Mengejar ‘Selfie’

Bagja Hidayat*, Majalah Tempo, 1 Feb 2016

Selfie Jokowi (Sumber: ABC)

Di majalah Tempo edisi 30 November-6 Desember 2015, ada kartun Hariprast tentang peringatan Hari Guru. Hari menggambar seorang guru memakai baju Korpri sedang memegang telepon seluler di depan murid-muridnya, yang juga memegang telepon seluler. Teks kartun itu adalah “Guru ngetweet berdiri, murid selfie berlari”.

Kalimat itu adalah pelesetan dari peribahasa “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Kartun itu punya dua aktualitas sekaligus: Hari Guru dan apa yang terjadi kini ketika semua orang punya akun Twitter. Dan kalimat itu pas sebagai kartun, parodi atas kejadian sehari-hari, juga pas sebagai contoh di zaman Internet ini: bahasa bisa begitu lentur mengadopsi satu sama lain.

Kalimat itu sepenuhnya campuran bahasa Indonesia, bahasa slang, dan bahasa Inggris, plus bahasa istilah. “Ngetweet” adalah bahasa slang dari “men-tweet”, yang diturunkan dari “tweeting” dengan arti harfiah “mencuit” yang mengacu pada suara burung, lambang aplikasi Twitter. “Selfie” adalah bahasa Inggris yang dibentuk dari “self”, diri-sendiri. “Selfie” istilah yang populer setelah kebiasaan memotret diri sendiri dengan telepon seluler yang mengacu pada memfoto diri sendiri.

Hari memilih bahasa percakapan ketika menuliskan kalimat untuk kartunnya. Ia tak setia pada kaidah pemadanan kata yang sesungguhnya sudah mulai dicoba dipopulerkan. “Mencuit” ketika mengacu pada akun Twitter akan dipahami sebagai “membuat kalimat di 140 karakter pada media sosial Twitter”. Dalam kamus, tentu saja, “mencuit” dengan arti seperti ini belum tertampung.

Ada juga yang mencoba memadankan “selfie” dengan “swafoto”, yang merujuk pada “pemotretan yang dilakukan sendiri”. Sebab, jika kamera dipegang orang lain, ia bukan “selfie” kendati obyek fotonya hanya seorang diri. Kegiatan itu disebut “pemotretan” saja. Kini ada lagi istilah turunannya, yakni “wefie”, yang terbentuk dari “we” (kami, kita) dan “fie”—kependekan dari “selfie”. Artinya: pemotretan oleh diri sendiri secara bersama-sama.

Ada anjuran kalimat asing dipadankan, seperti Ahmad Sahidah yang setuju menyebut “komedi tunggal” untuk stand-up comedy di lembar ini beberapa waktu lalu—mengacu pada padanan lain semacam “organ tunggal”. Sahidah kurang setuju dengan “jenakata”, yang lebih merujuk pada pemakaian kata-kata sebagai senjata humor oleh pelawak. Sebab, sebelum televisi memakai “stand-up comedy” sebagai judul acara, Butet Kertaradjasa hanya disebut seniman “monolog”.

Di televisi dan media sosial, juga kalangan anak muda, pelawak tunggal itu disebut “komika”, yang diserap begitu saja dari “comic” dalam bahasa Inggris, yang berarti “pelawak”, bukan “komedian tunggal” atau “jenakatawan”. “Komika” mulai populer kendati menyalahi kaidah turunan kata dan kisruh dengan “komik”, cerita bergambar di media massa. Penggambarnya tak disebut “komika”, melainkan “komikus”, karena “-kus” dalam aturan baku menyebut orang dari sifat yang diterangkannya. “Komika” bukan pula sifat dari “komik”, karena adjektivanya adalah “komikal”.

Agaknya saling kejar padanan dengan istilah di zaman Internet seperti membandingkan deret ukur dan deret hitung. Terlalu banyak istilah gabungan dari pelbagai kata yang diturunkan lagi menjadi kata baru dan menabrak kaidah bahasa Indonesia.

Kamus selalu telat merespons perkembangan bahasa, bentukan, bahkan kata baru yang muncul dengan arti yang spesifik dan melenceng dari arti kata yang sudah ada.

Sebab, “wefie” itu, jika dirujuk pada kegiatannya, pada faktanya, ya, itu foto bareng belaka. Bahwa pemotretannya tak dilakukan oleh fotografer yang tak ada dalam obyek kamera, hasilnya adalah tetap foto bersama-sama. Dan “wefie” kian populer, meninggalkan istilah “foto bareng”, apalagi “swafoto”, yang terasa ketinggalan zaman meski terbentuk dari frasa yang sangat lokal.

Barangkali itu karena bahasa asing, terutama Inggris, kian tak asing bagi orang Indonesia. Pola pengajaran di sekolah yang memakai dua atau tiga bahasa pengantar membuat generasi kini tak hanya akrab dengan bahasa asing, tapi juga memakainya sebagai bahasa kedua. Dengan Internet yang menghilangkan sekat-sekat negara, pemakaian bahasa Inggris kian luas.

Istilah-istilah pun diserap begitu saja dan dipercakapkan tanpa peduli silsilah dan padanannya. Bahasa memang kesepakatan bersama karena serapan bahasa asing sudah terjadi sejak manusia mulai bisa berbicara. Tapi kekacauan yang saling meniadakan dari bahasa asal dengan bahasa lokal membuat makna kata dan istilah baru itu kian melenceng. Dari sisi ini, Internet agak mencemaskan.

* Wartawan Tempo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s