Ubah versus Rubah

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 23 Nov 2015

Ilustrasi: Kronotsky Reserve

Salah satu kata yang hampir selalu diucapkan salah, sehingga bisa dicatat oleh Museum Rekor-Dunia Indonesia (Muri), adalah ubah, karena terucapkan sebagai rubah, yang disebut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai: binatang jenis anjing, bermoncong panjang, makanannya daging, ikan, dsb; Canis vulpes (Pusat Bahasa, 2008: 1186). Dengan konsekuensi bahwa merubah adalah “menjadi rubah” dan dirubah adalah “dijadikan rubah”, dibakukanlah kata-kata mengubah dan diubah, tapi berubah tidak pernah berubah lagi—mungkin karena konsekuensi menjadi bengubah atau beubah akan terdengar kelewat ajaib.

Apakah Si Rubah dalam berubah adalah bastar? Jika diandaikan terucap sebagai ber+ubah (berganti menjadi sesuatu yang lain) tentu tidak, tapi hampir selalu terdengar sebagai be+rubah (mengandung unsur rubah) bukan? Mungkin ini membuktikan betapa berbahasa dengan baik dan benar itu memang tidak mudah. Sangat sering saya menyaksikan bagaimana kaum “intelektual sadar bahasa” bolak-balik terpaksa melakukan koreksi terhadap kata-katanya sendiri, ketika selalu saja diubah diucapkannya sebagai dirubah.

Penyelundupan Si Rubah ini saya kira fenomenal, karena tidak saya ingat berlangsung pada banyak kata lain. Apakah perlu membawa-bawa psikoanalisis Freud, Jung, atau siapa pun untuk membongkar faktor psikopatologi ketaksadaran pada manusia Indonesia, ketika selalu saja membawa-bawa Si Rubah dalam caranya berbahasa? Misalnya, jika mengikuti teori Freud, faktor represi macam apa yang terdapat pada manusia Indonesia sehingga Si Rubah selalu muncul kembali ketika peraturan bahasa sudah jelas tidak membenarkan kehadirannya?

“Jangan terlalu jauh,” kata Paimo, “itu bukan perkara rubah, melainkan perkara sisipan ‘r’.”

Suatu huruf? Bukan binatang—yang “dibudayakan” menjadi satwa—bernama rubah?

“Kukira bukan huruf, melainkan bunyi,” kata Paimo, lagi. Tentu bunyi “r” yang sebetulnya bukan menyelundup ataupun menyelonong, melainkan tiada lain selain sah adanya, karena memang merupakan bagian dari kata depan “ber”. Dengan kata lain, ketika prinsip ber+ubah terucapkan sebagai berubah, kenapa pula harus terbawa kepada paranoia atas menyeruaknya satwa rubah itu, bukan?

Menanggapi perkara ini, pakar bahasa Indonesia ternama Tuan Anton M. Moeliono tampak setuju bahwa manusia janganlah dijadikan rubah, sehingga menurut beliau, “… dalam membina bahasa Indonesia yang modern sebaiknya kita tetap memakai berubah dan mengubah sebagai bentuk baku.” Betapapun, rupa-rupanya tetap diperlukan argumen untuk membunuh Si Rubah dalam berubah, sekaligus membenarkan eksistensi bunyi “r”, yakni pengaruh bahasa Sunda terhadap bahasa Indonesia: “… ada kata obah ‘berubah’ dan ngarobah ‘mengubah’.” (Moeliono et.al., 1990: 42).

Nah, begitu relevankah Si Rubah ini dibuang sejauh-jauhnya? Seberapa gawatkah kerancuan antara nama satwa dan pengertian ganti atau tukar dalam berubah? Bunyi “ru-bah” dalam merubah, dirubah, dan berubah, percayalah, tidak akan pernah dimaksudkan ataupun ditafsirkan sebagai kawan kita, Si Rubah, antara lain, karena makhluk satu ini memang tidak seujung hidung pun bergentayangan di Indonesia!

Saya memerlukan konfirmasi Presiden Musang Lovers Indonesia Ray Chairudin, atas petunjuk Forum Konservasi Satwa Liar, ataupun wartawan pengamat flora dan fauna Titik Kartitiani untuk memastikan ketiadaan rubah ini, baik dalam alam maupun budaya lisan di Indonesia. Dalam budaya tulis, rubah muncul dalam dongeng terjemahan dari Eropa, seperti karya Aesop atau H.C. Andersen. Kata rubah yang satwa ini, dibanding rubah yang maunya diganti ubah, tidaklah dominan dalam wacana bahasa.

Fakta ini membuat siapa pun cukup sahih untuk berpendapat bahwa ketika manusia Indonesia mengucapkan ataupun mendengar kata merubah, dirubah, dan berubah tidaklah sedetik pun gambaran seekor rubah itu akan melewati benaknya. Itulah yang membuat kata-kata yang “salah”, alias tidak dibakukan secara resmi, selalu muncul lagi dan terucapkan kembali dalam ujaran manusia Indonesia, karena sebenarnyalah memang terhayati sebagai baik-baik saja bagi para pengujarnya. Sebaliknya, kata-kata yang baru dan baku, seperti diubah dan mengubah, nyaris hanya hidup secara tertulis dalam lindungan para penyunting bahasa, yang dengan setianya akan mengacu pada peraturan dalam tata bahasa Indonesia.

Kedekatan kata dasar ubah dan rubah telah menjadi penyebab kesibukan ini. Proyek pemusnahan dirubah dan merubah dari dunia lisan di bumi Indonesia tidak dapat dikatakan berhasil, karena diubah dan mengubah, jika dihubungkan dengan tiada tergantikannya berubah, merupakan rekayasa bahasa yang kurang beralasan. Hanya karena ingin menjauhi Si Rubah. Ini tidak akan terjadi jika sejak dulu rubah disebut Paimo.

* Wartawan Panajournal.com

5 thoughts on “Ubah versus Rubah

  1. Kata ” tetapi ” sering ditulis “tapi”,juga “kalau” ditulis “kalo”, “bapak” menjadi “bapa”.
    sebenarnya yang betul mana membuat banyak orang jadi kebiasa menulis salah.
    Mohon rubrik bahasa ini bisa diberi tempat di Harian Kompas setiap dua minggu sekali dengan berbagai ulasannya,agar kita bisa menulis bahasa kita dengan baik dan benar dan bisa membanggakan kita dalam memakai Bahasa Indonesia
    Terima kasih

    • Salam,

      Ingin berbagi.

      Menurut KBBI yang benar adalah “tetapi”. Seperti yang kita telah ketahui bersama bahwa terjadi penggunaan bahasa Indonesia yang tidak tertib oleh para penuturnya sendiri, hal ini yang menyebabkan bahasa Indonesia dengan cepat BeREVOLUSI (Berubah dalam waktu cepat dan drastis. Saya mengapitalkan tulisan REVOLUSI supaya jelas yang saya maksudkan. Karena dengan imbuhan Ber- ditulis sama dengan berEVOLUSI, yang berarti perubahan berangsur yang lambat).

      Seperti :

      Dahulu -> Dulu
      Semenjak -> Sejak
      Baharu -> Baru

      Kalau dan kalo adalah masalah penulisan dialek, yang baku/standar menurut KBBI adalah Kalau.

      Satu-satunya makna yang berbeda antara Bapak – dan Bapa adalah “Sebutan untuk Allah pada agama katolik” bagi kata Bapa.

      Salam

  2. Betul sekali, ini masalahnya berawal dari pelafalan yang meleset dari kata “Berubah”.. Yang seharusnya Ber+Ubah, sehingga ketika akan dipasangkan dengan imbuhan Me- , banyak orang terlepeset menyambungkan Me + Rubah, karena terbiasa melafalkan beRUBAH.

  3. Saya setuju dengan Mas Seno. Ubah dan rubah itu sama-sama punya hak untuk hidup di jagat bahasa Indonesia yang dihidupi oleh siapa pun yang menghidupi bahasa Indonesia. Kesimpulan bahwa kata “rubah” berasal dari “berubah” bagi saya belum meyakinkan. Saya lebih suka mengira bahwa kata “rubah” itu secara tidak sengaja dimasukkan dalam bahasa Indonesia oleh para pengguna bahasa Indonesia yang berbahasa ibu bahasa Sunda, sebab di sana “angrobah” jelas berasal dari ang+robah. Ketika menggunakan bahasa Indonesia mereka merasa tidak salah jika mengatakan “merobah”, “dirobah”, lalu o diganti u. Jadilah “rubah” masuk dalam bahasa Indonesia dan anak turunnya: merubah, berubah, dirubah, perubahan dan seterusnya.Tetapi rubah dianggap salah karena diyakini bahwa berubah adalah ber+ubah, sehingga me+ubah harus menjadi mengubah. Jadi rubah dianggap salah karena sang ahli bahasa tidak bisa menemukan asal-usul r dalam merubah.
    Dari manakah r dalam rubah? Pertanyaan itu bisa dijawab kalau kita meneliti setiap bahasa ibu dari setiap pengguna bahasa Indonesia. Dicari saja bahasa ibu yang di situ ditemukan rubah, robah. Ketemulah bahasa Sunda. Ketemulah asal usul r. Saya lebih suka mengira bahwa robah berasal dari ra-obah. Ra di sini sejenis sang, si, yang. Robah artinya hal atau orang yang obah, geser, pindah, ganti.
    R misterius ini kadang muncul tanpa kita tahu dari mana: bulan dan rembulan misalnya. Adakah rem- pada rembulan adalah sebuah awalan dalam bahasa Indonesia?

    Saya lebih suka menduga bahwa bahasa Indonesia sesungguhnya adalah bahasa asing bagi tiap orang Indonesia. Sebab mungkin hampir tidak ada orang Indonesia yang berbahasa ibu bahasa Indonesia yang baik dan benar. Siapa pun yang berbahasa Indonesia adalah penutur asli bahasa ibunya. karena bahasa ibu masing-masing orang itu mirip sekali dengan bahasa Indonesia, maka tiap kata dasar dari bahasa Ibu bisa dibahasaindonesiakan cukup dengan memberinya imbuhan bahasa Indonesia. Dan itulah bahasa Indonesia yang hidup, berkembang, karena hidupi oleh tiap orang Indonesia yang menghidupi pula bahasa ibunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s