Bahasa Subversif

Kurnia J.R.*, KOMPAS, 6 Feb 2016

Pada mulanya adalah kata. Itulah pelajaran pertama bagi manusia. Setiap bayi tidak dituntut macam-macam oleh orang tua yang gemas kecuali berlatih mengeja ”maa-maaa… paa-paaa.”

Bahasa ditanamkan dengan landasan cinta untuk menghayati pola-pola konstruktif sepanjang hidup manusia. Secara kontekstual, bahasa tidak bebas-nilai. Keluarga, lembaga sosial, dan lembaga pendidikan adalah satu rangkaian yang membangun konvensi dan relasi humanitas yang diperkuat tata nilai etis, moral, dan religi.

Leluhur kita mengajarkan tata nilai dengan peribahasa, tembang, legenda, pralampita, pamali, tafsir atas alam kasatmata dan alam mimpi. Dengan itu semua mereka merumuskan Sabda Alam jadi pedoman hidup. Mereka tak bersikap longgar, tidak juga stagnan berkurung tradisi dan adat.

Itulah sebabnya bangsa kita terbuka pada ajaran kebajikan dan ketuhanan dari luar. Agama baru datang bersama perantau dan pedagang. Leluhur kita menerapkan akulturasi atas pola-pola religi asing agar nyaman dikenakan sebagai busana jiwa.

Sebagian orang ada yang menerjemahkan konsep akhlak yang berurusan dengan perilaku dan sikap hidup sebagai sekadar gaya busana dan bahasa. Yang-sakral pun bertiwikrama menjadi yang-profan. Lalu mereka menggampangkan norma-norma religi yang esensial jadi ornamen, aksesori, atau atribut belaka.

Kondisi ini sempat membuat cemas almarhum Gus Dur sehingga dia mengingatkan, ”Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab. Bukan untuk aku jadi ana, sampeyan jadi antum, sedulur jadi akhi. Kita pertahankan milik kita. Kita harus serap ajarannya, tapi bukan budaya Arabnya.”

Pada kondisi ini gaya berbahasa itu bersifat subversif menurut makna derivatif dari morfem subvert dalam Webster’s Encyclopedic Unabridged Dictionary of the English Language, 1989: 1. To overthrow (something established or existing). 2. To cause the downfall, ruin, or destruction of. 3. To undermine the principles of; corrupt: yakni mengusik, menggoyahkan, menggangsir, yang bisa berakibat rontoknya kemapanan. Makna subversif pada Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa terlampau sumir, perlu elaborasi demi akurasi.

Subversi bahasa dinyatakan terjadi apabila internalisasi bahasa asing dalam bahasa pergaulan mengusik rasa mapan dan nyaman memakai bahasa ibu. Seakan-akan tanpa aksentuasi bahasa Arab dalam obrolan, misalnya, keislaman seseorang belum afdol.

Diwajibkannya bahasa Quran dalam ritual ibadah Islam bukanlah fenomena subversi bahasa. Hal itu lazim sebagaimana bahasa arkais dalam ritual agama lain, termasuk agama tradisional di Nusantara, tidak mengusik bahasa ibu para penganutnya.

Bahasa subversif yang destruktif terhadap tatanan nilai ketimuran kita digunakan media saat mengutip AFP (23 Januari) tentang kelahiran anak Louis Tomlinson, personel One Direction, dengan Briana Jungwirth. ”Keduanya sangat bahagia… walaupun mereka bukan sepasang kekasih.” Wartawan kita lalu berseru: ”Wah, selamat ya!”

Kita anteng membaca dan mungkin ikut terharu bersama si penyanyi. Sama sekali tak merasa bahwa tata nilai fundamental kita tengah terancam.

* Pujangga

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s