Emosi Dan Bahasa Ibu

Ahmad Sahidah*, Majalah Tempo, 14 Sep 2015

Ilustrasi: Solutions Magazine

Akhmad Murtajib, teman baik saya, mengungkapkan dalam status Facebook bahwa ia lebih nyaman dengan penggunaan kata pasa (bahasa Jawa untuk puasa) dibandingkan dengan istilah Arab, shiyam, termasuk penyebutan wulan pasa, alih-alih syahru Ramadhan. Jelas, penegasan tersebut terkait dengan latar belakang bersangkutan yang menggunakan bahasa ibunda sebagai ungkapan keseharian sejak kecil hingga dewasa. Secara pragmatik, konteks ungkapan adalah sekaligus penegasan ideologis bahwa penghayatan keagamaan seseorang terkait dengan sisi substantif, bukan normatif.

Lebih jauh, rasa nyaman itu hakikatnya terkait dengan bahasa ibu yang mempunyai peran penting dalam membentuk pemikiran, emosi, bahkan spiritual seseorang. Sebagaimana dikatakan ahli psikologi, yang dikutip Hurisa Guvercin (2010), ekspresi bahasa dan kosakata yang dipilih seorang ibu itu membekas pada perkembangan anak karena diungkapkan dengan penuh kasih sayang. Bagaimanapun, pemahaman awal anak terhadap dunia sekelilingnya, termasuk pembelajaran konsep dan keterampilan, bermula dari bahasa pertama yang diungkapkan ibunya.

Wajar jika seseorang merasa tersentuh oleh satu ungkapan tertentu karena, ketika seseorang menggunakan bahasa ibu, ada hubungan langsung antara hati, otak, dan lidah.

Terkait dengan status di media sosial tersebut, saya pun menukas bahwa itu wajar karena kata “puasa”, sebagai serapan dari kata Sanskerta, lebih dulu datang dan diserap sebagai bahasa Jawa. Namun, betapapun kata “puasa” berasal dari tradisi Hindu, hakikatnya ia merujuk pada tradisi Islam, shiyam, yang berarti menahan diri dari makan, minum, dan hubungan seksual sejak fajar hingga terbit matahari. Bukan hanya kata itu, kata “sembahyang”, “surga”, dan “neraka” sebenarnya telah lama digunakan untuk menyebut “salat”, “jannah”, dan “nar”. Sejalan dengan usaha pemurnian praktek keagamaan, ada sekelompok orang yang memilih kata “shiyam” dan “salat”, meskipun tetap menggunakan kata “surga” dan “neraka” dalam bahasa tulisan dan percakapan.

Menariknya, kata “puasa”, yang mengandaikan konsep spiritual Hindu, dikekalkan dalam bahasa Indonesia dan digunakan orang Islam hingga kini. Boleh jadi, konsep puasa yang berasal dari upavâsa membayangkan pengalaman muslim itu sendiri. Seperti diungkapkan Padma S. Kalyani Buridi (2013) dalam Upavâsa (Fasting) in Indian Tradition, dalam Hinduisme, puasa menunjukkan penyangkalan terhadap kebutuhan tubuh untuk pencapaian spiritual. Dengan puasa, seseorang bisa mendekatkan diri dengan Tuhan melalui penyelarasan tubuh dan jiwa. Mengingat secara harfiah upavâsa berasal dari upa (dekat) dan vâsa (tinggal), shiyam yang sering disebut sebagai cara mendekatkan diri (taqarrub) dengan Allah merupakan jalan yang sama menuju Maha-Mutlak.

Selain puasa, sembahyang merupakan ibadah untuk mendekatkan diri dengan Tuhan. Namun akhir-akhir ini sebagian muslim merasa tak nyaman dengan penyebutan “sembahyang” karena kata ini merupakan gabungan dua kata, yaitu “sembah” dan “Hyang”, nama Tuhan dalam Hindu. Tak pelak, setiap kali saya menyebut kata tersebut, serta-merta teman sekerja sebelah kamar menimpali dengan kata “salat”. Jika rasa waswas seperti ini menghinggapi seseorang, mungkin kata “suci”, yang juga berasal dari bahasa Sanskrit, uci, akan ditinggalkan pula, seraya menggantinya dengan lema Arab, thaharah. Lalu apakah kita tidak akan menerjemahkan alhamdulillah dengan “segala puji bagi Allah”, mengingat kata “puji” pada awalnya juga membayangkan konsep agama lain?

Apa pun nuansa makna terhadap istilah-istilah kunci di atas, mereka yang mengerjakan amal kebaikan akan masuk surga. Meskipun dalam kitab suci muslim mengenal kata “jannah”, kata tersebut jarang digunakan dibandingkan dengan “shiyam” dan “salat”. Lagi-lagi, konsep surga (svarga atau swarga) dalam agama Hindu serupa dalam Islam, yakni sebuah tempat bagi jiwa yang baik karena selama hidupnya mengerjakan kebajikan, meskipun secara kosmologis surga dalam agama India ini bukan tempat terakhir, melainkan sebagai peralihan menuju moksha. Demikian juga, lawan kata dari kata itu, neraka (narakah), lebih sering diucapkan dalam banyak kesempatan. Menariknya, surga dan neraka dalam kedua agama ini sama-sama mempunyai pelbagai tingkatan yang berbeda.

Pada akhirnya, pengalaman emosional seseorang terhadap bahasa yang digunakan tetap merujuk pada fungsi bahasa sebagai alat untuk mewakili kenyataan, baik konkret maupun abstrak.

Betapapun secara konseptual muslim menganggap bahasa Arab sebagai bahasa yang lebih tepat menggambarkan ihwal ajaran agamanya, seperti kata Nelson Mandela,

“Jika Anda berbicara dengan seseorang dalam sebuah bahasa yang dia pahami, pesannya akan sampai ke kepala. Jika Anda berbicara dengan bahasa bundanya, ia akan masuk pada hatinya.”

Tentu kita tidak mungkin memisahkan kepala dan hati untuk menyuburkan religiositas. Sebab, setiap agama berusaha menjaga keseimbangan antara jiwa dan raga dalam kehidupan nyata.

* Dosen Filsafat Dan Etika Universitas Utara Malaysia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s