Murni dan Konsekuen

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 27 Feb 2016

Orang suka sekali memandang tinggi dan memuja-muji segala dan setiap yang murni. Dari ras dan mas sampai nilai Ebtanas dan vonis bebas, dari susu dan bensin sampai madu dan batin, dari air dan cinta sampai pengabdian dan darah, dari sirup dan fisika sampai seni dan ajaran agama, murni adalah kata sifat penentu yang laris laku. Ada lagi yang tak cukup murni, harus konsekuen pula, seperti seruan penguasa, terutama yang bersenjata, bahwa kita semua harus ”melaksanakan Pancasila dan UUD 45 secara murni dan konsekuen”.

Seperti biasa terjadi pada produk-produk kekuasaan pada umumnya, ungkapan itu adalah pedang bermata dua. Dalam hal ini, berlipat tiga pula—melaksanakan, murni, dan konsekuen masing-masing dan bersama-sama dengan lihai menangkis di kanan menusuk ke kiri.

Murni mengacu kepada keadaan tulus, sejati, alamiah, tidak dibikin-bikin, sesuai dengan harapan, tidak bohong, tidak palsu, lurus, jernih. Murni bersih dan polos bagai anak remaja tak kenal medsos. Ada kesan magis metafisis—sempurna, tiada tara, suci, asli, dan asali.

Konsekuensi—buah langsung suatu kejadian—mengacu kepada konsep bahwa apa pun kemungkinan akibatnya tetap laksanakan. Penjual konsekuen akan mengganti barang rusak biarpun rugi. Pahlawan konsekuen akan terus bela rakyat negeri lemah tertindas biarpun jiwa raga diancam negara angkara murka. Kekasih konsekuen akan tetap setia selibat biar pun digoda 72 bidadari di perantauan seribu satu hari. Kesannya tekun, tabah, kerja tak kenal lelah, tekad tak pernah patah.

Melaksanakan, menjalankan, mengamalkan, dan semacamnya, tentu saja, berarti tidak tidur, tidak melamun, tidak bicara tak habis-habis seperti para kritikus bandel itu. Rajin tekun kerja kerja kerja! Pun bukan anggota golongan karya.

Ketiga kata itu di dalam satu kalimat menimbulkan rasa positif semangat juang nan tak kunjung padam. Gelora pidato berulang-ulang menggegar telinga dan menggedor jantung di dalam dada bisa menimbulkan tenaga dahsyat tak terbendung dari massa yang bersatu mengalir bergelombang bergulung-gulung, penuh gairah dan cinta, siap sedia tumpah darah jiwa raga.

Pada saat yang sama, murni berarti tanpa pengaruh luar, tidak tercemar, tidak mengandung unsur-unsur asing yang tak diinginkan. Murni berarti menolak pengaruh dan budaya yang datang dari luar. Yang bengkok dan kabur berlumur lumpur tidak layak mendapatkan tempat di tengah-tengah kesucian dan kebersihan leluhur yang luhur. Semua yang dilabel pengaruh asing, ajaran asing, ideologi asing, seperti hak-hak asasi manusia dan sekularisasi politik, adalah pencemar, penoda, dan penajis kemurnian Pancasila dan UUD 45. Xenofobia, anti-asing, menjadi pekik-juang populer nasionalisme murni dalam kampanye presiden terakhir. Tidaklah begitu penting misalnya bahwa istilah Pancasila adalah bentukan Sanskerta dari India asing berisi konsep ketuhanan agama asing dan ideologi nasionalisme, demokrasi, dan sosialisme ciptaan asing.

Konsekuensi di dalam percaturan politik bisa pula berakibat fatal. Tak kompromi. Tak negosiasi. Orang Aceh (dulu) mati, matilah. Orang Papua (sekarang) mati, matilah. Pejuang hak asasi, apalagi penuntut jenderal berimpunitas dan pembongkar pembunuhan massal terhadap PKI, adalah pengkhianat. Hanya hitam dan putih. Tak ada ragu tiada nuansa. Pahlawan adalah pahlawan, titik. Pembangkang adalah pembangkang, titik. Tidak ada manusia manusiawi yang menimbang-nimbang berbelas kasihan. Tidak ada kesadaran bahwa manusia normal jatuh dan bangkit, baik dan jahat, berani dan takut. Tidak ada pengertian bahwa pendapat mengandung kebenaran dan kekeliruan sekaligus, bahwa perbenturan pandangan adalah jalan menuju perbaikan dan pencerahan. Konsekuen adalah libas dan lindas. Apa pun akibatnya.

Melaksanakan berarti bahwa Pancasila dan UUD 45 adalah produk jadi, bukan proses; akhir, bukan jalan; perintah, bukan hikmat. Tidak perlu lagi interpretasi, pemikiran, pertimbangan. Top-down: Kami instruksikan kalian jalankan. Melaksanakan berarti membunuh segala kreativitas. Tidak ada alternatif.

Secara negatif ketiga kata ini bersama-sama adalah anti-demokrasi dan anti-Reformasi, sebab Reformasi adalah pertinjau-ulangan terhadap Pancasila dan UUD 45. Pancasila teruji lulus bertahan. UUD 45 mendapatkan upgrade empat amandemen.

Positif atau negatif, siapakah yang menentukan?

* Penggelut Makna Kata

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s