Bahasa Indonesia dan Perempuan

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 9 Nov 2015

Ilustrasi: Kongres Perempuan Indonesia I, 22 Desember 1928 (Mindtalk)

Pada 1978, Sujatin Kartowijono mengenang kejadian-kejadian bersejarah. Gairah kemodernan dan nasionalisme diejawantahkan melalui perkumpulan Wanito Utomo dan Putri Indonesia. Berita Sumpah Pemuda (1928) membuat Sujatin berdebar, tapi bersemangat memajukan bangsa. Sujatin ingin “kaum wanita harus dibangkitkan” dan “diberi semangat nasional”. Dua bulan setelah Sumpah Pemuda, Sujatin bersama para tokoh perempuan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I. Ingatan penting dari masa lalu: “… bahasa Indonesia dipergunakan dalam sambutan dan uraian.” Kaum perempuan membuktikan isi Sumpah Pemuda dengan berbahasa Indonesia!

Pada 22-25 Desember 1928, para tokoh perempuan berpidato dan berdialog menggunakan bahasa Indonesia. Tulisan dan keputusan-keputusan kongres diterbitkan dalam majalah Isteri edisi Mei 1929. Susan Blackburn (2009) menganggap kongres itu manifestasi berbahasa nasional dan persatuan nasional. Situasi pendidikan bagi kaum perempuan pada 1920-an memungkinkan mereka bisa mempelajari dan menggunakan bahasa Melayu, sebelum berganti sebutan menjadi bahasa Indonesia. Blackburn mengandaikan bahwa para tokoh perempuan itu memiliki komitmen nasionalis untuk bertekad berbicara dan menulis dalam bahasa Indonesia.

Kita simak penggunaan bahasa Indonesia dalam pidato pembukaan: “Pada dewasa ini soedah terliatlah kepentingannja pergerakan kaoem estri djaman kegelapan. Jalah djaman di dalem mana kaoem estri hanja dianggap baik boeat di dapoer sahadja, itoe soedah laloe. Djaman sekarang jang bisa dibandingkan djaman kemadjoean. Oleh karena itoe djaman ini soedah waktoenja boeat mengangkat deradjatnja estri, agar soepaja kita tida terpaksa doedoek di dapoer sadja.” Bahasa Indonesia masih terasa kaku dan aneh. Kita merasa ada pengaruh-pengaruh dari bahasa dalam cerita-cerita gubahan pengarang keturunan Tionghoa, bukan bahasa dalam novel-novel terbitan Balai Pustaka pada 1920-an.

Bahasa Indonesia memang belum memiliki ketentuan-ketentuan baku untuk dipergunakan dalam tulisan dan pidato. Bahasa itu masih bertumbuh dengan pelbagai kemungkinan menjadi bahasa modern. Barangkali kita pantas membedakan kemahiran berbahasa para tokoh perempuan dengan kemampuan berbahasa para tokoh lelaki dalam Kongres Pemuda II. Pendapat-pendapat disampaikan para lelaki dalam “kebingungan” berbahasa Indonesia akibat pengaruh bahasa asing dan bahasa ibu. Mereka hasil pendidikan modern, berpikir dan berkomunikasi menggunakan bahasa Belanda. Bahasa ibu mungkin masih dimengerti meski perlahan surut. Kongres Pemuda II memang bernuansa lelaki. Pidato dan omongan mereka terasa tegas dan mengarah ke perdebatan.

Bahasa Indonesia mengandung rangsangan membentuk identitas, nasionalisme, dan pengetahuan modern.

Kita mengenang kejadian dan bahasa Indonesia pada 1928 cenderung ke tokoh lelaki: Muhammad Yamin, Sugondo Djojopuspito, S. Mangunsarkoro, dan Soenario.

Peran kaum perempuan segera dibuktikan dengan Kongres Perempuan Indonesia I. Mereka berhak menandingi atau menghindari dominasi bahasa dari para tokoh lelaki. Pidato S.Z. Goenawan dari Roekoen Wanodijo berjudul “Salah Satoe Wadjibannja Orang Perempoean” pantas jadi bukti kemauan perempuan menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Kalimat-kalimat di akhir pidato: “Setengah orang kata, bahasa Indonesia bakal mendjadi madjoe bila kita soedah mendjadi perempoean tetiron Barat (imitatie), pada hal ada banjak jang kita sama sekali ta’ dapat memakainja. Barang jang memakai merek bagoes itoe beloem tentoe ada soeatoe barang jang sedjati (toelen) serta sebenarnja memang bagoes.” Kemajuan bahasa Indonesia turut ditentukan peran kaum perempuan. Seruan itu perlahan dibuktikan oleh peran perempuan saat berbahasa Indonesia dalam pergerakan politik kebangsaan, pendidikan, pers, dan sastra. Mereka tampil sebagai pejuang bahasa Indonesia.

Peran kaum perempuan agak terlambat mendapat pengakuan di Indonesia. Sepuluh tahun setelah Sumpah Pemuda, para pejuang bahasa Indonesia mengadakan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Daftar pembicara: Sanoesi Pane, Ki Hadjar Dewantara, H.B. Perdi, Amir Sjarifoeddin, Muhammad Yamin, Soekardjo Wirjopranoto, Sutan Takdir Alisjahbana, S. Pamoentjak, dan M. Tabrani. Para tokoh perempuan sebagai pejuang bahasa Indonesia memang tak mendapat tempat terhormat dalam Kongres Bahasa Indonesia I, tapi mereka tak diam. Mereka tetap menunaikan misi memajukan bahasa Indonesia.

Kita tentu mengingat bahwa keputusan memperingati Hari Ibu terjadi pada 1938. Pemilihan sebutan “ibu” termasuk pekerjaan memuliakan bahasa Indonesia jika kita mengenang keragaman penggunaan dan sebutan pada 1920-an. Sitti Soendari dalam pidato berjudul “Kewadjiban dan Tjita-tjita Poeteri Indonesia” menggunakan sebutan penghormatan saat berpidato dalam Kongres Perempuan Indonesia I: “Poeteri Indonesia! Kaoem iboe Indonesia! Bangsa perempoean jang terhormat! Poeteri Indonesia jang moelia! Kaoem iboe jang tertjinta! Bangsa perempoean jang termoelia! Kaoem isteri jang tertjinta!” Pidato itu warisan penting agar kita sanggup mengartikan “poeteri”, “iboe”, “isteri”, dan “perempoean”. Sebutan-sebutan itu tak cukup dimengerti cuma berbekal kamus-kamus. Kita mesti membuka lagi halaman-halaman dokumentasi sejarah dan membuka buku-buku biografi tokoh perempuan sebagai penggerak sejarah.

* Pengelola Jagat Abjad Solo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s