Bahasa dan Dongeng

Damiri Mahmud*, KOMPAS, 20 Feb 2016

Berbahasa adalah proses dari perjalanan kebudayaan yang panjang. “Bahasa menunjukkan bangsa” sungguh tepat. Apabila kita  mencoba mengganti sebuah istilah yang telah kita pakai cukup lama, sadar atau tidak sadar kita telah memutus mata rantai kebudayaan itu. Jadi, bahasa adalah manifestasi suatu kebudayaan dari mana kita bisa melihat jejak dan perilaku suatu bangsa. Mengapa orang Inggris menyebut negerinya sebagai fatherland dan mengapa pula kita menyebut Indonesia sebagai Ibu Pertiwi? Ini tentu menghendaki penjelasan yang panjang tentang akar kebudayaan masing-masing.

Indonesia adalah negeri agraris yang kemudian bukan saja menjadi sumber rezeki rakyatnya, tetapi berperan sebagai akar bahasa. Serikat dagang dan organisasi banyak menggunakan nama kantor pembantunya di kota provinsi dan kabupaten sebagai kantor cabang, anak cabang, ranting, anak ranting yang mengacu kepada komponen pohon. Yang paling banyak adalah kata buah, biji, bunga, butir, pucuk karena benda-benda ini merupakan hasil tanaman itu. Kita mengatakan sebuah rumah, sebuah mobil, sebuah komputer, buah baju, buah tangan, sebutir pil, sepucuk senjata, bunga hati, bunga uang, sebiji besi. Bahasa kita adalah bahasa agraris.

Generasi sekarang merasa heran dengan istilah sebuah rumah, sebuah mobil, atau lebih jauh sebuah komputer. Apakah mobil berasal dari pohon? Ujung-ujungnya mereka menganggap istilah itu kebohongan sehingga perlu diganti, misalnya, dengan satu unit mobil, satu unit komputer, unit kerja, dan seterusnya.

Saya teringat pada seorang pakar bahasa yang, ketika berceramah, mengatakan bahwa ada sebuah pantun terkenal yang sudah tak tepat lagi diketengahkan kepada generasi muda. Kalau ada sumur di ladang, bolehlah kita menumpang mandi, kalau ada umur panjang, bolehlah kita bertemu lagi.  Katanya, mereka sudah tak mengenal kata di dalam pantun itu: sumur. Mereka sekarang terbiasa pakai keran dan shower! Dengan kata lain, pantun itu sudah menjadi suatu kebohongan bagi generasi muda. Wah! Saya terpana. Mengapa, misalnya, grup-grup teater di Inggris mandi keringat menampilkan baju kebesaran Hamlet dan Ophelia yang telah begitu kuno dan menggelikan pada sebuah panggung? Tugas pakar bahasa itulah semestinya menjelaskan apa arti sumur dan fungsinya dalam budaya tradisional kita.

Saya pun merasa takjub berbincang dengan seseorang yang mempermasalahkan lagu “Pok Ame-ame”. Antara lain dikatakan, “Dengarlah larik ketiga dan keempat, susu lemak manis bersantan kelapa muda, adek jangan menangis diupah tanduk kuda. Minum susu kok dicampur santan? Lebih aneh lagi, kelapa muda kok ada santannya, kuda ada tanduknya.”

Pada hemat saya, ini sebuah pendangkalan karena ketercerabutan kita kepada budaya tadi. Dari semua teks lagu dan ungkapan yang dia kecam dan ketengahkan, semata-mata ia melihat teks dan bertahan kepada arti harfiah belaka. Padahal, yang dihadapinya adalah syair nyanyian anak-anak atau puisi. Ada yang tersirat: kata-kata yang tidak diucapkan dan kaya dengan fantasi dan imajinasi.

Karena seseorang tadi guru, tentu dia tahu dengan parafrasa atau lebih jauh pembacaan heuristik dan hermeneutik untuk sebuah puisi. Pembacaan heuristik untuk “Pok Ame-ame” seperti ini. Pok ame-ame (bertepuk ramai-ramai). (Menyanyikan lagu) belalang dan kupu-kupu. Bertepuklah adik (supaya) pandai. (kalau sudah pandai akan) diupah air susu. Air susu (itu rasanya) lemak manis. (Seperti) bersantan kelapa muda. Adik jangan menangis. (Kalau tidak menangis akan) diupah tanduk kuda.

Pembacaan heuristik memerlukan pembacaan hermeneutik supaya puisi punya makna menurut konvensi sastra budaya tertentu.

Pembacaan hermeneutik untuk “Pok Ame-ame”: Hai kawan-kawan, marilah bertepuk tangan beramai-ramai. Sambil bertepuk tangan, kita menyanyikan lagu tentang belalang dan kupu-kupu. Wahai adik, marilah ikut bertepuk tangan juga supaya lekas pandai. Kalau adik sudah pandai bertepuk tangan, nanti diupah emak dengan air susu. Air susu ibu itu enak sekali. Lebih enak dari minuman yang bersantan kelapa muda. Buah kelapa yang hampir tua itu, Dik, dibilang kelapa muda juga. Jadi dia punya santan juga, tapi encer. Seperti itulah rupanya air susu ibu. Namun, rasa dan khasiatnya jauh lebih baik.  Nah! Adik jangan menangis lagi, ya. Kalau adik berbudi baik, nanti kakak upah lagi dengan tanduk kuda. Eh, apa kuda itu bertanduk, Kak? Betul, Dik. Zaman dahulu kuda itu bertanduk panjaaannng sekali. Dengan cara seperti itulah kita harapkan dia mendekati dan menafsirkan syair-syair lagu yang lain itu. Mendekatinya dengan konvensi sastra, dengan akar budayanya.

Jadi, tentang kuda ada tanduknya itu menyangkut kepada konvensi sastra klasik kita: dongeng. Si kakak yang membawa adiknya bermain-main itu perlu tahu dongeng tentang kuda itu.

* Penyair, Esais

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s