Bahasa dan Realitas

Yanwardi*, KOMPAS, 19 Sep 2015

Sumber gambar: Slate Magazine

Iseng-iseng saya buka koran Kompas terbitan bulan-bulan yang silam. Pada suatu artikelnya tersua ungkapan masuk keluar mal. Agak tidak biasa urutan itu karena kaprah yang dipakai adalah struktur berurutan keluar masuk. Bisa jadi Kompas ingin menggambarkan bahwa struktur masuk keluar lebih sepadan dengan realitas: masuk keluar. Pelaku barang tentu masuk dahulu, baru keluar.

Entah sadar entah tidak para penyelaras bahasa Kompas yang mengubah urutan tersebut telah mengamini salah satu aliran linguistik di dunia bahwa bahasa adalah suatu sistem tanda yang nonarbitrer, tidak manasuka. Kelompok ini biasa disebut pula sebagai kelompok alami, kelompok naturalis, dengan para tokoh Plato, Pierce, dan Jakobson. Sebagai lawan di sisi lain adalah kelompok konvensionalis, seperti Aristoteles, Saussure, dan Chomsky.

Sesungguhnya dalam bahasa (Indonesia) struktur setipe keluar masuk yang tampak tidak manasuka, tidak ikonis, cukup banyak. Yang saya maksud dengan struktur yang tampak tidak manasuka adalah bahwa antara penanda (bunyi, kata, frasa) dan petandanya (obyek, yang diacu penanda, realitas) seolah-olah tidak memiliki hubungan kronologis. Yang setipe dengan keluar masuk antara lain turun naik, pulang pergi, tua muda, datang pergi. Sebaliknya cukup banyak pula struktur bahasa Indonesia yang memperlihatkan kesepadanan dengan kenyataan seperti bunyi /a/ sering berkorelasi dengan bagian yang terbuka (nganga, membuka, mengangkang, belah, bedah); bunyi /b/ dengan bentuk yang berlingkaran (bola, bundar, bulat, boncel, buntelan); bunyi /i/ dengan sesuatu yang tipis, tinggi, kecil (ramping, langsing, jingjit, tinggi, tipis, pipit, kecil, irit). Belum lagi bentuk kata majemuknya.

Sebagai sistem tanda, bahasa memang sering memperlihatkan kesepadanan dengan kenyataan.

Para filsuf sejak zaman sebelum Masehi—dan kemudian ahli bahasa—bersepakat bahwa onomatope, kata peniru bunyi, seperti detik, derak, detak, debum, dor, dan gong, merupakan ciri universal bahasa yang menggambarkan ikonisitas atau tanda bahasa yang memiliki relasi dengan realitas. Karena onomatope tidak terlalu banyak dalam setiap bahasa, kelompok konvensionalis menentangnya.

Bahasa Indonesia sendiri memiliki cukup banyak kelejasan atau ketransparanan, jadi banyak bentuk bahasanya yang eksplisit berkaitan dengan kenyataan. Sebagai informasi, ada beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan tema ini seperti yang dilakukan Bambang Kaswanti Purwo dan Harimurti Kridalaksana dalam disertasi masing-masing.

Tidak hanya dalam bentuk onomatope, struktur dalam urutan kata majemuk juga sering menampakkan kelejasan, seperti suami istri, pria wanita, tua muda, dan besar kecil yang mengusung kelejasan budaya: pria dan kesenioran didahulukan. Bahkan, uniknya bentuk yang bias dianggap tidak logis karena dianggap tidak sesuai dengan realitas, seperti bentuk keluar masuk dan pulang pergi sebenarnya juga logis dengan jenis kelejasan yang lain, yakni urutan kronologis dengan pelaku berada di dalam. Sebab itu, urutannya jadi keluar dulu, baru masuk. Sementara itu, pulang pergi lejas atau ikonis secara psikologis, manusia secara naluriah ingin sampai di rumah dahulu. Sebab itu, urutannya, menjadi pulang dahulu.

Dari uraian singkat ini tentu saja tidak bisa disimpulkan bahwa bahasa Indonesia, sebagai sistem tanda, adalah ikonis, lejas, tidak manasuka, logis, atau selalu berkorelasi dengan realitas.

Dengan demikian, belum dapat pula dinyatakan bahwa bahasa Indonesia sesuai dengan kelompok naturalis Plato. Masih perlu dilakukan penelitian yang lebih menyeluruh terhadap data bahasa Indonesia.

* Editor pada Yayasan Obor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s