Dongeng Catut

Agus Dermawan T*, KOMPAS, 2 Jan 2016

Dalam jagat tukang kayu, benda bernama catut, tang, dan palu selalu disiapkan sekaligus dalam sebuah kotak. Ketiga alat ini lantas ditaruh berjajar melengkapi untuk kemudian saling membantu ketika digunakan.

Tak ada yang menolak apabila dikatakan, ketiganya sangat bermanfaat membangun sebuah konstruksi. Namun, ketiganya sungguh tak berguna apabila tak ada benda bernama paku. Benda runcing inilah yang dijadikan obyek untuk dieksplorasi dan dieksploitasi sehingga catut, tang, dan palu maksimal beraksi.

Paku akan menunaikan fungsinya apabila sudah menancap di posisinya. Untuk menancapkan paku, perlu tekanan dari pukulan palu. Apabila dianggap salah posisi, paku akan diungkit oleh catut, yang memiliki dua gigi penjepit di bagian kepalanya. Setelah tubuh paku yang diungkit itu tampak, tang akan pelan-pelan membantu mencabutnya agar paku tak rusak. Jika tak bisa dicabut, catut akan memotong paku itu dan sisa paku akan ditekan oleh pukulan palu selanjutnya sampai tenggelam ke dalam kayu. Begitu seterusnya.

Catut, tang, palu, dan paku adalah empat benda amat penting dalam membentuk kehidupan. Fungsi dan kerja empat sekawan ini mengantar segenap manusia menuju peradaban dari zaman ke zaman. Dengan empat benda itu, manusia menciptakan lemari, bahtera Nuh, piramida, dan Masjid Biru di Istambul.

Namun, benda-benda yang termuliakan selama berlapis abad itu ternista nasib ketika dibawa ke Indonesia. Dalam konteks ini yang paling sial tentu si catut. Benda inilah yang pertama kali disandangi pemahaman negatif sebelum kawan-kawannya menyusul kemudian. Catut tiba-tiba digunakan untuk menyebut perbuatan manusia yang curang, main belakang, dan pandai main selap-selip sehingga catut dibikinkan kata kerja yang rendah martabatnya: mencatut.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa mencatat, mencatut adalah pekerjaan yang menyalahgunakan kekuasaan, nama orang, jabatan, dan sebagainya untuk mencari untung. Contohnya: mencatut nama pejabat, seperti menteri, wakil presiden, dan presiden, untuk kepentingan bisnis pribadi. Orang yang mencatut-catut disebut sebagai pencatut atau tukang catut.

Perusakan citra si catut sejak lama berlangsung di Indonesia. Menjelang dasawarsa 1960-an, saya sering mendengar ayah dan ibu mengomel dalam bahasa Belanda ketika gagal mendapat karcis film sohor di bioskop dengan harga wajar. ”Karcisnya sudah diborong zwarthandelaar. Polisi sepertinya enggan dan takut mengurusi kegiatan zwarte handel drijven seperti itu,” katanya geram. Ibu menjelaskan, zwarthandelaar adalah pedagang gelap yang di Indonesia, anehnya, disebut tukang catut.

Lalu, mengapa orang Indonesia memosisikan catut sebagai perumpamaan buruk? Pemosisian ini pastilah bertolak dari fungsi dan bentuk si catut itu. Catut dipersepsi sebagai alat yang suka mencabut paku dari tempatnya. Jika tancapannya keras sehingga paku tak bisa dicabut, catut akan memotong paku itu. Yang penting, seberapa pun paku ada akan dikerjain oleh catut.

Rusaknya citra catut ini berdampak kepada citra tang dan palu yang semula positif adanya. Itu dimulai dari imajinasi visual. Catut yang bentuk ujungnya mirip paruh burung kakaktua, Cacatua, merangsang lahirnya perumpamaan untuk tang yang disamakan dengan buaya, Crocodilus porosus. Bentuk tang yang memanjang memang mirip dengan moncong buaya. Gurat-gurat pada bagian dalam kepala tang seperti deretan gigi buaya. Lalu konotasi negatif pun berlanjut. Jika si catut-kakaktua beraksi dengan suara yang acap meniru (menjilat) suara majikannya, maka si tang-buaya senantiasa bekerja dalam diam. Tak bergerak, tak bersuara, tetapi mulutnya selalu siaga menganga. Begitu ada mangsa, si buaya cepat menyambar. Apa saja ditelan sampai ampas-ampasnya.

Palu segera diumpamakan—atau dinegasikan—sebagai palu hukum yang menentukan putusan, yang akan mengetok semau-mau sesuai dengan kepentingan yang dituju, selaras dengan gerak si catut-kakatua dan si tang-buaya. Ketok palu itu bisa bertalu-talu di mana saja. Dari meja hakim sampai meja ”orang-orang mulia” yang merasa gagah dengan jubahnya. Akhirnya paku-paku diibaratkan sebagai uang, duit, fulus. Dialah yang dipalu, dicabut, diungkit lagi, dipotong, dipukul lagi, diungkit lagi, dipalu lagi, sesuai dengan kebutuhan. Betapa runyam nasib catut, tang, palu, dan paku di Indonesia!

* Pengamat Seni

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s