Pengkhianat Vs Pengkhianat

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 31 Okt 2015

Ilustrasi menusuk dari belakang. Sumber: The Globe and Mail

Dilihat dari sebelah sini akal bulus. Dilihat dari sebelah sana akal tembus. Begitulah khianat. Ada pengkhianat di antara kita? Sakitnya tuh di sini.

Ketika bulan lalu Sang Jenderal menuding Nursyahbani Katjasungkana, pejuang hak asasi manusia, di layar TV, tiada keraguan apa yang dia maksudkan. Pengkhianat adalah musuh dua kali lipat. Musuh terang-terangan masih bisa dihormati oleh keberaniannya. Musuh dalam selimut adalah kehinaan.

Akan tetapi, ada permainan kata yang subtil dan disengaja di sini, suatu kerancuan terpendam sebab khianat adalah kata bermuka dua, bahkan lebih. Ada khianat personal emosional. Ada khianat etis universal. Fitrah dan citra khianat bergantung pada fakta, data, etika, emosi, sejarah, serta interaksi antara penuduh dan tertuduh. Khianat memiliki 1.001 konotasi nuansif.

Khianat amat dramatis ada pada kasus percintaan, dalam arti ketaksetiaan. Pengkhianat cinta dibenci sebab hati adalah mustika hidup. Hati yang dilukai takkan pernah sembuh sempurna.

Dalam konteks kebangsaan, pengkhianatan dalam arti pembocoran rahasia atau penggerogotan kekuasaan bisa berdampak dahsyat. Film 300 melukiskan dampak maut pengkhianatan Efialtes si buruk rupa terhadap para pahlawan Sparta tampan. Sampai sekarang, setelah 2.500 tahun, Efialtes dalam bahasa Gerika masih bersinonim dengan pengkhianat, juga berarti mimpi buruk. Film G30S/PKI menggiring penonton membenci jutaan orang yang dituduh pengkhianat bangsa, dengan membunuh mereka sekali lagi dan lagi, karakter sesudah fisik, sampai 50 tahun kemudian. Kata PKI pun identik dengan pengkhianat.

Kalau kita menaruh kepercayaan lalu membayar seorang penjaga melindungi rumah kita, menyerahkan kepadanya tanggung jawab besar atas keselamatan keluarga kita, lalu dia justru menggarong rumah kita dan melukai, bahkan menculik dan membunuh anak-anak kita, itulah khianat hina amat menyakitkan. Nenek moyang kita melukiskannya seperti pagar makan tanaman.

Khianat moral dan universal biasanya mengambil wujud yang melampaui pihak, orang atau golongan. Yang dikhianati: prinsip etika dan kemanusiaan. Satu cara mudah memahaminya adalah dengan merenungkan yang sebaliknya, khianat lokal, tapi setia universal. Bayangkan, seorang pegawai negeri yang berkhianat kepada atasan dan koleganya dengan membongkar praktik korupsi mereka. Diam-diam mengumpulkan bukti tak terbantah kemudian menyerahkannya kepada pemberantas korupsi.

Seseorang yang menutup-nutupi penyakit bangsa dan negara, yang diam melindungi penjahat berpangkat tinggi, mungkin bisa dianggap setia terhadap baju negara, tapi hanya sedikit lebih baik daripada pengkhianat yang menyerahkan data rahasia negara kepada musuh. Sebaliknya seseorang yang, seperti Nursyahbani, membongkar luas data untuk membasmi kejahatan, yang berguna mengerat akar busuk, untuk memperbaiki jati diri sang nusa, menyembuhkan borok negara, dan memperbarui cita-cita bangsa, agar lebih adil mulia, dia pengkhianat hanya bagi mereka yang sakit moralnya, tapi pahlawan kesetiaan bagi insan semua.

Dipermalukanlah mereka yang setia kepada atasan, korps, kolega, keluarga, dengan pada saat sama mengorbankan orang lemah dan tertindas sebab merekalah pengkhianat rakyat. Hendaklah cemooh mengiringi nama mereka sepanjang masa. Dipermuliakanlah mereka yang dianggap khianat kepada negara, komunitas, bahkan bangsa demi kebenaran, keadilan, dan kemerdekaan orang teraniaya, miskin, dan tak berdaya sebab merekalah yang setia kepada kemanusiaan umat semesta.

* Penggumul Makna Kata

One thought on “Pengkhianat Vs Pengkhianat

  1. Sadarkah nursyahbani katjasungkana bahwa caranya ini dapat memecah belah bangsa dan membuka kembali kejadian di mata dunia internasional?
    Jika Tidak, maka “maaf” tolong belajar lagi
    Jika Ya, maka “rasanya pantas jika di sebut pengkhianat bangsa Indonesia”
    Dengan cara ini. Apa dasar dan tujuan dia yang sebenarnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s