Kongres Kesenian

Sori Siregar*, KOMPAS, 23 Jan 2016

Sastrawan Darman Moenir mengacungkan tangan dan mempertanyakan sebutan Kongres Kesenian kepada panitia. Ia merasa sebutan yang lebih tepat untuk kongres itu adalah Kongres Seniman karena yang berkongres adalah seniman, bukan kesenian. Seingat saya, untuk memperkuat argumentasinya, ia menyebut nama Muhammad Yamin dan Sumpah Pemuda.

Peristiwa ini terjadi dalam pembukaan Kongres Kesenian Indonesia III di Bandung pada 2 Desember 2015. Setelah terjadi dialog antara panitia pengarah dan Darman Moenir, akhirnya nama yang digunakan tetap saja Kongres Kesenian. Panitia pengarah menyebutkan, mereka hanya melanjutkan sebutan yang telah digunakan dalam Kongres Kesenian I dan II.

Darman Moenir beralasan mempertanyakan nama KKI III itu. KKPI (Konferensi Karyawan Pengarang se-Indonesia) yang berlangsung di Jakarta pada 1-7 Maret 1964 dapat memperkuat alasan Darman. Dalam KKPI, yang berkonferensi ialah karyawan pengarang (saat itu pengarang disebut juga sebagai karyawan). Radhar Panca Dahana, inisiator pertemuan pengarang di Makassar pada 25-27 November 2012, juga menyebut perhelatan yang diprakarsainya: Pertemuan Pengarang Indonesia.

Pada 1970, berlangsung sebuah kongres dan konferensi di Asia yang dihadiri oleh sastrawan Indonesia sebagai peninjau. Yang pertama The Third Asian Writers’ Conference di Taipei, Taiwan (bila diterjemahkan, artinya Konferensi Pengarang (Penulis) Asia III). Yang kedua adalah The Seventh International PEN Congress yang dilaksanakan di Seoul, Korea Selatan. PEN adalah singkatan dari Poets, Essayists, and Novelists.Jika Kongres PEN ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pastilah akan tertulis Kongres Para Penyair, Esais, dan Novelis VII.

Saya tidak tahu apakah Darman Moenir menghadiri KKI I dan KKI II. Namun, seingat saya, ia hadir sebagai peserta dalam Kongres Kebudayaan 1991 di Jakarta. Apakah ketika itu ia mengacungkan tangan juga dan mempersoalkan nama Kongres Kebudayaan yang dihadirinya itu, saya tidak tahu.

Penyebutan nama ini menarik juga diperbincangkan. Misalnya, apakah tepat membuat analogi Dewan Kesenian, Institut Kesenian, atau Pusat Kesenian dengan Kongres Kesenian. Seperti kita ketahui, Dewan Kesenian adalah institusi yang berkaitan atau mengurus masalah kesenian, institut kesenian adalah lembaga yang memberikan pendidikan kesenian, dan pusat kesenian adalah pusat kegiatan kesenian. Ketiganya institusi tetap dan bukan hanya bekerja dalam waktu singkat. Kongres atau konferensi adalah aktivitas yang hanya berlangsung beberapa hari. Perhelatan itu bertujuan membahas, bertukar pikiran, menarik kesimpulan, mengambil keputusan, dan merekomendasikan sesuatu, sedangkan dewan, institut, atau pusat kesenian lebih merupakan lembaga, bukan aktivitas itu sendiri.

Yang juga menjadi pertanyaan adalah penyebutan Taman Budaya yang terdapat di banyak kota dan daerah di negeri ini. Mengapa bukan Taman Kebudayaan? Dulu, perpanjangan tangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di daerah disebut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Mengapa tidak sekalian saja Taman Budaya disebut Taman Kebudayaan? Uniknya lagi, dinas yang mengurus kebudayaan dan kepariwisataan ini disebut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Mengapa bukan Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan atau Dinas Budaya dan Pariwisata?

Nomenklatur atau pemberian nama kerap membingungkan karena lembaga pemerintah pun sering tidak memedulikannya. Jika kabinet berganti nama, departemen tiba-tiba berubah menjadi kementerian atau sebaliknya. Ini yang mungkin menggalaukan sastrawan Darman Moenir. Untuk mengurangi kegalauan, agaknya Kongres Kesenian lebih baik disebut Kongres tentang Kesenian. Ini pernah dilakukan penyelenggara KKPI dulu. Kongres Kesenian? Kongres Kebudayaan? Yang berkongres atau mengadakan pertemuan adalah seniman atau budayawan, bukan kesenian atau kebudayaan.

* Cerpenis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s