Bahasa Pasaran

Dodi Ambardi*, Majalah Tempo, 25 Jan 2016

Sumber: Jogja News

Kalimat itu terpampang di papan kayu lusuh di depan bangunan rumah dengan tulisan tangan yang menggunakan cat kayu: “Jual-beli sekenan.” Papan pemberitahuan semacam itu kini semakin banyak kita temui di ruas-ruas jalan pinggiran kota. Di sekeliling papan itu banyak teronggok barang afkiran, dari potongan pagar besi, kusen jendela, lemari, mebel, kipas angin, kulkas, hingga televisi berbadan gemuk.

Dengan melihat berbagai onggokan barang itu, kita gampang menebak jenis bisnis yang dijalankan oleh pelakunya, yakni jual-beli barang bekas. Sesungguhnya ini sebuah profesi lama, tapi sekarang semakin banyak yang menekuninya. Namun potongan kata sekenan memberikan kerumitan tersendiri untuk memahaminya karena kata ini ternyata mengalami bentukan yang bertingkat-tingkat.

Kata itu pasti aslinya adalah second hand—tangan kedua alias bekas. Untuk keringkasan pengucapan, kata yang terakhir dibuang sehingga tinggal second. Lidah lokal tidak akan mengalami kesulitan untuk mengucapkan kata itu, dan pengejaan dilakukan dengan mengikuti gaya pengucapan sehingga kemudian tertulis seken. Karena dalam pengumuman di papan lusuh itu sang penjual memerlukan kata benda, lantas lahirlah kata sekenan, yang lazim dipakai dalam pergaulan sehari-hari yang memakai bahasa Indonesia pasaran di beberapa kalangan.

Varian bahasa pasaran atau bahasa kolokial menyodorkan banyak kata unik sejenis itu. Misal lainnya, koropsi, implasi, kariwisata, kroyek, srius, lin, yang dalam tulisan dan pengucapan baku secara berturut-turut adalah korupsi, inflasi, pariwisata, proyek, serius, dan lane. Semua kata ini mudah ditebak bentuk asli dan artinya kecuali lin. Hanya kalau kita datang ke terminal angkutan kota dan mengamati lajur berjajar dengan nomor urut di halte terminal dengan antrean angkutan, kita akan memahami dan menebak arti lin. Hampir pasti asal kata lin adalah lane, yang memuat arti lintasan sekaligus menunjukkan arah trayektori sebuah angkutan kota. Lin 1 menuju ke arah kawasan Sukamaju, misalnya; sementara Lin 2 membawa penumpang ke kawasan Sukamundur.

Sastrawan Umar Kayam sangat jeli dan kerap mencomot kata dan ungkapan bahasa pasaran yang pekat dengan logika dan logat Jawa dalam kolom-kolom rutinnya di sebuah harian daerah yang kemudian dibukukan dalam Mangan Ora Mangan Kumpul (1990). Beberapa di antaranya kata muhun (mohon), pulitik (politik), fosisi (posisi), pales (fals), seporet (sport), dan prekik (free kick). Kata-kata ini tidak berubah dari arti aslinya, hanya berubah cara pengucapan karena dilafalkan dengan lidah Jawa dan dipakai dalam subkultur kelompok masyarakat bawah.

Tak hanya memungut kata, Umar Kayam juga mempopulerkan ungkapan Indonesia-Jawa di kalangan terpelajar sebuah ekspresi seperti ini: “Terus duwit-nya itu bolehnya utang, to, Pak?” Dalam kolom lain kita temui yang begini: “Weh, direktur kitchen cabinet itu kok bolehnya GR kesusu mau menyamakan anaknya dengan Raden Angkawijaya.”

Kata bolehnya dalam dua kalimat itu adalah transliterasi bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Aslinya oleh (/o/ dan /e/ dibaca seperti dalam obeng), kata itu adalah homonim yang bisa memiliki beberapa arti: (a) cara melakukan sesuatu, atau (b) boleh, atau (c) bisa/dapat. Para pengguna bahasa pasaran tidak memboroskan waktu untuk memeriksa status kata itu dan mencari terjemahan Indonesia yang pas, karena itu mereka langsung saja mencomot satu dan memakainya; dan Umar Kayam menggunakan ungkapan itu untuk berhumor secara empatik. Olehe utang yang dari bahasa Jawa seharusnya diindonesiakan menjadi “didapat dari utang”. Namun dalam bahasa pasaran ungkapan itu menjadi “bolehnya utang”. Bingkisan atau oleh-oleh akhirnya menjadi “boleh-boleh”.

Sebagian kata dan ungkapan pasaran ini mungkin sangat lokal. Tapi, kalau Anda berkesempatan melacak lokasi penggunaannya, kata dan ungkapan itu bisa ditemui di banyak lokal di subkultur bawah. Di Yogya, Solo, Semarang, Anda akan sering mendengar kata srius dan ungkapan bolehnya. Tapi, kalau sempat berkelana ke Malang dan Surabaya, ke pojok-pojok pasar dan terminal, Anda akan menjumpai kata-kata itu pula.

Ada baiknya ternyata, bahwa para ahli bahasa bukanlah sekaligus polisi atau tentara, yang membawa senapan yang siap menembak, sehingga kita bisa menikmati ragam bahasa Indonesia yang hidup di subkultur yang berbeda-beda dengan aman.

* Dosen Fisipol Universitas Gadjah Mada

3 thoughts on “Bahasa Pasaran

  1. Kata ‘lin’ bukan berasal dari ‘lane’ (B. Inggris), tetapi berasal dari ‘lijn’ (B. Belanda), yang artinya rute yg dilalui secara teratur oleh angkutan kota atau bis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s