Mala- yang Malasuai

Riko Alfonso*, Media Indonesia, 15 Nov 2015

Ilustrasi: Daily Star

Saat rapat bujet redaksi yang salah satu isinya mengevaluasi isi semua berita–termasuk kesalahan tulisan dan istilah–di dalam koran kami, seorang kawan redaktur mencolek saya dan bertanya mengapa terdapat ketidakkonsistenan dalam penulisan kata malnutrisi. Sepengetahuan dia, istilah yang dipakai untuk mendefinisikan “tidak normal, buruk” ialah bentuk terikat mala-. Oleh karena itu, dia bertanya, mana yang sebenarnya dipakai, malnutrisi atau malanutrisi. Berdasarkan pertanyaan sederhana itu, saya pun tergerak untuk mengangkat masalah ini menjadi sebuah topik tulisan.

Biasanya, ketika muncul pertanyaan “mana kata yang baku” dari kawan redaktur, kami para staf bahasa selalu mengacu kepada apa yang tertulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Keempat. Akan tetapi, dalam kasus malnutrisi, saya malah menemukan ketidakkonsistenan KBBI terkait dengan penggunaan bentuk terikat mala- ini. Bentuk mala- terdapat dalam bahasa Jawa Kuna yang bermakna “noda, cacat, membawa rugi, celaka, sengsara”. Dalam perkembangannya, bentuk itu diserap pula ke dalam bahasa Melayu dengan arti yang sama. Pada kedua bahasa itu, bentuk mala- merupakan unsur terikat yang tidak bisa berdiri sendiri.

Banyak istilah saya temukan dalam KBBI yang berasal dari bentuk terikat mala- ini, semisal malagizi, malasuai, atau malatindak.

Ternyata, dalam bahasa Inggris ditemukan pula bentuk terikat mal- yang bermakna sama dengan bentuk mala-. Malpractice, malabsorption, maldistribution, malfunction, atau malnutrition merupakan beberapa istilah berawalan mal- yang saya temukan dalam bahasa Inggris.

Pusat Bahasa (kini bernama Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa) tentu saja telah memuat padanan untuk istilah-istilah asing tersebut di dalam KBBI. Akan tetapi, di sinilah muncul malasuai yang dilakukan Pusat Bahasa dalam membentuk padanan untuk istilah-istilah asing tersebut. Misalnya saja untuk istilah malpractice. Dalam KBBI, istilah itu dipadankan menjadi malapraktik. Demikian pula dengan istilah malfunction dipadankan menjadi malafungsi. Ini berarti Pusat bahasa berpedoman bahwa bentuk mala- merupakan bentuk yang baku untuk dipakai sebagai padanan bentuk mal- dalam bahasa Inggris.

Dengan pedoman itu, seharusnya semua istilah asing yang berpadu dengan bentuk mal- dalam bahasa Inggris berubah dengan mengambil bentuk mala- saat diubah ke dalam bahasa Indonesia. Akan tetapi, kenyataan yang tertulis dalam KBBI berkata lain. Maldistribution yang seharusnya dipadankan menjadi maladistribusi malah ditulis menjadi maldistribusi. Kata malabsorption dipadankan menjadi malabsorpsi.

Ketika saya mencari tahu lebih dalam lagi tentang bentuk mala- ini di situs resmi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, saya bertambah bingung dengan ketidaksesuaian pedoman yang dipakai dalam menentukan padanan istilah asing. Dalam pembahasan mereka tentang “Malpraktik atau Malapraktik” disebutkan malabsorption dipadankan menjadi malaserap. Lalu, maldistribution dipadankan menjadi maladistribusi (bukan maldistribusi seperti di KBBI). Kata malnutrition yang dipadankan dalam KBBI menjadi malnutrisi malah dianjurkan memakai istilah malagizi.

Setiap pembentukan istilah yang berasal dari bahasa asing jelas perlu adanya sebuah pedoman. Pedoman yang sudah ada seharusnya dipegang teguh agar tidak tercipta malasuai yang membingungkan. Menurut hemat saya, tentu akan lebih bertanggung jawab apabila kita kembali saja pada pedoman awal penggunaan bentuk mala-, sehingga kita bisa menjadi yakin bahwa malanutrisi dan maladistribusi-lah istilah yang baku dalam bahasa Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s