Banci!

Hendri Yulius*, Majalah Tempo, 15 Feb 2016

Dalam hal seksualitas, bahasa Indonesia memiliki banyak keterbatasan. Saya menyadarinya saat mengajar kelas pengantar kajian queer di salah satu universitas terkemuka di Bandung. Sebagai sebuah kajian keilmuan yang relatif baru, dalam bahasa Inggris, kata queer memiliki sejarah yang rumit dan panjang.

Pada mulanya, kata yang secara harfiah berarti “aneh” atau “abnormal” ini digunakan sebagai cercaan terhadap kaum homoseksual yang dianggap menyimpang dari norma seksual yang berlaku di masyarakat. Dalam perkembangannya, para aktivis militan perjuangan hak-hak homoseksual kemudian merebut kata peyoratif ini dan memberikan sebuah makna politis ke dalamnya, bahwa terlepas dari apa orientasi seksualnya, semua orang adalah queer. Menurut saya, seksualitas manusia cair dan bisa berubah. Label-label identitas seksual yang diberikan tidak akan selalu bisa menangkap secara keseluruhan hasrat dan fantasi seksual seseorang yang terdalam. Sebagai contoh, seorang perempuan heteroseksual bisa saja membayangkan ia bercinta dengan sesama perempuan saat sedang bersanggama dengan suaminya. Kata queer lantas menjadi sesuatu yang bermakna politis dan bahkan tumbuh menjadi sebuah disiplin akademik baru untuk meneropong keberagaman hasrat seksual manusia terlepas dari kotak-kotak label.

Di tengah kesulitan dalam menemukan padanan yang cocok untuk menerjemahkan kata queer, saya tiba-tiba bersirobok dengan kata “banci” atau “bencong”, yang selama ini populer di masyarakat kita sebagai kata penghinaan terhadap seorang lelaki yang berperangai dan bertindak-tanduk seperti perempuan. Sutan Sjahrir bahkan pernah mengumpat Presiden Sukarno dengan sebutan pengecut dan banci ketika Bung Karno tak percaya pada omongannya bahwa Jepang telah tak berkutik akibat bom Sekutu dan proklamasi kemerdekaan seharusnya segera digaungkan.

Pada akhir 1960-an, Gubernur Jakarta Ali Sadikin sempat mempopulerkan istilah wadam, yang merupakan singkatan dari “wanita-adam”, untuk menggantikan kata banci yang dinilai merendahkan. Tapi protes datang dari kelompok pemuka agama Islam lantaran kata adam yang ada dalam kitab suci tidak pantas digunakan untuk merujuk pada lelaki yang keperempuanan. Baru pada 1978 kata wadam diganti dengan waria, yang merupakan kependekan dari “wanita-pria”. Waria kemudian digunakan untuk merujuk pada sebuah identitas gender yang berada di luar kerangka norma, yakni seorang lelaki biologis yang mengekspresikan dirinya seperti perempuan. Dengan adanya kata waria, penggunaan kata bencong dan banci tidak dengan sendirinya surut. Ia terus hidup dan digunakan oleh masyarakat kita, baik untuk menunjuk pada seorang lelaki yang berpakaian dan berperilaku seperti perempuan maupun seorang lelaki yang dianggap gagal memenuhi harapan masyarakat akan nilai-nilai maskulinitas, seperti lelaki pengecut atau cengeng.

Meskipun praktik seksual sesama jenis telah ada dalam berbagai tradisi lokal, seperti warok, menurut Profesor Tom Boellstorff, komunitas lelaki homoseksual mulai mengidentifikasi diri sebagai gay pada akhir 1970-an, terutama saat media massa dalam negeri ramai memuat artikel tentang gerakan hak-hak gay di Barat. Pada saat itulah hasrat romantis dan seksual yang belum memiliki nama hingga belakangan lazim disebut gay. Kata gay mulai menjadi identitas diri yang kemudian berkembang, ditandai oleh berdirinya organisasi perjuangan hak-hak gay pertama, Lambda Indonesia, pada 1982.

Pertemuan antara istilah gay dan banci kemudian melahirkan keunikan sendiri. Selain dengan kata gay, komunitas homoseksual lelaki menggunakan kata “banci” untuk menyebut diri atau kawan yang memiliki orientasi seksual yang sama. Misalnya, “Ih, dia pasti juga banci” atau “Kita kan banci, masak suka sama perempuan?”.

Banci yang sering digunakan sebagai cercaan lantas digunakan sebagai penanda identitas diri. Ia juga lebih jauh lagi berperan dalam membentuk eksistensi komunal yang merangkum solidaritas kelompok lelaki homoseks yang terpinggirkan ini.

Sementara kata “banci” selama ini dialamatkan pada lelaki yang dianggap tidak berhasil memenuhi norma gender yang berlaku, komunitas homoseksual juga merasakan hal serupa. Mereka dianggap gagal dan melanggar nilai dan norma masyarakat yang ada, bahwa hubungan romantis dan seksual yang sah hanyalah antara lelaki dan perempuan. Namun ada nuansa canda, main-main, gembira, juga “kebanggaan” ketika menyebut diri atau teman-teman sekelompok sebagai banci. Kata yang dulu bernada hinaan kini telah dimaknai secara berbeda sebagai sesuatu yang berdaya. Ada makna politis yang perlahan-lahan diimbuhkan di dalamnya—sebuah simbol politik identitas yang menjungkirkan negativitas dengan keriangan.

Bila dalam bahasa asalnya istilah queer kini digunakan untuk menandai segala bentuk identitas seksual yang tidak berada dalam koridor norma seksual mayoritas yang berlaku (baca: heteroseksual), bukan tidak mungkin kata banci bisa menjadi padanan yang tepat untuk queer. Selain signifikansi politis di dalamnya, bukankah banci juga selalu merujuk pada suatu perilaku dan identitas yang berada di luar norma?

* Penulis buku Coming Out dan pengajar kajian gender dan seksualitas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s