Catut-catutan

Suprianto Annaf*, Media Indonesia, 29 Nov 2015

Ilustrasi: Beritagar.id

Sadar atau tidak, catut-mencatut bukanlah hal asing. Namun, terkadang hal itu dianggap biasa karena ada di tengah kebiasaan. Sering pula diabaikan karena ketidaktahuan. Singkatnya, catut-mencatut pernah terjadi atau justru dialami oleh siapa pun: saya dan Anda!

Karena sudah biasa pula, kata catut memiliki padanan dalam berbagai bahasa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata catut dipadankan dengan kata angkup atau penjepit. Catut diberi arti, di antaranya, “alat (untuk mencabut janggut dsb); alat untuk mencabut (memotong) paku dsb, menyalahgunakan (kekuasaan, nama orang, jabatan, dsb) untuk mencari untung”. Dalam bahasa Sukuan (penyebutan untuk suku di Sabah dan Sarawak), catut disebut dengan kata sepit atau angkup, yakni “alat penjepit”. Sementara itu, dalam Kamus Inggris-Melayu Dewan, dikenal istilah kata racketeer, yang berarti “ahli kegiatan haram, tukang catut, pencatut”.

Secara leksikal di atas, catut diberi referen sebagai alat; berupa tang atau ragum, yang digunakan untuk mencabut benda yang “tertanam”. Perbedaannya, alat yang disebut angkup biasanya digunakan untuk mencabut rambut atau uban (sering juga disebut bulu) yang menempel, seperti janggut atau bulu ketiak. Adapun alat yang disebut tang atau ragum biasanya digunakan untuk mencabut paku, sedangkan alat yang disebut sepit digunakan untuk menjepit (misalnya) pakaian. Namun, ada juga menyebut benda yang sedang kita acu dengan nama kakaktua. Itu semata karena kemiripan dengan paruh burung kakaktua.

Dari arti-arti itulah, akhirnya kata catut mengalami pergeseran makna menjadi (1) mengambil barang/ benda secara paksa/atau tidak sah: ia mencatut uang kantor, (2) menyalahgunakan (kekuasaan, nama orang, jabatan, dsb) untuk mencari untung.

Rupanya makna asosiatif kata catut pada nomor (1) dan (2) itulah yang menghiasi ruang media massa dalam dua minggu terakhir. Sontak kabar pencatutan nama Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla oleh Setya Novanto menjadi sebab kata ini menjadi populer. Dikenal luas. Bahkan dalam mesin pencarian Google, kata catut langsung merujuk kepada Setya Novanto, baik berupa kata maupun gambar.

Selain dalam kasus Novanto, pencatutan pun terjadi dalam ruang-ruang publik lain. Bisa diingat ketika berurusan dengan pihak kepolisian di tengah jalan: biasanya saat ditilang karena melanggar rambu lalu lintas. Tak jarang yang terkena tilang menyebut nama-nama orang hebat untuk lolos dari penilangan tersebut. Yang paling santer terjadi, dengan membanggakan korps tertentu, ada pengemudi yang memasang stiker di pelat kendaraan. Tentu tujuannya agar dia disegani, dimaklumi, dipermudah, atau diperlakukan sebaik mungkin seperti yang diharapkan. Bahkan, walau setengah berbohong, banyak yang mengaku sebagai anak jenderal, keluarga DPR, atau dari institusi tertentu agar urusannya lancar.

Dalam ranah jual beli pun, pencatutan kerap terjadi. Untuk mendapatkan potongan harga di sebuah toko tertentu, acap kali pembeli menyebut bahwa toko lain (mungkin lebih dikenal) menjual barang lebih murah dibandingkan dengan di toko itu. Kalimatnya seperti ini, “Kok, mahal! Di tokoh A tidak semahal ini!”

Begitu pun dalam proses negosiasi, sering kita dengar orang membawa-bawa nama pejabat, nama LSM, atau nama lembaga untuk memuluskan bisnisnya. Pencatutan seperti ini tentu dianggap orang tersebut biasa saja. Berkelas teri, tidak ada apa-apanya.

Akan tetapi, dalam konteks Novanto, tentu saja dugaan pencatutan itu menjadi tidak biasa karena yang mencatut dan yang dicatut orang-orang terkemuka: Ketua DPR dan Presiden–Wapres Republik Indonesia.

Sungguh ini dugaan pencatutan yang luar biasa!

* Redaktur Bahasa Media Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s