Keamanan Bahasa

Ibnu Burdah*, KOMPAS, 5 Des 2015

Ilustrasi: Iqraa Arabic Language Center

Dahulu pembicaraan tentang pertahanan keamanan pasti terkait dengan militer. Isu keamanan dalam perkembangannya kemudian meluas mencakup pangan, air, lingkungan, dan seterusnya. Abdussalam Masdiy, Guru Besar Linguistik Universitas Tunis, menambahkan satu lagi isu: keamanan bahasa nasional. Dalam buku Huwiyyah al-Arabiyyah wal Amni al-Lughawiy atau Identitas Arab dan Keamanan Bahasa, ia menegaskan, persoalan yang sedang dihadapi bahasa-bahasa nasional adalah persoalan politik, kesadaran para pengambil keputusan dan masyarakat pada umumnya tentang pentingnya menjaga bahasa nasional.

Abdussalam tentu berbicara dalam konteks bahasa Arab. Bahasa Arab Fusha yang menjadi identitas nasional 22 negara Arab saat ini , menurut Abdussalam, dalam situasi berbahaya. Peminggiran bahasa Arab Fusha terjadi di hampir semua sektor yang seharusnya jadi bagian penting penggunaan bahasa itu: ilmu dan pendidikan, administrasi dan birokrasi negara, ekonomi dan bisnis; media, serta ruang publik lain. Sumber ancaman paling berbahaya terhadap bahasa Arab justru dialek tiap negara.

Situasi bahasa Indonesia hampir sama, sulit menahan penetrasi bahasa Inggris dan bahasa kuat lain di dunia.

Hampir di semua sektor penting bahasa Indonesia menghadapi tantangan nyata. Dalam tradisi dan pengembangan keilmuan, bahasa Indonesia lemah di hadapan bahasa Inggris atau Perancis dan pada bidang tertentu dari bahasa Belanda dan Arab. Konsep kunci dalam keilmuan cenderung diimpor dari tradisi bahasa asing.

Ini bisa dimengerti sebab bangsa Indonesia dalam banyak hal adalah pengikut, importir, dan–pada tingkat tertentu–pemulung konsep keilmuan asing.

Para ilmuwan kita sering gegabah  mengampanyekan bahasa asing dan secara tak langsung melemahkan kemampuan bahasa Indonesia sebagai bahasa keilmuan.

Dalam ekonomi dan bisnis, penetrasi bahasa Inggris sulit dihindari. Kerja sama ekonomi bangsa Indonesia dengan pihak asing hampir dipastikan menggunakan bahasa Inggris dan, di sektor tertentu, bahasa Arab kendati kemudian undang-undang memaksa juga menggunakan bahasa Indonesia. Bahkan, pelaku usaha kita sering bangga dengan penggunaan bahasa asing dalam urusan bisnis antara sesama anak bangsa.

Di bidang administrasi dan pemerintahan, penetrasi bahasa Inggris sulit dihindari. Padahal, di sektor ini kontrol terhadap penggunaan bahasa asing seharusnya lebih mudah.

Media kita juga lemah dengan politik bahasa Indonesia. Barangkali hanya satu atau beberapa saja dari media yang sadar dan bekerja keras membela bahasa Indonesia dari gempuran bahasa asing dalam pelbagai pemberitaannya. Mereka berupaya menggunakan dan mengembangkan bahasa Indonesia.

Nasib bahasa Arab Fusha dan bahasa Indonesia hampir sama. Bedanya, bangsa Arab pada umumnya memiliki militansi besar terhadap bahasanya.

Pengecualian memang terjadi pada generasi baru perkotaan di kota-kota petrodollar.  Militansi bangsa Indonesia terhadap bahasanya masih harus dibangun.

Beda lainnya adalah di beberapa negara Arab aturan penggunaan bahasa di ruang publik diperlakukan ketat. Penggunaan istilah asing atau campuran berstruktur asing diawasi ketat. Di Suriah, pelanggaran terhadap hal itu bisa dikenai sanksi berat, yakni penutupan usaha atau pencabutan izin usaha kendati dalam praktik juga tak mudah.

Kita longgar dalam penggunaan bahasa Indonesia di sektor publik, khususnya di ruang bisnis. Nama mal atau tempat usaha lain jamak menggunakan bahasa asing atau bahasa campuran dengan struktur asing. Kita memiliki Pasal 31  UU Nomor 24 Tahun 2009, tetapi cakupan pelaksanaannya amat terbatas, terutama untuk perjanjian bisnis berdampak hukum konkret.

Di negara-negara Arab, institusionalisasi kebangkitan dalam konteks bahasa sangat banyak. Di antara yang menonjol adalah lembaga majma’ al-Lughah yang liat bertugas mengawasi penggunaan bahasa asing sekaligus mencari alternatif Arabnya atau, jika tidak bisa, menyerapnya untuk disesuaikan dengan morfologi dan susunan sintaksis Arab.  Ini mirip komunitas epistemik, tetapi dari pihak negara dengan kekuatan hukum yang jelas.

Di Indonesia, peran pemerintah yang secara jelas difungsikan untuk kepentingan itu belum semenonjol di negara Arab. Belajar dari negara-negara Arab, Pemerintah RI penting berada di garda terdepan dalam isu pengamanan bahasa Indonesia sebagai identitas nasional sebelum semuanya terlambat.

* Dosen UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s