Tuhan

Suprianto Annaf*, Media Indonesia, 20 Sep 2015

Sumber gambar: Malang Times

Lelaki berusia 42 tahun, warga Desa Kluncing, Licin, Banyuwangi, ini dikenal banyak orang karena namanya: Tuhan. Nama yang tentu saja tidak sepadan dengan god atau Allah. Bukan pula ‘Tuhan’ yang diacu dalam puisi terkenal karya penyair Chairil Anwar. Untuk kali ini, ‘Tuhan’ yang dimaksud ialah nama seorang lelaki, anak manusia.

Seperti halnya puisi, film, ataupun buku yang diberi judul atau titel, anak manusia terlahir pun diberi (judul atau titel) nama. Seringnya nama itu pun beragam, semata untuk membedakan penyebutan dengan yang lain. Tidak tertukar walaupun terkadang mirip.

Bagi banyak orangtua, nama yang diberikan mengandung doa, kebaikan, ataupun harapan.

Ada yang menamai anaknya dengan sebutan ‘satria’. Selintas dari nama itu terkandung harapan dan doa: semoga anak ini nanti gagah perkasa, bertanggung jawab, dan selalu berbuat baik layaknya seorang satria. Belum lagi ada nama-nama yang terkait khusus nama nabi atau rasul. Yah, tentu harapannya agar anak ini nanti memiliki sifat yang dekat dengan sifat nabi atau rasul.

Alasan lain, bisa jadi karena faktor nostalgia. Teman SD saya diberi nama Timor Deli karena bapaknya seorang tentara, yang ketika anaknya lahir, bertugas di Timor Timur. Walaupun wilayah itu kini bukan bagian dari Indonesia, tentu nama Timor Deli akan selalu dikenang keluarga. Ada juga karena alasan tempat, nama marga, atau karena mengidolakan tokoh atau orang-orang hebat lainnya. Tak ayal ada yang bernama Batmen, Supermen, Einsten, Ronaldo, atau diberi nama Soedirman (agar kelak menjadi pemimpin sehebat Jenderal Soedirman).

Bagaimana dengan nama Tuhan? Secara bahasa, penamaan apa pun di muka bumi dilakukan dengan semena. Bisa juga konvensional. Tidak ada hubungan langsung antara nama dan yang dinamakan. Semuanya disebabkan faktor kesukaan saja. Ikan mujahir yang dikenal dan dinikmati dagingnya hingga saat ini tak lepas dari nama seorang penemunya: Mujahir. Pun begitu pula dengan Tuhan. Nama tersebut dipilihkan bapaknya karena kesukaan semata pada kata itu. Yah, mungkin sekadar menyenangi, sedangkan arti dan pemaknaan mungkin saja disampingkan. Terabaikan.

Di mata Ferdinand De Saussure, makna perujukan sebuah tanda akan sama bila antarpenutur memiliki pengetahuan (ground) yang sama pula terhadap tanda itu. Sebaliknya, bila tidak, tanda yang sama akan dimaknai berbeda.

Kata Tuhan yang berarti god atau Allah bagi kebanyakan orang belum tentu dimaknai sama oleh bapaknya Tuhan. Bisa-bisa Tuhan yang dimaksudkan sang bapak sebagai manusia biasa, tetapi suka memberi pertolongan. Baik hati. Bila berdoa, sang bapak meminta, “Ya, Tuhan tolong kami!“ Seakan Tuhan yang diacu dalam doa sama saja meminta kepada manusia: teman atau kerabat. Bisa jadi pula penamaan Tuhan tanpa alasan, sekadar melekatkannya pada nama anaknya. Laksana puisi kontemporer, tanda bahasa pun dimaknai atas persepsi pembuatnya. Terkadang budaya sekitar pun ikut menentukan persepsi itu. Kata tuhan yang lekat dengan semua agama rupanya tidak serta-merta mengacu unsur yang sama. Tuhan yang dipersepsikan agung, Maha Esa, dan tidak ada tandingannya sekarang menjadi nama manusia. Seorang hamba-Nya.

Nama yang tak biasa itu tak perlu diganggu. Termasuk diubah atau diganti. Biarlah dia bernama Tuhan. Unik meski mengelitik. Yah, Tuhan yang tak sama rujukan dengan makna kebanyakan. Sama sekali tidak searti dengan yang ada dalam kitab suci.

Berbeda, tetapi tetap memiliki makna.

* Staf Bahasa Media Indonesia

One thought on “Tuhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s