Kurs

Arianto A. Patunru*, Majalah Tempo, 16 Nov 2015

Ilustrasi: Yexplore

Ketika seseorang dari Indonesia melancong ke luar negeri, misalnya ke Amerika Serikat, kemungkinan besar ia melakukan satu dari dua hal ini: menyiapkan sejumlah dolar selagi di Jakarta atau membelinya di bandar udara Amerika begitu ia sampai. (Tentu ia bisa menggunakan kartu kredit, tapi prinsipnya sama: ada konversi mata uang di dalam transaksinya.) Maka ia mempertimbangkan kurs: harga dari dolar—atau berapa banyak rupiah yang ia butuhkan untuk setiap satu dolar.

Istilah kurs berasal dari bahasa Belanda, koers. Kamus Inggris-Belanda menerjemahkan exchange rate menjadi wisselkoers (kita ingat wesel—surat tagihan yang dapat diuangkan). Keduanya kita terjemahkan di Indonesia menjadi nilai tukar. Saat ini koers (walau tanpa wissel) tampaknya sudah umum diterima dengan arti yang sama. Sekalipun secara harfiah berarti course atau arah, di Indonesia kurs berasosiasi dengan nilai tukar. Saya lebih suka menggunakan kurs karena lebih singkat.

Dalam ekonomi, istilah kurs berkaitan dengan beberapa konsep lain. Ketika kawan tadi menukarkan rupiahnya ke dolar, ia berurusan dengan “kurs nominal”. Misalnya Rp 10 ribu per dolar. Namun, ketika ia membelanjakan dolarnya di Amerika, “kurs riil” (real exchange rate dalam bahasa Inggris) menjadi lebih relevan: berapa banyak barang yang bisa dibeli oleh uangnya yang telah beralih wujud dari rupiah ke dolar tersebut. Jika uang sekadar berganti rupa, “seharusnya” ia bisa membeli barang yang persis sama di mana pun, bukan? Dengan kurs Rp 10 ribu per dolar tadi, sepotong burger di Jakarta seharga Rp 30 ribu seharusnya dapat diperoleh di New York dengan harga US$ 3. Jika benar, kurs riil adalah 1. Ternyata tidak. Harganya di sana adalah US$ 5. Maka, bila di Jakarta orang itu bisa membeli burger seharga Rp 30 ribu, di New York ia harus “mengeluarkan” Rp 50 ribu. Maka kurs sesungguhnya atau “kurs riil” adalah 1,66 (50.000/30.000). Apa yang terjadi?

Jawaban mudahnya adalah burger Jakarta dan burger New York itu tidak sama persis. Menurut prediksi ekonomi, harga sepotong daging di tempat berbeda akan sama dalam jangka panjang. Begitu juga harga roti. Barang-barang ini disebut tradables: komoditas yang dapat diperjualbelikan lintas negara. Namun ada komponen burger—selain daging dan roti—yang bersifat non-tradable atau tidak akan berpindah dari satu negara ke negara lain, seperti gerai atau restoran, sehingga tidak ada alasan untuk memprediksi konvergensi harganya di tempat yang berbeda. Teori bahwa harga akan sama dalam jangka panjang berlaku hanya untuk tradables. Perbedaan harga burger kita di atas mungkin disebabkan oleh faktor non-tradable.

Majalah The Economist secara rutin mengeluarkan daftar perbandingan nilai mata uang di dunia dengan cara menghitung daya beli masing-masing atas burger Big Mac. Sembari mengakui adanya peran dari faktor non-tradable, The Economist berargumen bahwa sebagian besar komponen burger Big Mac bersifat tradable. Implikasinya, dalam jangka panjang, harga burger Big Mac di mana pun akan cenderung sama—apa pun mata uangnya. Teori di balik Big Mac Index ini dikenal dengan nama purchasing power parity (PPP) atau kesamaan (paritas) daya beli. Kembali ke contoh di atas: kurs yang “menyamakan” harga burger di Jakarta dan New York (“kurs PPP”) adalah Rp 30 ribu per US$ 5 = Rp 6.000 per dolar. Jika dibandingkan dengan kurs nominal (kadang disebut “kurs aktual”) Rp 10 ribu per dolar tadi, kita katakan rupiah “terlalu lemah”—undervalued—sebanyak 40 persen (perbedaan antara 6.000 dan 10 ribu). Dalam kondisi seperti itu, teori PPP meramalkan bahwa rupiah “seharusnya” akan berangsur menguat, bergerak dari Rp 10 ribu menuju Rp 6.000 per dolar.

Sekarang, tentu saja “melemah” dan “menguat” di atas mengacu pada apa yang kita sebut depresiasi dan apresiasi. Jika kemarin kita butuh Rp 10 ribu untuk memperoleh satu dolar dan hari ini hanya perlu Rp 9.000, kita katakan rupiah mengalami apresiasi terhadap dolar. Tapi, jika hari ini yang kita butuhkan menjadi Rp 11 ribu, ada depresiasi. Kedua istilah ini jamak kita dengar di negara-negara yang menganut sistem kurs fleksibel, yang kursnya ditentukan oleh dinamika pasar. Di tempat lain yang sistemnya bersifat tetap (fixed), kurs ditentukan oleh negara. Di sini, pelemahan mata uang domestik disebut devaluasi—seperti yang dilakukan Cina pada Agustus lalu.

Dengan dunia yang semakin terintegrasi, peran kurs pun semakin penting, apa pun sistem atau rezimnya. Seperti yang pernah dikatakan Paul Volcker, mantan Gubernur Federal Reserve Bank, kurs adalah harga yang paling penting di setiap negara.

* Peneliti di Australian National University

One thought on “Kurs

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s