Mafia

Ni Nyoman Dwi Astarini*, Media Indonesia, 4 Okt 2015

Ilustrasi: Clipart Panda

Penyiksaan dua warga Desa Selok Awar Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Sabtu (26/9) membuka mata kita bahwa intimidasi dan kekerasan nyata ada di Indonesia. Salim Kancil, 52, meninggal setelah dianiaya sekelompok orang yang menyebut diri Tim 12. Warga lainnya, Tosan, 51, dirawat di rumah sakit, juga akibat penganiayaan. Penganiayaan tersebut diduga terkait dengan penambangan pasir yang marak mencaplok lahan persawahan di desa itu. Kedua warga desa itu memang dikenal lantang bersuara dalam menolak penambangan pasir di desa mereka.

Detail penganiayaan yang dialami Salim dan Tosan sungguhlah mengerikan, bahkan rasanya hanya mungkin terjadi dalam adegan film-film tentang mafia buatan Hollywood. Itu pula yang memicu saya menyelisik istilah mafia. Bangsa Indonesia pun belakangan makin akrab dengan istilah itu. Semisal mafia migas, mafia peradilan, mafia sapi, dan mafia tanah. Namun, apakah mafia sebenarnya?

Kata mafia berakar dari bahasa Arab mahias yang bermakna ‘pemberani’. Istilah itu muncul pertama kali dalam sebuah literatur pada 1668. Kemudian, setelah kesuksesan film The Godfather garapan Francis Ford Coppola pada 1972, kata mafia pun menyebar ke seantero dunia. Akibat penggambaran dalam film itu juga, mafia berkonotasi negatif. Media jadi lahap menggunakan kata mafia untuk setiap aksi kejahatan terorganisasi, semisal para pengedar narkoba, lintah darat, pengusaha judi, bahkan untuk menyebut para penjaga lahan yang menggunakan kekerasan dalam menjaga lahan.

Tak kalah, Indonesia pun ikut dalam tren memakai kata mafia. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan mafia sebagai ‘perkumpulan rahasia yang bergerak di bidang kejahatan (kriminal)’. Tak mengherankan jika kemudian kita mengenal istilah mafia tanah untuk menyebut orang-orang yang bermain dalam caplok-mencaplok lahan, atau mafia peradilan untuk mengindikasikan para advokat yang bermain-main dalam kasus, juga mafia narkoba untuk menyebut para bandar pengedar narkoba.

Namun, yang tak dipahami ialah bahwa istilah mafia sebenarnya tidaklah mengacu pada sesuatu yang negatif.

Istilah mafia memiliki sejarah panjang selama 2.200 tahun yang berawal di daerah Sisilia, Italia. Meskipun kerap diidentikkan dengan kelompok kejahatan terselubung, mafia sebenarnya sudah ada jauh sebelum kita mengenal pistol otomatis dan narkoba. Mafia pada masa awalnya merupakan sebuah way of life (cara hidup, pandangan) dalam melindungi sebuah keluarga, orang tercinta dari kesewenang-wenangan penguasa. Lingkungan Sisilia yang selalu dijajah dan diperlakukan sewenang-wenang oleh penguasa membuat penduduk aslinya mengambil tindakan militan untuk mempertahankan tanah mereka, keluarga mereka, juga orang-orang yang mereka cintai.

Jika kembali ke makna awal istilah mafia, layaklah kita sebut Salim dan Tosan sebagai mafia sesungguhnya karena mereka berani tegak melawan intimidasi para cukong yang hendak mengubah lahan sawah mereka menjadi galian pasir. Merekalah pemberani yang menjadi martir bagi keluarga dan orang-orang di sekitar mereka agar tidak menjadi warga tertindas pemilik modal yang rakus. Di lain hal, para penganiaya yang telah melenyapkan nyawa Salim tak pantaslah kita sematkan istilah mafia tanah. Para penganiaya itu lebih tepat disebut pelaku kriminal, bramacorah. Kalaupun ada dalang di balik penganiayaan itu, mereka pun bukanlah mafia tanah, melainkan pencaplok lahan. Untuk seorang pelaku kriminal ataupun pencaplok lahan dengan kekerasan, layaklah mereka mendapat hukuman.

* Staf Bahasa Media Indonesia

One thought on “Mafia

  1. Kami lampirkan gambar Mice cartoon,banyak yang merasa bahasa Ingris lebih bergaya,kalau kita ke Italy atau Perancis,malah mereka tidak merasa harus belajar bahasa Inggris dan bangga akan bahada sendiri,Presiden China di DPR kitapun pakai bahasa mereka sendiri berpidato meski beliau fasih berbahasa Inggris, Demikian semoga rubrik bahasa ini dapat memberitahu Presiden Jokowi ikut mempergunakan bahasa Indonesia kita yang baik dan benar,jangan selalu pakai istilah bahasa asing dalam memberi setiap nama acara dengan bahasa ading Terima kasih Wihardjo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s