Berbahasa Satu, Bahasa Bingung …

Mohammad Hilmi Faiq & Sarie Febriane, KOMPAS, 25 Okt 2015

Ilustrasi: KOMPAS/Riza Fathoni

Ilustrasi: KOMPAS/Riza Fathoni

Bahasa merupakan hasil konsensus masyarakat dalam menyampaikan pesan secara verbal. Ketika konsensus tersebut dipersempit ke dalam kelompok tertentu, maka kesalahpahaman dan kebingungan pun terjadi. Inilah yang muncul seiring maraknya pemakaian bahasa ”alay”.

Suatu hari, Erisa (38), ibu bekerja dengan dua anak, kaget dengan perkembangan bahasa yang digunakan anak sulungnya, Yayu (11). Kekagetan itu muncul tatkala dia menghadap guru wali kelas di sekolah Yayu. Selain membicarakan soal perkembangan akademik, sang guru juga melapor soal kebiasaan Yayu yang gemar mengobrol di kelas dan sedikit-sedikit berseru ”LOL”.

Tentu saja Erisa dan gurunya bingung, apa maksudnya. Setelah ditanya, Yayu menjawab dengan enteng, ”Itu aku ketawa, Ma. Laughing out loud!”

Keterangan itu tambah membuat Erisa bingung. Bagaimana bisa sang anak mengekspresikan tawa begitu ekspresif dengan hanya berseru ”LOL”?

Sungguh aneh bagi Erisa ketika sang anak mengadopsi ekspresi emosi tekstual di ruang virtual dalam kehidupan nyata, kehidupan offline. Padahal, tawa adalah ekspresi emosi lepas yang seharusnya spontan. Erisa tentu tak ingin perilaku anaknya itu menjadi kebiasaan.Ia khawatir akan semakin jarang mendengar gelak tawa anaknya yang khas, berganti dengan sekadar seruan-seruan ”LOL” yang ganjil.

Ketidakmengertian penggunaan bahasa gaul atau alay, seperti Yayu, itu kerap muncul karena tidak semua orang memahami istilah, yang bagi sebagian orang, baru bahkan asing. Bahasa alay kerap digunakan secara terbatas pada kelompok pertemanan atau usia tertentu. Kesenjangan usia memunculkan ketidakmengertian saat berkomunikasi.

Ketidakmengertian itu pun nyatanya dialami para remaja dengan sesama teman sebayanya. Faktornya, antara lain, karena mereka berbeda ruang pergaulan. Itulah pengalaman Ananda Aristya (22) yang baru lulus dari Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma. Selama kuliah, praktis dia jarang berkomunikasi dengan teman-teman yang dulu satu sekolah di SMP dan SMA.

Suatu hari, dia mendapat nomor ponsel teman SMP-nya dan terjadilah perbincangan lewat aplikasi WhatsApp. Sejak awal Nanda, begitu dia biasa disapa, merasa aneh dengan bentuk huruf atau ejaan pada kalimat lawan bicaranya. Selain banyak huruf vokal yang hilang, temannya itu juga kerap menggunakan huruf kapital secara selang-seling di setiap kata. Tetapi, dia makin bingung saat bertanya di mana sekarang temannya itu tinggal.

Lawan bicaranya hanya menulis, ”Gw di BXi.”

”Di BXi? Di mana itu?”

”Di Bekasi, bro.”

Nanda ketika itu merasa ketinggalan arus perkembangan bahasa teman- temannya. Uniknya, bahasa yang digunakan teman-teman SMP-nya itu tidak pernah dia temui di kampus.

Nanda tidak sendirian. Roni (31), pegawai swasta, pun mengalami hal serupa. Dia sering gagal memahami percakapan para pelajar SMP yang tengah berkumpul di kantin atau stasiun kereta. ”Bahasanya aneh dan bikin roaming (tidak paham),” kata Roni.

”Alay” adalah eksistensi

Nanda menganalisis, teman-teman SMP-nya itu rata-rata tidak melanjutkan pendidikan, ada yang menjadi pekerja kasar, ada juga yang menjadi ibu rumah tangga. Mereka mengikuti perkembangan bahasa alay dari internet lewat telepon pintar. ”Mungkin biar dibilang gaul dan eksis, mereka ikut-ikutan pakai bahasa alay,” kata Nanda.

Itu seperti pengakuan Adjie Prasojo (22) yang menggunakan bahasa alay karena ikut tren di sekolah ketika SMP. Saat itu, jika tidak menggunakan bahasa alay terkesan tidak gaul dan eksis.

Sampai saat ini, ketika bekerja di sebuah perusahaan televisi berbayar di Jakarta, Adjie masih kerap menggunakan bahasa itu. ”Tapi, sekarang mungkin beda, ya. Kalau sekarang lebih dipakai untuk lucu-lucuan saja,” ujar Adjie.

Adjie sangat fasih mengatakan ”ga danta” untuk mengganti frasa ”gak jelas” atau ”leh uga” untuk frasa ”boleh juga”.

Mencermati media sosial, seperti Facebook, Twitter, dan Instagram, dapat dengan mudah kita temui akun atau status menggunakan bahasa seperti ini. Sebutlah akun bernama VpieMahaDhifaTermuachDihati atau Vita Cayank Libasforever. Pemilik akun itu sangat jelas sosoknya, bukan akun abal-abal. Selain mempunyai akun Facebook, VpieMahaDhifaTermuachDihati, misalnya, bahkan membuat blog berisi bahasa-bahasa gaul.

Dalam blognya itu, Vpie menulis menggunakan huruf-huruf yang didominasi warna biru muda dan merah muda. Dia menggambarkan dirinya antara lain dengan kalimat: CereweitzZz Tapi kadang Pendiem, BuaekzZz, Gak Sombink, Gak Suka Cow Playerz.

Penggunaan bahasa alay rupanya merata dari Indonesia di bagian paling barat sampai paling timur. Enjel (12) yang tinggal di Desa Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku, kerap menulis SMS dengan kata-kata tanpa huruf vokal. Dia meniru gaya itu dari sesama temannya.

Di Aceh, Muhammad Arif Fadhilah, saat kuliah Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Program Pascasarjana di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, memublikasikan penelitian berjudul Tinjauan Sosiolinguistik Tentang Penggunaan Bahasa Alay Dalam Jejaring Sosial dengan subyek penelitian teman-temannya di Facebook. Salah satu kesimpulannya, bahasa alay digunakan sebagai ajang eksistensi dan untuk menonjolkan diri sehingga mereka akan mendapat perhatian dari lingkungan sekitar.

Ingin diakui

Hal itu ditegaskan pakar komunikasi dan budaya pop Idi Subandy Ibrahim yang juga pernah meneliti dan menulis tentang bahasa gaul. ”Bahasa alay itu sebagai alat untuk mempererat pergaulan dan keintiman,” ujar Idi.

Dia menambahkan, sebenarnya pengguna bahasa alay juga tengah menunjukkan kebingungan dan sikap tidak suka dengan bahasa rumit yang mengajak berpikir. ”Juga sikap ingin diakui. Kalau sudah diakui, mereka merasa ada,” katanya.

Oleh karena itu, pengguna bahasa alay cenderung membentuk komunitas sesama pengguna agar mendapat pengakuan itu.

Bagi Idi, penggunaan bahasa alay tidak perlu dipermasalahkan jika hanya menjadi ”penyedap” masa remaja. Kecuali jika penggunaan bahasa alay itu dilakukan secara menerus hingga tahap dewasa, baru mengkhawatirkan. Sebab, bahasa itu cermin sikap berpikir. Jika keterusan, akan muncul generasi yang mudah menyederhanakan permasalahan.

Benar kiranya yang dilakukan Erisa terhadap Yayu. Dia meminta anaknya untuk kembali terbiasa tertawa normal sembari menegaskan bahwa LOL itu untuk ditulis, bukan diucapkan. Erisa tak mau anaknya menjadi bagian dari generasi bingung dan membingungkan ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s