Dalam Belantara Dwibahasa

Hermien Y. Kleden*, Majalah Tempo, 5 Okt 2015

Ilustrasi: Alboraq Translation Services

Sekali waktu, seorang kawan meminta saya membaca terjemahan pendek laporan feature seni pertunjukan yang dia tulis. Dia agak gugup karena ini pertama kalinya dia menerjemahkan—bukan mereportase dan menuliskannya sendiri. Naskah itu tak sampai dua halaman, tapi saya perlu menghimpun energi untuk menuntaskannya—karena ada banyak kalimat aneh. Salah satunya: “Setiap kali saya mencari pisang ketika melihat penampilan Alex. Dia fantastis.”

Tanpa mengecek teks orisinal, saya tahu si penulis terjebak pada dua kesalahan. Dia menerjemahkan secara harfiah, kata per kata, dan melupakan konteks—wilayah mahapenting dalam proses alih bahasa. Teks asli kalimat di atas: “I just go bananas every time I see Alex on stage. She is fantastic!” Kekacauan berpangkal pada kekeliruan dia mengartikan go bananas, slang dengan arti beragam: irasional, marah, keedanan, bersemangat, kehilangan kontrol.

Sebetulnya dia bisa memadankannya dengan bahasa pergaulan Indonesia sehari-hari: “Saya termehek-mehek saban kali menyaksikan Alex di panggung. Perempuan ini fantastis!” Alex umumnya nama lelaki di negeri kita dan bahasa Indonesia tak kenal gender. Maka perlu penegasan dalam teks. Contoh ini boleh jadi terlampau sederhana di belantara alih bahasa yang luas, rumit, menantang.

Tapi poin saya tidak sederhana: sesatnya alih bahasa justru kerap bermula dari hal-hal mendasar.

* * * *

Terus terang, istilah alih bahasa terasa sempit karena mengandaikan bahasa yang beralih belaka. Padahal ide, imajinasi, dan suasana harus turut “diterjemahkan”. Hujan dalam ilmu fisika terkait pada tetes air, kondensasi, fasa uap. “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono membawa kita pada penantian, rahasia-rahasia rindu, kesabaran, cinta. Hujan pada fisika terpaut pada denotasi: makna obyektif kata serba lugas. “Hujan Bulan Juni” begitu menyentuh karena kekuatan konotasi—ada nilai rasa, ada kekayaan makna.

Penerjemahan senantiasa bergulat di wilayah konotasi dan denotasi. Penerjemahan straight news merujuk pada denotasi seraya harus tetap menyampaikan “roh” berita kepada pembaca. Ini bukan soal mudah. Ketegangan antarsuku di Tolikara, Papua, atau kericuhan Islam mayoritas versus Ahmadiyah adalah jenis berita yang amat lokal. Bayangkan bila kita harus mengalihkannya ke bahasa Inggris bagi pembaca yang tak kita kenal latar belakangnya, entah itu komunitas berbahasa Inggris di Amerika, Britania, Afrika Selatan, entah itu di negara-negara ASEAN.

“Pengorbanan nilai rasa” terjadi dalam translasi demi kelengkapan semantik dan sintaksis. Simaklah berita Tempo ini tentang Teten Masduki: “Bagi dia, memelihara domba menyenangkan: ‘Saya sama dengan Pak Luhut. Sama-sama panglima. Bedanya, saya panglima domba,’ kata Teten.” Dalam versi Inggris: “For him, sheep breeding is a pleasure. ‘I’m just like Luhut, we are both commanders. The difference is that I command my sheep,’ said Teten.”

Kita terpaksa memasukkan kata “my” dalam teks terjemahan sebagai syarat kalimat lengkap—yang justru melemahkan nilai rasa ujaran Teten yang begitu nyeleneh dalam bahasa Indonesia.

Pada dasarnya, ada dua jalan penerjemahan. Pertama, ketat pada bahasa asli. Ini bagian dari tanggung jawab moral penerjemah, terutama dalam alih bahasa buku teks atau sastra. Kedua, mencari padanan yang enak dibaca dan perlu. Ini artinya menulis dengan bahasa sehari-hari sembari menyampaikan gagasan asli penulis.

* * * *

Kejerian dan ketakutan akan terjadinya lost in translation bersumber pada ketidakmampuan menyajikan dahsyatnya karya orisinal—lalu karya hebat itu dibuat seolah-olah “berdiri sendiri”. The Mute’s Soliloquy, terjemahan John H. McGlynn ke dalam bahasa Inggris dari Catatan Seorang Bisu-nya Pramoedya Ananta Toer, ibarat muncul sebagai karya baru yang “lepas dari akarnya”. Penerjemahnya bahkan mengubah urut-urutan cerita asli. John mengaku bahwa dia bersama Pramoedya menyusun ulang dan menambahkan berbagai hal yang tak sempat tercatat dalam buku asli bahasa Indonesia.

Ihwal serupa menimpa La Nuit (Malam) karya Elie Wiesel, pemenang Nobel Perdamaian 1986. Bersumber pada kekelaman pengalamannya di kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz, Polandia, Wiesel tadinya bersumpah tutup mulut tentang babak hidupnya itu. Dia akhirnya menyerah pada bujukan pemenang Nobel Sastra asal Prancis, Francois Mauriac. Wiesel lalu menuliskan memoar itu, yang menggetarkan dunia.

Naskah yang sama—versi bahasa Yiddish—ternyata telah dia serahkan ke satu penerbit Yahudi di Buenos Aires. Peneliti Naomi Seidman, yang menemukan kedua teks itu pada 1996, terkejut melihat hasilnya. Terjemahan versi Yiddish penuh amarah dan gugatan ke masyarakat Eropa yang bungkam atas kekejaman Nazi. Adapun La Nuit—versi Prancis yang telah diterjemahkan ke 33 bahasa—adalah narasi puitis.

Oktober 2015 tiba bersama Frankfurt Book Fair, pesta buku terbesar sejagat. Karya-karya penulis ternama dari berbagai penjuru berbaur dan bersanding di helat raksasa ini. Terjadilah pergaulan antar-susastra melalui jembatan penerjemahan. Sadar atau tidak, setiap saat, para sastrawan tentu akan “saling menerjemahkan” karya-karya mereka bagi dunia.

* Wartawan Tempo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s