Motor Wanita

Dony Tjiptonugroho*, Media Indonesia, 13 Sep 2015

Sumber gambar: Antara News

Di tempat parkir tak jauh dari tempat saya beraktivitas diberi pengumuman bertuliskan`Parkir Khusus Motor Wanita’. Dengan tanda itu, seharusnya sudah jelas peruntukannya. Pasti tempat itu diperuntukkan khusus motor yang dikendarai perempuan. Begitu, bukan?

Namun, faktanya tidak begitu 100%. Tidak hanya satu-dua pesepeda motor berjenis kelamin laki-laki memarkirkan kendaraan di tempat bertanda `Parkir Khusus Motor Wanita’ itu. Pesepeda motor berjenis kelamin perempuan pun biasanya diam saja. Paling juga mereka mengomel karena area parkirnya ditempati. “Huh, orang yang bingung dengan kelaminnya sendiri,“ kata salah satu perempuan itu.

Petugas keamanan pun lelah menegur dan akhirnya membiarkan. Komentar yang dilontarkan para pesepeda motor berjenis kelamin laki-laki yang memarkirkan kendaraan mereka di tempat bertanda khusus itu antara lain, “Ini, kan, memang motor wanita (sambil menunjuk motor yang mereka kendarai),“ dan, “Ini motor wanita karena yang punya wanita. Di STNK tertera nama pemiliknya wanita.“

Rupanya ada tiga makna yang mengemuka dari motor wanita.

Pertama, frasa itu bermakna `motor yang (sedang) dikendarai wanita’. Faktor penentunya ialah jenis kelamin pengendara, sedangkan bentuk motor bukan determinan. Kedua, motor wanita berarti `motor yang didesain untuk dikendarai wanita’. Faktor penentunya ialah bentuk motor, sedangkan jenis kelamin pengendara bukan determinan. Frasa itu ketiga bermakna `motor yang dimiliki wanita’. Faktor penentunya ialah kepemilikan motor, sedangkan jenis kelamin pengendara dan bentuk motor bukan determinan.

Tentu makna lokusi (makna yang dimaksudkan penutur) tanda `Parkir Khusus Motor Wanita’ ialah yang seharusnya parkir di tempat itu ialah motor yang dikendarai perempuan.

Terlepas motor yang dikendarai ialah motor balap atau motor sespan sekalipun. Namun, dua makna lainnya tidak bisa disampingkan begitu saja. Lepas dari makna lokusi tersebut, frasa motor wanita berasosiasi pula dengan motor laki.

Frasa motor laki berarti `motor yang didesain untuk dikendarai laki-laki’. Berciri, tangki bensin tidak tertutup di bawah jok kendaraan dan kerja mesin menggunakan kopling. Sebaliknya, motor wanita berciri utama tangki bensin tertutup di bawah jok dan kopling tidak wajib ada. Meski demikian, lambat laun pengguna motor bebek didominasi laki-laki. Dampaknya tidak lagi secara tegas orang akan menyatakan motor bebek sebagai motor wanita. Paling banter yang terlontar ialah, “Ini, kan, sebenarnya motor wanita.“

Ketika secara tegas skuter matik diiklankan sebagai kendaraan untuk perempuan, lekatlah citra motor wanita pada skuter itu.Sekitar 2005, ketika saya mengendarai skuter matik melewati sekumpulan lelaki, meledaklah tawa mereka. “Cowok, kok, naik skutik,“ terdengar sayup. Namun, selang beberapa bulan, muncul pula skuter matik yang ditargetkan untuk laki-laki.Sejak itu pula tidak aneh lagi lelaki naik skutik.

Makna terakhir motor wanita berasosiasi dengan frasa lain yang menunjukkan kepemilikan, misalnya motor bapak dan mobil dinas. Frasa motor bapak bermakna `motor milik bapak’, sedangkan mobil dinas berarti `mobil milik instansi’ untuk melaksanakan pekerjaan instansi’.

Jika tiga makna itu berterima meski hanya satu yang sesuai maksud awal, bagaimana membuatnya spesifik mengarah ke makna `motor yang dikendarai wanita’? Bukankah lebih baik susunan pengumumannya diubah menjadi `Parkir Motor untuk Wanita’? Masih menimbulkan ambiguitas karena adanya potensi frasa motor untuk wanita?

Begitulah kita, si pembuat makna.

* Redaktur Bahasa Media Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s