Relawati

Taufik Ikram Jamil*, KOMPAS, 24 Okt 2015

Ilustrasi: Tribunnews.com

Semula sedikit pun saya tidak merasa heran bahwa kawan saya, Abdul Wahab, teringat relawan Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK) yang memiliki andil besar mengantarkan keduanya duduk di tampuk kepemimpinan formal tertinggi Indonesia. Pasalnya, sebagaimana yang ia tulis dalam pesan pendek telepon genggam (SMS), ingatan tersebut diawali dengan kenangannya terhadap pelantikan Jokowi-JK, masing-masing sebagai presiden dan wakil presiden pada Oktober sebagaimana halnya bulan sekarang. Pelantikan itu terjadi persis tanggal 20 Oktober 2014.

Cuma yang membuat saya bertanya-tanya adalah pertanyaannya tentang masih belum adakah perempuan sebagai unsur penting bagi kedudukan Jokowi-JK itu? Padahal, ingatannya terhadap relawan Jokowi-JK itu kan jelas meliputi perempuan dalam garis pendukung nirpartai. Mereka tidak mengharapkan apa-apa saat mendukung Jokowi-JK itu dan kini menempatkan posisi sebagai pengawal kepemimpinan keduanya.

Belum sempat saya berpikir lebih jauh, ia justru mengajukan pertanyaan lain: jenis kelamin apa yang terbayang di benak saya ketika orang menyebutkan kata peragawan? Selain itu kata angkasawan, wartawan, karyawan, sekadar beberapa contoh. Ketus saya menjawab, ”Ya, lelaki. Kalau perempuan, namanya peragawati dan seterusnya. Pakai -wati ketika diletakkan di belakang selain kata kerja yang diakhiri huruf hidup.”

Wahab yang tinggal di sebuah pulau dalam kawasan Selat Melaka sana kemudian menulis, ”Tapi, aku tak pernah mendengar dan membaca sebutan relawati sebagai orang-orang yang mendukung Jokowi-JK di media massa; senantiasa disebut relawan Jokowi-JK saja, para lelaki yang membantu mereka secara sukarela. Cuma saja, ketika melihat penampakan apa yang disebut relawan itu di media massa, selain lelaki, tak sedikit pula terlihat perempuan yang seharusnya disebut relawati. Jadi, kesemuanya itu kan patut disebut relawan dan relawati?”

Berbagai anggapan tak sedap berkaitan dengan tanpa sebutan relawati itu saya halau dengan cara mengingat—bukan memaafkan—bahwa kita memang selalu cuai, kurang perhatian terhadap sesuatu walaupun mengetahuinya sehingga acap kali ada yang terlupakan. Belum lagi berkaitan dengan kurang konsisten dalam berbahasa, termasuk terhadap kata bentukan baru yang mendapat imbuhan -wan dan -wati. Diangkat dari bahasa Sanskerta, -wan dan -wati dikenal sebagai salah satu bentuk sufiks, imbuhan pada akhir kata.

Konon tidak semua sufiks -wan yang merujuk pada pengertian lelaki dapat diganti -wati untuk pengertian perempuan. Contoh, kata gunawan dan ilmuwan yang tak lazim menjadi gunawati atau ilmuwati. Ini berlawanan saat bertemu dengan kata rupawan, menyarankan pengertian perempuan cantik, bukan lelaki cantik meski kata rupa memperoleh imbuhan -wan.

Namun, mengapa ketidaklaziman tersebut muncul tak pernah dapat diterangkan selain pengecualian dan pengecualian.

Pertanyaan berikutnya, mengapa hanya ada relawan dan mengapa tidak ada relawati ketika menyebut pendukung Jokowi-JK? Padahal, syarat penambahan sufiks dipenuhi kata rela seperti tidak tergolong pada kata kerja dan huruf hidup pada akhir kata? Usahlah mempersoalkan pendapat yang menyebutkan bahwa penggunaan kata relawan itu sendiri tergolong salah, seharusnya sukarelawan dan sukarelawati yang masyhur sejak konfrontasi Indonesia-Malaysia 1960-an sebab akan menjadi lebih panjang masalahnya bila memperkatakan hal itu, termasuk ihwal penggunaan sufiks -ti dan -tas seperti terhadap kata royalti, bukan royaltas—sebaliknya aktivitas, bukan aktiviti.

Lalu? Maaf, SMS Abdul Wahab hanya sampai di situ. Ah.

* Sastrawan

One thought on “Relawati

  1. Sering sekali ya itu sukarelawan dan sukarelawati tersisihkan setelah ajang kampanye misalnya selesai. Namun semikian kita juga tidaj bisa menuntut mereka yang menjadi pemimpin atau yang sukarelawan/sukarelawati dukung, sebab sokongan dari mereka itu kebanyakan dari sebuah rasa suka dan tidak mengharap kedudukan nantinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s