Cuma Bahasa Slang, Jangan “Baper”

Sarie Febriane & M. Hilmi Faiq, Kompas, 25 Okt 2015

Ilustrasi: KOMPAS/Riza Fathoni

Ilustrasi: KOMPAS/Riza Fathoni

Apakah Anda cukup akrab dengan istilah seperti LOL, LMAO, kthxbye, XOXO, BRB, YOLO, ROTFL, FTW, FYI, OMG, atau ZOMG? Dapatkah Anda mengira arti kata-kata berikut, seperti warbiyasak, gaes, gosah, ciyus, mager, baper, woles, gegara, tetiba, atau KZL? Bukan bahasa, melainkan itulah slang di jagat virtual.

Badan sekelas Biro Investigasi Federal AS (FBI) tidak menganggap enteng bahasa slang di internet. Hingga 2014, FBI mendata ribuan istilah slang yang beredar di internet, khususnya media sosial. Bagaimanapun, teks melalui pelantar atau platform digital nyatanya melahirkan kultur siber tersendiri. Sesuatu yang bisa disyukuri, dikhawatirkan, atau bagaimana?

Jika kita kebingungan dengan semua istilah di atas, bisa jadi kita tergolong kaum kurang pergaulan dalam kehidupan virtual. Kuper sendiri slang yang sudah dipahami luas lintas generasi, baik muda maupun renta.

Jika Anda kelebihan waktu bisa menekuni kamus paling lengkap untuk memahami semua istilah slang di internet, yaitu yang telah disusun dengan tekun oleh FBI. Untuk mengintip glosarium FBI sebanyak 83 halaman tersebut, Anda tinggal bertanya kepada Mbah Google dengan mengetik kata kunci ”Twitter shorthand”. Kemudian, silakan melongo menekuninya berjam-jam atau berhari-hari.

Meski begitu, tampaknya slang dari netizen Indonesia belum menjadi kepedulian FBI, sekalipun konon populasi rakyat media sosial di negeri ini cukup menonjol di dunia. Beberapa istilah slang di atas itu, warbiyasak berarti luar biasa, ciyus adalah serius, mager kependekan dari malas gerak, baperakronim dari bawa perasaan, gegara versi singkat dari gara-gara. Lantas apakah itu ’KZL’? Tak lain adalah kesal yang dibaca kezel….

Sekarang mari kita intip contoh pemakaiannya, misalnya di jagat Twitter. Salah satu akun dengan lebih dari 190.000 pengikut atau follower, @ndorokakung, misalnya, beberapa kali menggunakan istilah ’warbiyasak’ untuk pengganti ’luar biasa’. Contohnya dalam cuitan yang mengomentari berita mengenai politisi yang meminta publik jangan menghina anggota DPR. Akun @ndorokakung pun bercuit, ”Haji Lulung warbiyasak :)”.

Lain waktu akun @ndorokakung bercuit, ”politisi itu rata-rata baper yak, dikasari dikit ngambek, gitu?” Cuitannya itu kemudian disamber akun @santokocomoto, ”Baper bahasamu Ndor, udah kayak fans JKT48”. Istilah ’baper’ dalam percakapan pergaulan seperti hendak menggambarkan emosi yang melebihi sekadar sensitif, yakni semacam kualitas mental yang agak lembek dan labil. Pada kesempatan lain, @ndorokakung bercuit jenaka, ”Dulu yang pidato bapaknya. Tahun ini sang anak mungkin merasa jatahnya. Eh ternyata malah cuma petugas yang maju. Kzl!”

Seperti apa sang pemilik akun @ndorokakung, yang bernama asli Wicaksono ini? Bahasa slang termutakhir saat ini tak lagi menjadi celotehan kaum muda saja. Wicaksono sendiri usianya sudah berkepala lima. Namun, seperti celotehan virtualnya yang segar, penampilannya pun sehari-hari kasual, kemeja dikeluarkan, celana semikargo, dan sepatu loafer kanvas.

Kegemarannya menggunakan istilah slang diakuinya tak terlepas dari urusan dunia kerja, yang membuatnya perlu selalu lekat dengan fenomena terkini. Wicaksono sehari-hari memimpin redaksi beritagar.id, situs yang mengumpulkan, menganalisis, dan mengurasi konten berita yang bertebaran di internet untuk disajikan ulang menjadi konten berita yang tepercaya.

”Saya kan ingin tahu semuanya. Untuk pekerjaan juga sebenarnya. Banyak hallah. Mendapatkan jaringan baru lewat sosial media, kenalan baru, untuk memahami anak, mengenali teman, dunia kerja juga,” kata si mbahnya media sosial ini.

Penyingkap usia

Nah, harus kesalkah kita dengan fenomena bahasa compang-camping seperti ini? Sebelum bersikap, mungkin kita perlu mengingat bagaimana fenomena bahasa pergaulan pada masa lalu yang berkembang melalui jalur analog. Mundur sedikit, tak terlalu jauh, di era 80-an, kawula muda Jakarta, misalnya, mengenal istilah ’boil’ untuk mobil, ’spokat’ untuk sepatu, ’bonyok’ untuk ’bokap-nyokap’ atau ayah- ibu, dan seterusnya.

Ida Fajar Priyanto, peneliti dari Pusat Kajian Informatika Sosial Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, mengatakan, fenomena bahasa slang dapat dipetakan dari aspek penggunanya. Dalam dunia digital, ada lima macam generasi. Generasi digital monk yang lahir di era kemerdekaan Indonesia atau sebelumnya, digital immigrant yang menggunakan teknologi informasi dan komunikasi di usia lanjut, digital settlers yang lahir pada 1965-1980-an yang selalu mengikuti perkembangan teknologi, digital natives Y dan Z yang lahir di era teknologi informasi berbasis web, dan generasi alpha yang lahir di atas tahun 2010 ketika teknologi informasi sudah kian matang dan serba terkoneksi.

Dalam peta generasi ini, menurut Ida, generasi digital settlers yang dari era lama terbilang paling mampu mengikuti bahasa slang di era digital. Wicaksono, pemilik akun @ndorokakung, bisa menjadi contohnya. Hanya generasi digital settlers cenderung lebih berkesadaran menggunakan istilah-istilah itu sesuai dengan konteks dan tujuan. Generasi ini, singkat kata, masih mengenal baik versi sejati dari bahasa formal.

Bahasa slang digital akan terus tumbuh pesat dari generasi digital natives (Y, Z, dan nantinya alpha). Mereka menggunakannya secara alamiah begitu saja dalam kehidupan sehari-hari. Sementara istilah slang pada era lama lambat laun memudar dengan sendirinya, sekalipun masih ada yang bertahan lintas generasi.

Mia (19), misalnya, mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan Bandung, ini mengaku masih kerap menggunakan istilah ’bokap- nyokap’ untuk ayah-ibu. Namun, istilah ’gokil’ untuk gila sudah jarang ia dengar di antara teman- temannya.

Seperti kata Wicaksono juga, bahasa bisa menjadi penyingkap usia, termasuk ketika seseorang menggunakan istilah slang. Sebab, setiap generasi memiliki bahasa slang tersendiri yang daya hidupnya bergantung pada seberapa aktif digunakan penuturnya.

Menghemat waktu?

Slang juga lahir dan tumbuh karena pembawaan dari karakter teknologi yang digunakan. Slang yang berakar dari kebiasaan menyingkat kata-kata, misalnya mulai lahir sejak orang terbiasa berkirim SMS melalui ponsel. Ada kebutuhan untuk menyingkat agar menghemat biaya SMS. Begitu pula dengan Twitter yang membatasi 140 karakter dalam sekali cuitan.

Namun, ketika berkirim teks bisa dilakukan melalui aplikasi cakap-cakap secara gratis, orang masih tetap cenderung menyingkat dengan alasan umumnya untuk berhemat waktu.

”Waktu yang dihemat orang- orang dari menyingkat kata-kata itu digunakan untuk apa? Menurut saya, ya, waktu yang dihemat itu paling untuk melakukan hal-hal enggak produktif lainnya, he-he-he,” ujar Wicaksono.

Bahasa slang datang dan pergi mengikuti eksistensi penuturnya. Hanya daya viral media sosial masa kini membuat gejalanya bisa terasa begitu menonjol dalam cakupan geografis yang luas dalam waktu singkat.

Ivan Lanin, pemerhati bahasa sekaligus wikipediawan, mencermati, gejala pemangkasan dan pemelesetan kata di masa kini juga sebenarnya sudah lazim terjadi dalam bahasa percakapan sejak di masa-masa sebelum era digital. Sebut saja, misalnya, mencuci menjadi ’nyuci’, menggali menjadi ’ngegali’. Belum lagi soal akronim, yang juga diadopsi oleh lembaga-lembaga negara dan dunia kemiliteran.

”Saya pribadi tidak terlalu khawatir dengan gejala ini. Menurut saya, fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Variasi bahasa seperti ini menimbulkan suasana luwes dan hangat di lingkungan teman dalam ragam percakapan,” kata Ivan.

Meski begitu, ada hal yang bisa dikhawatirkan juga. Menurut Ivan, yang perlu dikhawatirkan adalah ketidakmampuan orang untuk membedakan situasi penggunaan bahasa. Ragam bahasa percakapan Indonesia sangat berbeda dengan ragam formalnya.

Ragam bahasa harus digunakan sesuai kondisi sehingga bisa disebut sebagai bahasa yang baik, yaitu yang sesuai konteks. Jangan sampai, misalnya berkirim pesan teks kepada dosen berbunyi, ”Warbiyasak, Mz. Pdhl Sy Mau-x gak gitU.”

2 thoughts on “Cuma Bahasa Slang, Jangan “Baper”

  1. Reblogged this on Abhinaya and commented:
    “…yang perlu dikhawatirkan adalah ketidakmampuan orang untuk membedakan situasi penggunaan bahasa. Ragam bahasa percakapan Indonesia sangat berbeda dengan ragam formalnya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s