“Outbound”

F. Rahardi*, KOMPAS, 12 Sep 2015

Sumber gambar: Outbound Bogor Place

Diam-diam kata outbound—kadang-kadang ditulis outbond—telah masuk ke ranah publik. Di Taman Impian Jaya Ancol (DKI Jakarta), Taman Buah Mekarsari, dan Taman Safari (Jawa Barat) tersua baliho berisi informasi tentang keberadaan fasilitas outbound. Hampir semua fasilitas outbound itu berupa sarana permainan tali tinggi—dan yang paling terkenal flying fox—hingga kata outbound menjadi identik dengan flying fox, atau permainan tali tinggi, dan paling jauh hanya terkait dengan aktivitas rekreasi luar ruang.

Kata outbound pada awalnya tak ada sangkut paut dengan aktivitas luar ruang. Outbound justru merupakan istilah dunia pariwisata, sebagai antonim dari inbound. Outbound berarti wisatawan lokal berangkat berwisata ke luar negeri, dan inbound berarti wisatawan asing datang untuk berwisata di dalam negeri. Istilah outbound dalam kaitan dengan aktivitas luar ruang berawal dari persaingan bisnis pelatihan dengan menggunakan sarana aktivitas luar ruang. Ini semua terkait dengan sekolah Outward Bound (OB) yang didirikan Kurt Hahn dan Lawrence Holt di Inggris pada 1941.

Dalam waktu relatif pendek, sekolah OB berkembang di 40 negara, termasuk Indonesia. Outward Bound Indonesia (OBI) didirikan Djoko Kusumowidagdo dengan beberapa temannya pada 1990. OBI diakui resmi sebagai pemegang lisensi OB di Indonesia. Ketika di sebuah negara sudah ada sekolah OB, lembaga lain tak akan diberi lisensi oleh OB pusat di Inggris. Taufik Bahaudin, penulis buku Brainware Management, ingin mengembangkan bisnis serupa dengan OBI. Tak kekurangan akal, pada 1992 ia pun mencetuskan program Outbound Management Training (OMT).

Pada 1993 OBI menggugat penggunaan kata outbound oleh OMT yang mereka anggap mirip dengan outward bound. Gugatan ini tak dikabulkan pengadilan hingga OMT tetap sah menggunakan kata outbound sampai sekarang. Sejalan dengan kemenangan OMT, di Indonesia lahirlah provider penyelenggara pelatihan yang sebenarnya berbasis metodologi sama dengan OBI dan OMT. Basis metodologi pelatihan itu bahkan tak hanya monopoli OBI dan OMT, melainkan juga pramuka (kepanduan), organisasi mahasiswa pencinta alam, dan militer.

Metodologi pelatihan itu merupakan pengembangan dari pembelajaran berbasis pengalaman (PBP).

Dua metode belajar berbasis pengalaman ini punya sejarah panjang, berawal dari Kong Hu Cu. Filsuf Tiongkok yang hidup dalam kurun 551-479 SM ini mengatakan, ”Saya mendengar, saya tahu; saya melihat, saya ingat; saya melakukan, saya bisa memahami.” Para pengikut Kong Hu Cu sangat menekankan pentingnya PBP. Di Yunani Socrates (469-399 SM) juga ikut andil dalam menciptakan fondasi PBP.

Pada prinsipnya, PBP mengajak para peserta didik agar mau berubah.

Sebab semua manusia akan terus berubah, lingkungan sekitar juga terus berubah. Perubahan bisa mengancam kenyamanan dan kemapanan, tetapi tak mungkin ditolak. Bayi dalam kandungan ibu nyaman dan aman. Nutrisi dan oksigen terpenuhi dari tubuh ibunda, tetapi kenyamanan ini hanya akan berlangsung sembilan bulan. Demikian seterusnya, hingga dari anak-anak menjadi remaja, dewasa, tua, dan mati. Umumnya manusia menolak perubahan. PBP mengembangkan sejumlah metode agar manusia selalu mau berubah.

Aktivitas luar ruang hanya merupakan salah satu metode PBP untuk mengubah sekelompok orang. Pada dasarnya orang hanya mau berubah kalau ”dipaksa” berubah. Metode pemaksaan inilah yang bisa terus-menerus diperbarui dan diberi variasi oleh OBI, OMT, dan kemudian ratusan provider yang tumbuh sangat pesat sejak awal 1990-an. Sejalan dengan tumbuhnya bisnis pelatihan dengan metode PBP, kata outbound sangat cepat memasyarakat, sementara nama outward bound hanya dikenal masyarakat tertentu. Belakangan istilah outbound terkait dengan permainan tali tinggi, juga mulai lepas dari metode PBP, hingga menjadi sekadar rekreasi.

Sementara itu, para pegiat PBP di Indonesia terus bergerak ke aspek pendidikan, bukan sekadar aspek rekreatif. Outbound kemudian sering dituduh merusak bahasa. Saya yakin bahasa tak pernah bisa dirusak oleh siapa pun. Nasib outbound mungkin akan sama dengan konglomerat. Aslinya konglomerat merupakan kosakata geologi untuk menyebut jenis hasil penggumpalan (konglomerasi) berbagai jenis batuan. Belakangan konglomerat berubah makna menjadi pengusaha besar.

* Sastrawan

One thought on ““Outbound”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s