleks, pelik, rumit, terik (ki) b Tek tinggi
2 banyak/ringan mulut, bawel, beleter, belu-belai, calak, celomes, celopar (ark), cerewet, ceriwis, gelatak, menyenyeh, nyinyir, rewel
3 iseng, jail (cak), panjang lidah, resek (cak), usil
ant a biasa b Tek sederhana

Tesamoko pun memutus pertalian makna ajaib dan aneh dengan kata heran, serta menanggalkan ambisi, aspirasi, dorongan, hasrat, keinginan, kemauan dari gugus sinonim pretensi. (Lebih jauh lihat ”Pesona Bicara Canggih”, Kompas, 10 Januari 2015, dan ”Heran”, Kompas, 6 Juni 2015). Dengan ini mudah- mudahan menjadi lebih terang maksud klausa ”menangkap dan memerikan evolusi makna kata dalam bahasa Indonesia” tadi.

Akhirnya, tak ada maksud Tesamoko menafikan kaidah. Kata bentukan penglihatan, misalnya, diperbaiki menjadi pelihatan demi sesuai dengan aturan ejaan bahasa Indonesia. Dalam kalimat pendek, Tesamoko membarui dirinya bukan semata-mata dengan ambisi menjadi lengkap, menjejalkan sebanyak mungkin kata ”baru” (tiada yang baru di bawah matahari). Itu sebabnya, tak pernah ada dalam sejarah sebuah kamus dapat selesai paripurna dalam sekali pengerjaan.

* Munsyi, Penulis Tesaurus Bahasa Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s