Negeri Vs Negara

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 26 Sep 2015

Ilustrasi: Revlogs

Sudah waktunya negara sedang berkembang disingkirkan. Oh, bukan dengan diserbu, diboikot, atau dibokong. Negara saja yang disikat. Negeri dan rakyatnya, sih, perlu terus disokong dan disorong.

Negara berkaitan dengan kelembagaan, pengorganisasian, pemerintahan, kekuasaan, sistem perpolitikan. Negeri berhubungan dengan tanah air, keluarga besar, kehidupan dan penghidupan rakyat, leluhur, budaya.

Mendengar negeri tumpah darah terbayanglah kampung halaman elok penuh damai cinta tempat lahir beta dibuai dibesarkan bunda dan masa bahagia belajar mencuri mangga muda tetangga. Membaca negara tumpah darah tertayanglah saling bacok baku bunuh tanah mengamis darah merah sungai menggembung mayat putih.

Demikianlah negeri sedang berkembang mengimpikan rakyat yang makin makmur sejahtera, sedangkan negara sedang berkembang—amit-amit—mengacu pada entah kekuasaan elite politik yang makin otoriter menindas rakyat entah nafsu serakah hegemonik mencaplok wilayah negeri tetangga dekat atau jauh. Sebagai negara, Indonesia terkenal sebagai antara lain salah satu yang terkorup di dunia yang pernah mencaplok Timor Leste yang pahit itu. Sebagai negeri, Indonesia kaya budaya murah senyum bumi cantik laut otentik. Negeri sedang berkembang sebagai padanan developing country tidak memiliki definisi baku, tetapi jelas mengacu pada kesejahteraan, kemakmuran, kesehatan, pendidikan, dan semacamnya. Tiada hubungan sama sekali dengan birokrasi, rezim, atau partai politik. Biasanya negeri kaya memiliki negara kaya, tetapi tidak kurang pula negara kaya berkuasa di negeri setengah miskin, misalnya Tiongkok yang jumlah kekayaan negaranya membikin iri hati seluruh dunia tapi sebagian besar penduduknya masih berada di perbatasan kemiskinan. Pun Indonesia, walaupun negerinya masih belum berkembang, negaranya lumayan kaya sehingga banyak anggota keluarga penguasa dan pejabat miskin nurani berkantong sejahtera merasa bahagia alhamdulillah berkubang dalam harta nirtuah.

Negeri sedang berkembang sebetulnya adalah eufemisme untuk negeri miskin. Sama seperti negara (dalam konteks ini berarti pemerintah dan DPR), Indonesia tidak suka berbicara tentang rakyat miskin dan hanya (sekali-sekali saat disorot teve) mau membahas rakyat prasejahtera; demikianlah di tingkat internasional ada keengganan untuk berbicara tentang negeri miskin, khawatir ada yang merah muka. Diciptakanlah istilah negeri sedang berkembang dan negeri paling kurang berkembang, least developed country. Cita-citanya adalah developed country, yakni, negeri sudah berkembang atau negeri berkembang. Sering juga kita baca negara berkembang secara keliru diartikan sebagai negeri sedang berkembang. Tentu tidak tepat, sama seperti apabila orang berkata negeri makmur pastilah yang dimaksudkan negeri yang sudah makmur, bukan negeri belum makmur yang sedang menuju kemakmuran.

Biarpun sejak kanak-kanak rakyat Indonesia diindoktrinasi bahwa Indonesia itu kaya raya gemahripah loh jinawi, orang-orang waras tahu belaka bahwa paling tidak separuh rakyat Indonesia itu miskin—maaf—prasejahtera. Walaupun ada kesan menutupi, eufemisme prasejahtera dan sedang berkembang bisa dianggap positif karena mengandung harapan dan tujuan mulia. Memang sekarang miskin, tetapi akan sejahtera. Sedang berkembang adalah pengakuan dan harapan realistis bahwa sebagian besar negeri miskin sedang bergerak ke arah kurang miskin. Dalam dua generasi terakhir, sebagian negeri sedang berkembang sudah menjadi negeri berkembang atau negeri maju. Ada harapan besar bahwa dengan penyelenggaraan negara yang sangat bagus, rakyat prasejahtera di negeri sedang berkembang mana pun bisa pada akhirnya mencapai surga kemakmuran di bumi. Semoga.

* Penggumul Makna Kata

3 thoughts on “Negeri Vs Negara

  1. Sekadar tambahan, situs web Badan Bahasa memiliki artikel yang berkaitan dengan topik ini: “Samakah Arti Negeri dan Negara?“.

    Negeri berarti ‘kota, tanah tempat tinggal, wilayah atau sekumpulan kampung (distrik) di bawah kekuasaan seorang penghulu (seperti di Minangkabau). Kata negeri bertalian dengan ilmu bumi.

    Negara berarti ‘persekutuan bangsa dalam suatu daerah yang tentu batas-batasnya dan diurus oleh badan peme­rintah yang teratur’. Kata negara berpadanan dengan kata state (Inggris) atau staat (Belanda). Kata negara digunakan jika bertalian dengan sudut pandang politik, pemerintahan, atau ketataprajaan.

    Berdasarkan pengertian kedua kata itu, kita telah mengubah bentuk pegadaian negeri, kas negeri, ujian negeri menjadi pegadaian negara, kas negara, ujian negara. Sejajar dengan perubahan itu, jika kita bertaat asas pada pengertian negeri dan negara, sebaiknya bentuk pegawai negeri, sekolah negeri, perguruan tinggi negeri, pengadilan negeri diubah pula menjadi pegawai negara, sekolah negara, perguruan tinggi negara, pengadilan negara jika memang badan-badan itu diurus oleh badan pemerintah secara teratur.

  2. Dalam bahasa Jawa, nagara (ngoko) & nagari (krama) artinya sama dengan negeri dalam bahasa Indonesia di atas Pak Ivan. Saya pernah diberitahu, orang-orang tua di desa-desa Gunung Kidul kalau mau ke Kota Yogyakarta akan mengatakan, “arep nang negara” (mau ke kota). Namun demikian, kebetulan juga Kota Yogyakarta pusat pemerintahan wilayah Yogyakarta, jadi makna negara (sebagai pusat pemerintahan) seperti dalam bahasa Indonesia juga masuk dalam kedua kata bahasa Jawa tersebut.

    • Ooo, baiklah. Terima kasih atas informasi etimologi ini. Penjelasan tentang mengapa suatu kata memiliki suatu arti memang acap kali tak terlepas dari riwayat kata tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s