Ketimpangan

Arianto A. Patunru*, Majalah Tempo, 7 Mar 2016

Ketimpangan sudah masuk kategori lampu kuning, demikian kata Wakil Presiden Jusuf Kalla (Koran Tempo, 14 Januari 2016). Beberapa hari sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengatakan ketimpangan telah menjadi kendala pembangunan (Koran Tempo, 10 Januari 2016). Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di negara-negara lain—sehingga pertemuan World Economic Forum baru-baru ini di Davos “dihantui ketimpangan global” (Koran Tempo, 19 Januari 2016).

Apa itu ketimpangan?

Seorang mahasiswa S-3 di Universitas Wisconsin, Amerika Serikat, menemukan kekeliruan Profesor Vilfredo Pareto. Menurut Max Lorenz, mahasiswa tersebut, cara Pareto menghitung konsentrasi kekayaan kurang tepat karena tidak dapat mengakomodasi dinamika pendapatan dalam masyarakat secara akurat. Ia lalu menawarkan perbaikan dalam artikelnya yang terbit di jurnal American Statistical Association pada 1905. Sementara Pareto mengandalkan satuan logaritma, Lorenz menggunakan persentase kumulatif. Ia menggambarkan hubungan antara akumulasi pendapatan dan akumulasi penduduk (yang diurutkan berdasarkan tingkat pendapatan) dengan sebuah kurva. Kurva itu sekarang kita kenal sebagai Kurva Lorenz. Formula Lorenz memungkinkan analisis berapa banyak kekayaan suatu negara yang dimiliki kelompok teratas pendapatan—dan seterusnya ke bawah. Presentasi geometris dari formula ini mudah dimengerti: semakin bengkok kurva tersebut, semakin terkonsentrasi pendapatan negara pada kelompok atas.

Di Italia, Corrado Gini, ahli statistik di Universitas Cagliari, lama mencermati fenomena konsentrasi kekayaan ini. Pada 1912, ia memperkenalkan sebuah formula untuk mengukurnya. Formula ini berkembang menjadi rasio yang sekarang kita kenal sebagai Rasio Gini. Ia berupa indeks antara 0 dan 1, dengan 0 mewakili kondisi distribusi kekayaan yang merata sempurna, sementara 1 adalah ketimpangan sempurna (saat ini beberapa seri laporan menggunakan skala 0-100). Dalam artikel berikutnya pada 1914, Gini menghubungkan formulanya dengan Kurva Lorenz. Ia menunjukkan bahwa perbandingan luas antara Kurva Lorenz dan segitiga yang memuatnya pada panel pendapatan penduduk tersebut sama dengan Rasio Gini. Dengan kata lain, Rasio Gini adalah representasi aljabar dari Kurva Lorenz yang geometris tersebut.

Bukan hanya Kurva Lorenz dan Rasio Gini yang banyak digunakan untuk menganalisis distribusi pendapatan. Tapi kedua instrumen inilah yang mungkin paling sering kita dengar dalam pembicaraan mengenai ketimpangan. Terutama Rasio Gini—yang juga sering disebut Koefisien Gini atau Indeks Gini. Dengan meledaknya buku Thomas Piketty, Capital (2014), topik ketimpangan semakin mengemuka. Buku ini memang tidak menggunakan Indeks Gini; sebaliknya, ia menganalisis perbandingan pertumbuhan kekayaan dan pertumbuhan produksi, lalu berfokus pada porsi kelompok teratas dalam pendapatan total suatu negara dalam kurun waktu tertentu. Namun, buku Piketty membuat ketimpangan menjadi isu yang semakin populer. Ratusan artikel muncul. Halaman sosial-ekonomi di media massa juga didominasi berita tentang ketimpangan, tidak sedikit berupa laporan khusus. Debat calon presiden pun diimbuhi perdebatan dan janji menghapus ketimpangan. Dan ukuran apa yang paling akrab di telinga masyarakat? Ya, Indeks Gini. Bahkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah saat ini secara eksplisit memuat target Indeks Gini!

Jadi apa artinya “Rasio Gini Indonesia naik dari 0.30 tahun 2000 ke 0.41 tahun 2015” seperti dilaporkan Bank Dunia pada Desember lalu? Karena ukuran tersebut adalah ukuran sebaran yang relatif, kita hanya bisa bilang ketimpangan terus meningkat.

Namun diskusi tentang ketimpangan, seperti halnya tentang kemiskinan, sering melibatkan emosi. Banyak yang melihat ketimpangan sebagai hal yang buruk semata dan, karena itu, harus dibasmi dengan segala cara. Betul bahwa ketimpangan (pendapatan) adalah akibat dari distribusi akses yang tidak seimbang—misalnya karena golongan tertentu diuntungkan melalui korupsi atau nepotisme. Namun, ketimpangan juga bisa berarti penciptaan kesempatan akibat dinamika produktivitas. Dalam hal ini, ketimpangan berfungsi sebagai pintu yang membuka peluang bagi mereka yang kreatif untuk mengisi kesenjangan di antara golongan atas dan bawah. Ia justru bisa menjadi insentif bagi inovasi.

* Peneliti di Australian National University

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s