Gonta-ganti Istilah

Damiri Mahmud*, KOMPAS, 14 Nov 2015

Ilustrasi sekolah (Sumber: Tabung Wakaf Indonesia)

Dalam seluk-beluk bahasa dikenal apa yang disebut dengan istilah. Waktu saya mengaji dulu, dipelajari apa yang disebut dengan makna lughat dan makna isthilah. Makna lughat adalah arti yang tersurat, sedangkan makna isthilah adalah arti khusus atau tersirat. Dicontohkan arti lughat kata shiyam adalah ’menahan’, sedangkan arti isthilah-nya ’menahan diri dari yang membatalkan puasa mulai terbit fajar hingga terbenam matahari’.

Dalam bahasa Arab sebuah kata yang telah menjadi istilah, telah baku artinya, senantiasa tidak berubah sehingga memudahkan kita memahaminya, tidak tumpang-tindih, dan tidak membingungkan. Dari dahulu sekolah menengah disebut madrasah tsanawiyah hingga sekarang. Tak ada madrasah aliyah seperti di negeri ini.

Mungkin dalam bahasa Inggris begitu juga. Kalau ada alat teknologi yang baru ditemukan, untuk penamaan benda baru itu, lebih dahulu dicarikan kata-kata yang sudah ada. Misalnya komputer. Kata computer arti tersuratnya adalah mesin hitung. Sekarang dia telah menjadi istilah dengan cakupan arti yang begitu luas.

Sebaliknya, dalam perkembangan bahasa Indonesia dewasa ini kita melihat sebuah istilah selalu berubah untuk makna yang sama. Kita—terutama para ahli bahasa—selalu mengubah dan merasionalkan sebuah istilah. Misalnya, istilah kementerian diubah menjadi departemen, kembali lagi ke kementerian. Istilah SMA diubah menjadi SLTA lalu diubah lagi menjadi SMU kemudian kembali ke SMA. Ini namanya tidak konsisten dan membingungkan. Lebih jauh, karena istilah di atas bagian atau kewenangan sebuah lembaga resmi, dampak kemubazirannya sungguh luar biasa. Seluruh kertas surat dan buku-buku pelajaran harus diganti. Begitu juga cap dan stempel, papan nama serta baju seragam. Miliaran, bahkan triliunan, rupiah belanja negara amblas hanya untuk mengganti satu kata yang nyatanya sia-sia saja.

Istilah guru diubah menjadi pendidik dan murid menjadi anak didik, berubah lagi peserta didik. Istilah sastrawan diubah menjadi praktisi sastra, sementara ahli sastra menjadi teoretisi sastra.

Pengubahan istilah itu tampaknya upaya merasionalkan arti yang tercakup di dalamnya. Misalnya istilah SMA (sekolah menengah atas) tadi. Kata menengah artinya berada di tengah. Sudah berada di tengah mengapa dikatakan pula atas? Ini tak rasional. Lalu diubah menjadi SLTA (aekolah lanjutan tingkat atas). Lalu dipikirkan lagi, mengapa SLTA sedangkan yang setingkat di bawahnya adalah SLTP (sekolah lanjutan tingkat pertama). Mestinya tentu bukan SLTA, tapi SLTK (sekolah lanjutan tingkat kedua). Setelah dipikir-pikir ini tidak kena karena, kalau begitu, mesti ada SLTK (sekolah lanjutan tingkat ketiga). Ini tak rasional. Maka, dipilihlah gantinya SMU (sekolah menengah umum) karena peserta didik—sangat enak dan rasional istilah ini—yang mengikuti pembelajaran (apa pula artinya ini) di sini semata-mata mempelajari yang umum, menyeluruh, bukan yang khusus. Karena sudah dirasa cocok, maka sekolah yang mempelajari bidang tertentu perlu pula diganti. STM (sekolah teknik menengah) dan SMEA (sekolah menengah ekonomi atas) menjadi SMK (sekolah menengah kejuruan).

Tak cukup hingga di situ, istilah SMU perlu dipikir ulang. Ini tak rasional. Mengapa? Karena lihat punya lihat dalam kamus, ternyata arti umum itu lebih kepada rakyat banyak, khalayak ramai, untuk orang banyak, untuk siapa saja, sudah (rata) tersiar ke mana-mana, diketahui orang banyak. Maka, SMU pun sudah tak rasional dan harus pula diganti. Namun, apa pula istilah yang lebih tepat? Mungkin karena bingung dan tak mendapat nama lain, dikembalikan saja ke istilah lama: SMA (memang terdengar lebih enak). Lagi pula para sosiolog sekarang sudah getol membagi strata menengah itu kepada menengah bawah dan menengah atas. Sudah kloplah itu!

Lalu, ada pula pembelajaran. Konon istilah ini menyangkut metode belajar yang penekanannya lebih kepada murid atau siswa (eh, peserta didik, maaf). Karena soal metode belaka, kita tak perlu menukar istilah. Sebagai analogi, suami istri yang ingin mengubah kiat bagaimana supaya rumah tangga lebih harmonis, misalnya, dengan memberi penekanan lebih memperhatikan perkembangan dan pendidikan anak tentu tak perlu menukar istilah suami istri dengan laki bini. Semestinya kita menghindari kata berimbuhan yang bertumpang-tindih dengan konfiks dan simulfiks untuk dijadikan istilah sebab pemahamannya rumit dan membingungkan.

* Penyair, Esais

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s