Awalan Ber-

Sori Siregar*, KOMPAS, 19 Des 2015

awalan

Ber- adalah awalan yang produktif dalam bahasa Indonesia. Demikianlah kesan apabila kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi IV yang kerap menjadi rujukan. Secara teoretis penegasan itu tak dapat dibantah. Namun, disadari atau tidak, belakangan prefiks itu sering diabaikan.

”Jika kapur tulis habis, ia harus menulis di tanah dengan batang kayu. Untunglah, para siswa tetap bersemangat” (”Mereka Berjibaku di Pedalaman Papua”, Kompas, 23 November 2015, halaman 15). Dua kalimat ini sengaja saya kutip karena saya senang membacanya. Selama ini yang sering saya dengar bukan ”tetaplah bersemangat”, melainkan ”tetaplah semangat”. Ini juga melanda wartawan dan pejabat negara. Mereka tidak menyadari bahwa bersemangat dan semangat adalah dua kata berbeda.

Hal serupa kita temukan pada penggunaan kata bahaya dan berbahaya atau beda dan berbeda. Banyak dari kita menyamakan label kelas kata kedua kata itu. Padahal, bukan hanya label kelas katanya yang berbeda, melainkan juga maknanya. Mereka lupa bahwa semangat adalah nomina atau kata benda dan bersemangat adalah verba atau kerja. Begitu pula dengan beda dan bahaya.

Contoh: sebagai kata benda, bahaya bermakna ’yang (mungkin) mendatangkan kecelakaan (bencana, kesengsaraan, kerugian dan sebagainya)’, sedangkan berbahaya bermakna ’terancam bahaya’ atau ’ada bahayanya’ dan ’mungkin mendatangkan bahaya’. Keduanya saya kutip dari KBBI IV. Dibandingkan dengan kita, pengguna bahasa Inggris jarang mencampuradukkan kata danger dan dangerous. Tampaknya mereka lebih tertib berbahasa. Memang ada perbedaan label kelas kata di antara kata-kata dalam dua bahasa ini. Danger yang sama artinya dengan bahaya diberi label kelas kata sama oleh kedua bahasa, yaitu nomina. Namun, berbahaya yang dalam label kelas kata bahasa Indonesia ditetapkan sebagai verba, dalam bahasa Inggris kata dangerous ditempatkan pada posisi adjektiva.

Banyak kata lain yang juga kehilangan prefiks ber-. Sering kali penghilangan itu semata-mata karena ketidaktahuan pengguna bahasa.

Misalnya, ada yang bertanya mengapa kita harus menggunakan kalimat ”aku bertanya kepadanya”, padahal kita dapat menggunakan kalimat ”aku tanya kepadanya”. Perbedaannya jelas ada. Kalimat pertama menggunakan kata bertanya sebagai kata kerja, sedangkan kalimat kedua digunakan tanya sebagai kata benda. Dengan kata lain yang baku adalah kalimat pertama karena adanya keharusan menggunakan awalan ber- itu.

Kata yang paling banyak disalahartikan belakangan ini adalah fokus. Ini terjadi karena hilangnya prefiks ber-. Tidak sedikit orang memaknai kata fokus dengan kata berfokus atau terfokus. Misalnya, ada menteri yang mengatakan, ”kini program pemerintah fokus pada pembangunan infrastruktur”, padahal yang dimaksudkannya adalah ”kini program pemerintah berfokus atau terfokus pada pembangunan infrastruktur”. Karena arti fokus adalah ’pusat’, tentu saja berfokus bermakna ’berpusat’ dan terfokus berarti ’terpusat’. Jika kata fokus ingin digunakan tanpa awalan ber- atau ter-, mestinya kalimat mengalami perubahan struktur. Kalimat itu berubah menjadi ”fokus program pemerintah saat ini adalah pembangunan infrastruktur”.

Salah kaprah kerap terjadi tanpa kita sadari. Lama-kelamaan salah kaprah ini menjadi ”benar kaprah”.

Ketika Tom Two Arrows, seorang Indian Amerika, datang di negeri kita beberapa dasawarsa lalu, ia dihadirkan di beberapa kota untuk bercerita tentang suku Indian di Amerika. Di Medan ia berbicara di lapangan basket sebuah sekolah. Ia berkisah tentang dirinya kepada pengunjung. Ketika ia mengatakan telah berkawin dan mempunyai beberapa orang anak, hampir semua hadirin tertawa. Padahal, Tom Two Arrows tidak salah karena dalam KBBI pun dikenal kata berkawin yang artinya ’menikah’. Namun, karena kita jarang menggunakan kata berkawin sebagai ganti menikah atau kawin, sesuatu yang benar pun akhirnya kita tertawakan. Inilah risikonya jika kita terbiasa melenyapkan awalan yang mestinya dihadirkan itu.

* Cerpenis

11 thoughts on “Awalan Ber-

  1. Miris sekali ketika media sebagai bacaan tempat mengambil benih kosakata untuk kemudian ditanam di dalam benak, malah cenderung tidak memedulikan kaidah yang pantas. Saya menyilakan saudara sekalian untuk melihat berbagai Tajuk berita, “Presiden tidak akan negosiasi”, “Indonesia akan pertahankan kedaulatan”. Hanya demi ruang kolom yang lebih luas? layakkah kelestarian bahasa kita tergaidai hanya demi keuntungan dalam oplah – oplah mereka?

  2. sunggu besar ternyata manfaat prefiks -ber, sayang sekali (seperti yang telah disinggung di atas) kita malah sering keliru, membiarkannya, dan bahkan membenarkannya. lantas, solusi untuk penawarnya bagaimana? ya, tentu dari pribadi kita masing-masing mulanya, kemudian berlanjut untuk saling mengingatkan, saling menyadari. terima kasih untuk pengetahuannya. salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s