Iklan 3M

Meirisa Isnaeni*, Media Indonesia, 25 Okt 2015

Ilustrasi: Dinas Kesehatan Denpasar

Masih Anda ingat iklan 3M? Bagi sebagian orang, iklan itu mungkin sudah biasa: ditonton dan didengar. Saban nyamuk menyerang dan demam berdarah berjangkit, iklan itu pun bergegas menghiasi layar televisi Anda. Iklan itu menggaungkan pesan menguras, menutup, dan mengubur.

Secara sepintas, iklan 3M itu tidak ada masalah. Menarik dan sedikit menggemaskan. Apalagi, iklannya dibawakan dengan sedikit kelucuan. Derai tawa akan tersungging dari bibir Anda.

Namun, kalau kita amati lekat, kalimat dalam iklan tersebut menggantung karena kalimat aktif (menguras, menutup, dan mengubur) yang berposisi sebagai predikat tidak disertai dengan objek yang sama.

Jika predikat menguras disertai objek bak mandi, tentu saja konstruksi itu mudah dipahami. Namun, bagaimana bila verba mengubur yang dipasangkan bak mandi? Tentu saja tidak lazim, lucu, dan tertolak secara logika.

Walaupun dimungkinkan, struktur mengubur bak mandi sama artinya dengan membuang atau merusak benda itu. Padahal, yang dimaksud iklan itu mengubur benda tidak terpakai, rusak, atau bertumpuk di gudang karena benda itulah yang diyakini menjadi sarang nyamuk.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata menguras berarti “membersihkan (kulah dst) dengan air; mengalirkan air untuk membersihkan selokan, dst; menghabiskan isi sesuatu”. Verba kata menutup berarti “menjadikan tidak terbuka (seperti menyatukan, mengunci, dan merapatkan)”, sedangkan kata mengubur berarti “memakamkan ke dalam kubur; menanamkan mayat; dan mengebumikan”.

Agar pesan yang disampaikan jelas, sejatinya predikat menguras, menutup, dan mengubur ditempeli dengan objek yang berbeda, seperti menguras bak mandi, menutup bak mandi, dan mengubur barang-barang bekas (yang sudah tidak digunakan).

Mari kita cermati iklan yang serupa, yaitu tentang uang palsu: dilihat, diraba, dan diterawang (3D). Tentu juga Anda masih ingat, kan? Iklan itu berupa anjuran agar kita terhindar dari pelaku kejahatan uang palsu. Sebagai tindakan preventif, kita pun harus melakukan tiga hal dengan uang sebagai objek tunggal: uang dilihat, uang diraba, dan uang diterawang.

Verba dilihat, diraba, dan diterawang (3D) untuk memastikan uang tersebut asli atau palsu memiliki subjek yang sama, yakni uang. Secara struktur dan logika, rangkaian itu berterima.Dalam kalimat pasif itu, uang berfungsi sebagai subjek.

Mari bandingkan dengan iklan 3M sebelumnya, misalnya menguras bak mandi, menutup bak mandi, dan mengubur bak mandi. Tentu saja tidak ikonis dan tidak lejas.

Pada iklan 3M, ada penggunaan kalimat yang serampang kaidah dan struktur karena objek yang dilesapkan dipaksa merujuk pada hal yang sama, yakni bak mandi. Padahal, sejatinya objek yang dilesapkan minimal mengacu pada dua benda yang berbeda. Pendengar atau penonton hanya dapat memahami di ruang penafsiran atau pemaknaan dari konteks iklan. Tanpa konteks, tentu saja iklan itu akan menghadirkan keambiguan.

Sebaliknya, iklan 3D menampakkan urutan akal yang berklimaks. Aktivitas yang dianjurkan berawal dari kata dilihat, diraba, lalu diterawang.

Dari tujuan dua iklan itu, yakni memengaruhi, memang keduanya sudah menggunakan diksi yang diturunkan dengan afiks yang sama, yakni me-N (untuk 3M) dan di (3D). Akan tetapi, jika dilihat dari struktur kalimat, hanya iklan 3D (dilihat, diraba, dan diterawang) yang mampu memunculkan struktur dan logika yang benar. Berterima, kan?

* Staf Bahasa Media Indonesia 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s