Premium

Dony Tjiptonugroho*, Media Indonesia, 27 Sep 2015

Ilustrasi: AFP Photo/Sonny Tumbelaka

Menjelang Iduladha pada pekan keempat September 2015 informasi mengenai hewan yang bisa didapat untuk memenuhi ibadah kurban merebak di banyak tempat. Salah satu yang menarik perhatian saya informasi dalam sebuah baliho.

Baliho di perempatan Jl Kolonel Sugiono, Duren Sawit, Jakarta Timur, yang berseberangan dengan restoran waralaba luar negeri itu menyebutkan dua jenis kambing yang tersedia untuk orang-orang yang berencana membeli hewan kurban. Kambing pertama ialah kambing standar dengan harga tercetak di bawah Rp2 juta. Kambing kedua ialah kambing premium dengan harga tercetak di atas Rp3 juta.

Bagi saya, seorang komuter yang bekerja dengan mengendarai motor, kata premium begitu lekat di benak sebagai jenis bahan bakar minyak bersubsidi di Indonesia. Research octane number (RON/patokan rasio kompresi maksimum satu jenis bahan bakar) premium ialah 88. Karena RON yang dewasa ini menjadi oktan terendah itu, premium diposisikan sebagai bahan bakar kelas bawah.

Mutu bahan bakar premium otomatis di bawah bahan bakar minyak beroktan lebih tinggi daripada 88. Penggunaan premium dalam mesin berkompresi tinggi akan menyebabkan mesin mengalami knocking, atau istilah umumnya di kalangan otomotif Indonesia ialah ngelitik. Premium dalam mesin kendaraan akan terbakar dan meledak tidak sesuai dengan gerakan piston lalu ngelitik terjadi dan tenaga mesin berkurang.

Ngelitik yang berkepanjangan disebut-sebut akan menyebabkan kerusakan piston. Karena itu, kendaraan dengan mesin berkompresi tinggi dianjurkan tidak diberi asupan premium.

Namun, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ada dua kata premium yang dikategorikan sebagai homonim. Kata premium yang pertama nomina yang bermakna pertama ‘hadiah (kepada pembeli atau pelanggan)’ atau ‘premi’ dan kedua ‘bayaran (kepada asuransi)’ atau ‘premi’.

Kata premium yang kedua nomina yang bermakna ‘yang bermutu (berkualitas)’. Namun, penggunaan yang dicontohkan kamus ialah bensin premium dengan makna ‘bensin yang oktannya tidak tinggi’, agak menyimpang.

Jika dikaitkan dengan kambing premium, makna premium yang kedualah yang sesuai. Jadi, kambing premium adalah ‘kambing yang bermutu (berkualitas)’. Namun, makna itu dapat berasosiasi dengan pengertian kambing standar tidak bermutu. Meski bisa benar, itu tentu saja tidak dimaksudkan demikian.

Dalam bahasa Inggris, premium dicatat dalam dua kelas, nomina dan adjektiva (merriamwebster.com). Sebagai nomina, premium bermakna ‘the price of insurance’ alias ‘the amount paid for insurance’, ‘a price that is higher than the regular price’, dan ‘a high or extra value’.

Sebagai kata sifat, premium bermakna ‘high or higher than quality’. Sebagai adjektiva, premium umumnya mendahului kata benda yang diterangkannya, misalnya premium car. Kalau digolongkan sebagai adjektiva, premium pada kambing premium seharusnya mengikuti makna ini, ‘kambing yang lebih bermutu’.

Sependek ini, pembahasan menunjukkan hal menarik mengenai kata premium dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kata premium yang bermakna ‘yang bermutu’ ternyata lebih mendekati adjektiva dengan makna gradasi ‘lebih’, ‘lebih bermutu’. Karena itu, akan lebih lugas premium tersebut digolongkan sebagai adjektiva dengan makna ‘lebih bermutu’. Frasa bensin premium sebaiknya dihilangkan dan sebagai gantinya, dimunculkan nomina premium (tanpa diawali bensin) dengan makna ‘bensin yang oktannya tidak tinggi’.

* Redaktur Bahasa Media Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s