Predator

Ridha Kusuma Perdana*, Media Indonesia, 6 Des 2015

Ilustrasi: Luca Galuzzi

Beberapa waktu lalu, masyarakat dikejutkan dengan banyaknya kasus kekerasan terhadap anak, terutama dalam hal kekerasan seksual. Mulai kasus Engeline di Bali yang dianiaya ibu tirinya, kasus penelantaran anak di Cibubur, hingga kasus terbaru di Kalideres, Jakarta Barat, yakni anak berumur 9 tahun yang tewas dan ditemukan dalam kardus serta telah mengalami kekerasan seksual. Semua kasus tersebut menjadi sorotan berbagai media di Tanah Air, baik media cetak maupun media elektronik.

Di antara banyak media yang memberitakan kasus itu, ada hal yang membuat saya merasa tertarik, yaitu banyak media yang menggunakan frasa predator anak untuk menyebut pelaku kekerasan terhadap anak, misalnya, “Menghukum Predator Anak” (harian Media Indonesia), “Gerakan Antipredator Anak” (Kompas), dan “Gawat, Indonesia Dihantui Serbuan Predator Anak” (Koran Tempo).

Sepintas memang penggunaan frasa tersebut terasa biasa saja. Namun, menurut saya, penggunaan frasa predator anak untuk menyebut pelaku kekerasan terhadap anak perlu dibahas lebih lanjut.

Secara umum, kata predator sebenarnya merujuk pada hewan, bukan manusia. Misalnya, harimau ialah predator rusa dan zebra. Harimau hanya mengikuti naluri untuk memuaskan nafsu tanpa mengindahkan norma karena memang tidak punya akal budi. Contohnya, naluri mencari makan, naluri bertahan hidup, dan naluri seksual.

Untuk memperjelas, mari kita lihat definisinya dalam Kamus Webster dan KBBI. Menurut Kamus Webster, predator ialah “an animal that lives by killing and eating other animals : an animal that preys on other animals”. Sejalan dengan itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia juga mendefinisikan predator sebagai “hewan yang hidupnya dari memangsa hewan lain; hewan pemangsa hewan lain”. Berdasarkan pengertian tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa predator ialah hewan yang bisa bertahan hidup dengan memangsa hewan lain.

Berkaitan dengan konteks kasus itu, penggunaan kata predator rasanya memiliki kesamaan dengan pelaku kekerasan terhadap anak, yakni mereka bertindak layaknya hewan yang tidak memiliki akal budi. Pelaku memberlakukan anak secara tidak manusiawi seakan mereka melihat anak sebagai mangsa yang bisa diperlakukan seenaknya demi melampiaskan hawa nafsu. Sifat melampiaskan nafsu itu tentu sama dengan hewan yang hanya mengandalkan naluri tanpa menggunakan akal dan hati. Karena itu, tidak mengherankan jika banyak media yang menggunakan kata predator untuk menyebut pelaku kekerasan terhadap anak.

Secara rasa, kata predator juga lebih cocok digunakan dan lebih mengena ketimbang kata yang lain. Pasalnya, perbuatan pelaku tersebut memang sudah berada di luar batas kemanusiaan atau bisa dikatakan perbuatan mereka ialah perbuatan binatang.

Selain itu, dari makna di dalam KBBI, secara implisit kata predator juga memiliki makna sebagai “pemusnah”. Dalam arti sebenarnya, predator dapat memusnahkan mangsanya, mencabiknya, dan memakannya. Jika berkaitan dengan konteks kekerasan terhadap anak, predator juga bisa dikatakan “memusnahkan anak”, dalam arti memusnahkan masa bahagia anak, menghancurkan fisik anak, menghancurkan psikologi anak, dan, yang lebih parah lagi, predator anak juga memusnahkan masa depan anak.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan juga bahwa kata predator kini tidak lagi selalu merujuk pada hewan, tetapi juga bisa merujuk pada manusia atau kesatuan yang lebih besar, tergantung pada konteksnya.

* Staf Bahasa Media Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s