Negarawan dan Penyelenggara Negara

Indra Tranggono*, KOMPAS, 10 Okt 2015

Ilustrasi: Viva.co.id

Kini sebutan negarawan semakin langka digunakan di dalam praktik kehidupan berbahasa Indonesia terkait dengan jagat politik nasional. Sebutan atau istilah yang lebih sering digunakan adalah penyelenggara negara. Tampak mirip secara maknawi, tetapi negarawan dan penyelenggara negara berbeda arti.

Sesungguhnya arti negarawan tidak sebatas ahli negara, seperti disebut dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia W.J.S. Poerwadarminta. Negarawan juga memiliki dimensi etik-ideologis, yakni ahli/pakar tata-kelola negara—eksekutif, legislatif, dan yudikatif—yang memiliki kapasitas patriotik, watak membela Tanah Air. Adapun penyelenggara negara lebih bermakna teknis, yakni tenaga yang berfungsi menyelenggarakan aktivitas negara baik secara eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Berdasarkan maknanya, negarawan lebih tinggi dibandingkan dengan penyelenggara negara. Menjadi negarawan otomatis menjadi penyelenggara negara yang baik. Namun, menjadi penyelenggara negara tidak otomatis menjadi negarawan.

Degradasi makna? Ya.

Bahasa merupakan sistem penanda penting dari gejala dan realitas kebudayaan sekaligus mencerminkan tingkat peradaban bangsa.

Sebagai entitas maknawi, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bagian penting dari ruh kebudayaan masyarakat. Melalui bahasa, masyarakat mampu mengekspresikan pikiran, perasaan, dan cita-citanya. Segala yang ideal dan tidak ideal dirumuskan dan diungkapkan melalui bahasa.

Ketika predikat negarawan semakin sulit diberikan atau dilekatkan pada subyek-subyek pelaku penyelenggaraan negara, sejatinya terjadi kekosongan nilai dalam kehidupan bernegara. Ini antara lain ditandai dengan degradasi/penurunan makna dari negarawan ke penyelenggara negara.

Dalam pemaknaan ideal, negarawan adalah sosok yang berpikir, bekerja, dan berkarya (memproduksi nilai-nilai) dengan penuh etik dan etos hingga melampaui dirinya. Ia mampu menenggelamkan kepentingan pribadi, kelompok, dan keprimordialannya demi kepentingan bangsa yang lebih besar, penting, bermakna, dan mendesak. Negarawan melakukan transendensi kognisi, afeksi, dan praksis/perilaku dalam mengemban tugas-tugas politik berbasis kemanusiaan dan kebangsaan. Lahirlah tindakan profetik yang membebaskan manusia dari berbagai penindasan sekaligus meninggikan eksistensinya. Karena itu, negarawan juga menunaikan tugas berdimensi kenabian.

Jagat politik nasional yang serba liberal, pragmatik, dan penuh aroma transaksi perniagaan semakin jauh dari cita-cita konstitusi. Dalam jagat politik yang keruh penuh tuba sangat sulit muncul sosok negarawan. Yang justru berkecambah adalah para pekerja politik yang memiliki uang dan kekuasaan. Mereka pun memiliki predikat ”netral”, yakni penyelenggara negara yang sejatinya tidak beda dengan tenaga teknis biasa dan jauh dari nilai-nilai ideologis, patriotik, dan bahkan profetik. Sudah lama bangsa kita merasakan peran hampa penyelenggara negara dan merindukan kehadiran banyak negarawan.

* Pemerhati Kebudayaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s