Bahasa Tanpa Budi

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 30 Jan 2016

Adalah rahasia umum sekarang bahwa seseorang yang berbahasa halus–termasuk pejabat, petinggi, perohani, pemasyhur–tidak dengan sendirinya berbudi mulia. Namun, tidak selalu demikian pandangan orang. Di zaman leluhur, budi adalah bahasa dan bahasa adalah budi. Budi bahasa, sesuai dengan alam pemikiran tradisional Nusantara pada umumnya (yang kini pun kuat dianut banyak manusia Indonesia), mengacu kepada baik etika maupun etiket. Kamus Besar Bahasa Indonesia merumuskannya dengan singkat lugas: “tingkah laku dan tutur kata; tingkah laku dan kesopanan”. Tingkah laku itulah budi. Tutur kata itulah bahasa. Di dalam dunia yang menciptakan ungkapan budi bahasa, petingkah laku baik adalah petutur kata baik, sedangkan orang yang tidak sopan berjiwa buruk. Di mana budi berjalan di situ bahasa melenggang.

Kebiasaan bahasa mustahil disembunyikan dan sulit dipalsukan. Di dunia lama bergeografi sempit, logat dan gaya bahasa mencerminkan asal-usul dan pengasuhan seseorang. Bahasanya adalah barometer untuk menentukan apakah dia berasal dari daerah laut atau gunung, kota atau udik, terpelajar atau buta huruf, kaya atau miskin, bangsawan atau petani. Dari situ, orang banyak dengan segera bisa menentukan bagaimana harus memperlakukan orang yang baru dikenal, bagaimana meletakkannya ke dalam kotak sosial yang sepatutnya–apakah ujung jari kakinya harus ditatap dengan penuh hormat, ataukah ujung jari tangannya diawas dengan penuh curiga. Prinsip primordial bahwa asal daerah dan garis keturunan serta status sosial menentukan sifat perilaku seseorang mendapatkan wujud praktis melalui bahasa. Begitu seseorang bicara, seketika itulah bisa ditentukan apakah dia kawan atau lawan, hati lurus atau lidah cabang. Begitu bahasa terucap, budi pun telanjang.

Sejoli itu sebetulnya bagian dari triumvirat adiluhung pada zaman naif itu, ketika bahasa, ilmu, dan agama adalah kemewahan dan, karena itu, adalah cita-cita, puncak pencapaian setiap pemimpi. Penguasaan atas ketiganya menuntut kelimpahan material dan keunggulan intelektual. Perlu ajaran, didikan, latihan andal nan mahal nun jauh di pusat adab dan budaya. Yang berhasil menggapai hanya sedikit. Namun, yang sedikit itu menguasai semuanya. Mereka menimba ilmu, mendalami agama, dan menyelami bahasa. Itulah sebabnya mereka menjadi ideal manusia tertinggi. Bahkan raja raya kuasa, bangsawan mulia, hartawan kaya, dan jenderal perkasa membutuhkan dan memanjakan mereka. Di dunia buta huruf, merekalah yang membaca kitab-kitab berisi rahasia langit dan bumi, mengatur birokrasi dan menjalin komunikasi pempersatu negeri. Mereka membedakan kebaikan dan keburukan serta memegang kunci kejayaan dunia dan kenyamanan akhirat. Sebagai pencipta sastra dan sejarah, tidaklah heran mereka menetapkan diri sendiri sebagai makhluk paling budiman di alam semesta. Sebagai cita-cita, semakin halus bahasa, tinggi ilmu, dan dalam agama, semakin berpekerti. Dalam kenyataan, tentu saja banyak juga, selain yang baik-baik, orang dan pejabat tinggi penuh sopan-santun bernama Budi bertingkah laknat.

Nah, modernisasi kehidupan dan spesialisasi pengetahuan serta perluasan geografi telah membongkar borok perkawinan itu. Budi dan bahasa sudah jarang terlihat jalan bersama. Baik dan sopan tak gandeng tangan. Cita-cita bahasa adalah fasih, bukan kasih. Ilmu tidak mengandaikan moral. Pada diri satu orang bisa tercapai prestasi tinggi sarjana dan durjana. Ulama belum tentu alim. Pelantun ayat-ayat surga mungkin berhati busuk aroma neraka. Ah, barangkali sudah tiba saat bikin surat cerai. Toh ahli bahasa, ilmu, dan agama sudah lama pisah ranjang. Budi sudah lama merantau tanpa kabar. Semakin maju ilmu bahasa, semakin kuat lembaga agama, dan semakin canggih perkakas teknologi, semakin redup pula Buddhi, sang terang pencerahan. Tidak lagi berlaku dengan sendirinya bahwa bahasa halus adalah budi luhur; bahasa kasar adalah budi awur. Kini budi butuh bukti lebih nyata daripada bahasa. Si sinis mencibir, jangan omdo.

* Penggelut Makna Kata

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s