Isotopi Sumpah Pemuda

Suprianto Annaf*, Media Indonesia, 1 Nov 2015

Ilustrasi Sumpah Pemuda (iBerita.com)

Memperingati Sumpah Pemuda akan menghadirkan kembali semangat yang heroik. Semangat yang mestinya memecah kesukuan, tetapi meneguhkan rasa persatuan. Semangat berbangsa yang tidak boleh dibiarkan luntur, yang tidak boleh ditukar dengan apa pun, termasuk kemewahan.

Kata dalam sumpah dan pemuda memang memiliki komponen makna perjuangan. Menjadi manifestasi dari semangat dan tekad generasi muda untuk bersatu memperjuangkan negara agar terbebas dari kolonialisme. Diwariskan dari pemuda-pemuda hebat yang cinta Tanah Air dan kemerdekaan. Pemuda yang meletakkan fondasi bela negara pada zamannya.

Mengapa para pemuda memilih kata sumpah dan pemuda? Bukankah masih ada kata janji, ikrar, atau tekad, lalu dipasangkan pada kata pemuda? Kenapa pula yang dipilih pemuda, bukan warga atau Indonesia, sehingga kita mengenal “Janji Warga” atau “Janji Indonesia”?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata sumpah merupakan “pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang dianggap suci (untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhannya dsb)”, sedangkan janji berarti “ucapan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan”.

Komponen makna bersama dari isotopi sumpah di atas ialah “pernyataan resmi, suci, berkaitan dengan Tuhan, dan sungguh-sungguh”. Hal ini menunjukkan bahwa sumpah merefleksikan kesungguhan pemuda atas tekad yang disandarkan atas nama Tuhan. Sebaliknya, isotopi janji hanya mengungkapkan kesiapan dan kesanggupan, tanpa dikaitan dengan atas nama Tuhan. Mungkin juga janji hanyalah janji: manis di mulut, tetapi tanpa realisasi. Bisa saja janji akan mudah diingkari, tidak terbukti.

Beda lagi dengan kata ikrar. Komponen makna isotopi ikrar menyatakan “janji yang sungguh-sungguh; pengakuan”. Dalam komponen ini, kesungguhan bertanah air, berbangsa, dan berbahasa persatuan Indonesia merupakan ikrar dari Sumpah Pemuda.

Untuk kata pemuda, di KBBI ditemukan dua kata pemuda. Pertama, kata pemuda yang merupakan turunan dari kata muda yang berarti “orang yang masih muda; orang muda: – harapan bangsa”. Yang kedua, kata pemuda yang merupakan leksem dasar, “orang muda laki-laki; remaja; teruna: para — ini akan menjadi pemimpin bangsa”.

Bila menilik makna pertama, kata pemuda dibatasi dengan waktu. Hanya orang yang berusia masih muda yang berlabel pemuda: distandarkan kisaran 16 sampai 30 tahun (UU Kepemudaan). Dalam bingkai ini, berusia lebih dari 30 tahun tidak disebut pemuda.

Dalam arti kedua, selain muda, label pemuda ikonis dengan laki-laki dan remaja. Pemaknaan ini hanya bertuju kepada lelaki yang belum menikah. Di luar ketentuan itu tidaklah disebut pemuda. Pembatasi ini juga merelasikan antara persona pemuda dan pemudi.

Semua yang dilabeli di atas menunjukkan pemuda memiliki peran penting. Selain berusia muda, pemuda memiliki semangat yang tinggi dan menjadi sentral pergerakan di negeri ini. Bukan sebaliknya. Bung Karno berkata, “Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Dengan begitu, dapat dikatakan pemuda adalah harapan bangsa dan tulang punggung kemajuan bangsa ini. Jika pemuda rusak, hancurlah negara. Jika pemuda hebat, majulah bangsa Indonesia. Peran sebagai seorang pemuda sangat dibutuhkan oleh negeri tercinta. Selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda.

* Staf Bahasa Media Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s