Pejawat dan Incumbent

Ririn Liechtiana*, Republika, 11 Des 2015

Ilustrasi: KabarRakyat

Pesta demokrasi tak hanya berlangsung di daerah, tetapi juga di redaksi Republika. Pada 9 Desember 2015, Republika mencetuskan kata baru, pejawat. Kata pejawat merupakan padanan untuk kata incumbent. Mengapa pejawat yang kami pilih?

Penulisan incumbent sering dijumpai di media massa, tak hanya media cetak tapi juga media daring, termasuk di Republika sendiri. Berdasarkan kamus Oxford, kata incumbent berarti a person who has an official position dan having an official position.

Dalam bahasa Indonesia, incumbent bisa diartikan sebagai orang yang mempunyai posisi dan masih aktif menjabat. Kami melihat kata incumbent memiliki aspek kemiripan dari semantik dengan kata pejabat dan penjabat. Namun, pejabat telah memiliki artinya sendiri, begitu juga dengan penjabat.

Kata dasar dari pejawat adalah jawat. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia W.J.S. Poerwadarminta, lema jawat ini masih bersinonim dengan jabat. Jawat termasuk verba. Begitu juga di KBBI keempat, kata jawat dan jabat bentuk verba dengan arti “pegang”.

Pejabat memiliki arti “pegawai pemerintah yang memegang jabatan penting (unsur pimpinan)” selain mempunyai bentuk klasik dari “kantor”, “markas”, dan “jawatan”.

Menurut KBBI keempat, jawatan berarti “bagian dari departemen atau pemerintah daerah yang mengurus (menyelenggarakan) suatu tugas atau pekerjaan yang luas lingkungannya”; “dinas”; “tanda pangkat atau kebesaran”. Sementara itu, jabatan ialah “pekerjaan (tugas) dalam pemerintahan atau organisasi”; “fungsi”; “dinas”; “jawatan”.

Penjabat, “pemegang jabatan orang lain untuk sementara”. Sedangkan penjawat, yang merupakan kata klasik, yakni “pegawai istana yang bertugas membawa atau melayani” dan “pemegang jabatan (di istana); pejabat (di lingkungan istana)”.

Kata pejawat dianggap lebih dekat dengan kata pejabat dalam bentuk verba dan nomina. Dua kata tersebut akan memiliki kemiripan arti jika mengalami proses pengimbuhan seperti kata pejabat (pejabat). Di KBBI edisi keempat belum ada lema “pejawat”. Pejawat kami definisikan sebagai orang yang sedang memegang posisi atau kuasa di pemerintahan.

Kata pejawat bisa lebih khusus atau spesifik dalam penggunaannya daripada kata pejabat yang sudah umum.

Namun, sebelum bertemu dengan pejawat, tim bahasa dan redaksi berdiskusi panjang hingga tercetuslah dua kata lain sebagai kandidat: tadbir dan geta. Masing-masing kata mempunyai makna tersendiri.

Tadbir merupakan kata serapan bahasa Arab. Tadbir dalam KBBI berarti “perihal mengurus atau mengatur (memimpin atau mengelola); pemerintahan; administrasi. Penadbir berarti “pengurus”; “pengelola”. Penadbiran, “pemerintahan”; “pengelolaan”.

Kata “penadbir” tidak menjadi pilihan karena tidak eufonik atau sedap didengar. Agak kagok ketika mengucapkan kata itu. Tadbir juga agak jauh maknanya jika dipadan dengan kata incumbent.

Geta yang dalam KBBI berarti “takhta” dan “singgasana” juga dirasa kurang pas. Kata geta yang diturunkan menjadi pegeta dinilai kurang tepat karena makna incumbent lebih menitik beratkan kepada orang yang memegang posisi, sementara geta bermakna “takhta” yang lebih condong pada tempat.

Sementara, kata “petahana” sudah diperkenalkan sejak Pemilu tahun 2009 sebagai padanan incumbent. Kata dasar dari “petahana” adalah “tahana”, yang berarti “kedudukan”; “martabat” (kebesaran, kemuliaan).

Setelah bermusyawarah, akhirnya terpilihlah kata pejawat. Kata pejawat mendapat respons positif dari kalangan internal untuk digunakan dan disebarluaskan.

Namun, kami mencari padanan lain untuk mengindonesiakan kata “incumbent”, yakni pejawat. Kata pejawat ini merujuk pada kedekatan makna, pembentukan sesuai pedoman atau kaidah, serta penerimaan.

Pemilihan umum kepala daerah serentak tahun ini menjadi momentum untuk memperkenalkan kata pejawat kepada khalayak. Kemunculan kata pejawat ini semoga menambah khazanah kosakata bahasa Indonesia dan menjadi lema baru di KBBI edisi berikutnya.

* Kepala Bahasa Republika

5 thoughts on “Pejawat dan Incumbent

  1. 1. Sebagai sesama pegiat dalam bahasa Indonesia, tidak eloklah memunculkan saingan untuk kata yang telah distempel oleh rekan sejawat. Di samping tidak elok, tidak perlulah membuang-buang energi untuk mengutak-atik sesuatu yang telah dilakukan oleh orang lain. Jauh tidak maknanya dari yang dipadankan tidak begitu penting, yang penting kita sepakat untuk sama-sama menggunakan hasil olah-pikiran teman sejawat kita. Kejauhan dan kedekatan arti itu tidaklah seberbahaya kejauhan dan kedekatan ukuran (dalam miligram) suatu reaksi kimia.
    2. Masih banyak energi yang perlu dikerahkan untuk menstempel padanan baru untuk banyak kata asing, jadi seharusnya kita jangan membazir energi karena membazir itu sangat dibenci oleh Allah SWT.
    3. Saya pribadi sangat menghargai upaya seseorang untuk menciptakan sesuatu sehingga kalau ada “latahan”-nya, “latahan” tersebut selalu saya tinggal. Saya tetap setia mengonsumi “Supermie” yang merupakan merek dagang pertama memperkenalkan mi cepat-saji di Indonesia(?) walaupun di Sumatera Utara “indomi” telah berhasil menggusur penggunaan “supermi” sebagai nama produk mi cepat-saji; demikian juga dengan “Aqua,” “Rinso,” dan lain-lain. Menurut saya, dengan tetap setia terhadap “yang pertama” akan mendorong orang lain untuk menjadi seorang pencipta, bukan pelatah.

    Ngomong-ngomong, masih adakah yang menggunakan “etiket” untuk surat kecil, seperti nama obat, yang ditempel (di botol, kotak, dll. saat ini, atau sudah menjadi kata arkaik? Kata ini pernah memenuhi buku (Abang saya yang sekolah di SMEA) untuk mata pelajaran “Ilmu Mengenal Barang.”

  2. Saya pikir tidak ada salahnya jika Republika mengajukan kata baru untuk menjadi padanan incumbent. Ini bukan melulu harus diartikan sebagai persaingan, bukan, jangan dulu berpikir sinis seperti ini. Mari melihat ini sebagai sebuah dinamika dalam berbahasa yang perlu diapresiasi. Ini berarti Republika memiliki perhatian juga pada kebahasaan dan perhatian itu ditunjukkan dengan mengajukan kata yang dipikir lebih tepat daripada kata petahana yang sudah muncul sebelumnya. Lihatlah ini sebagai niat baik dan dengan begitu kita akan bisa melihat keelokannya.

    Perkara bentukannya yang “pejawat” dan bukan “penjawat”, saya pikir artikel ini sudah menjelaskannya dengan cukup saksama. Dalam artikel ini penulis menyiratkan bahwa “pejawat” dibentuk dengan mengikuti preseden pembentukan “pejabat”, yang, di satu sisi, pola pembentukan seperti itu juga digunakan ketika membentuk kata “petahana”. Oleh karena itu, saya pikir kata pejawat memang bukan dibentuk secara linear paradigmatik dari “menjawat”, tapi “berjawat”.

    Lagipula, kata “penjawat” akan kelimpungan jika diajukan untuk menjadi padanan incumbent lantaran kata itu punya makna “pemegang jabatan (di istana); pejabat (di lingkungan istana)”. Akan repot jika incumbent dipadankan menggunakan kata “penjawat”.

    Oleh karena ini semua, secara pribadi saya masih percaya bahwa kata pejawat dalam hal ini memang memiliki bentuk yang lebih tepat daripada penjawat, sekaligus juga memiliki kedekatan makna dengan incumbent.

    Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s