Materi Bahasa

Kurnia J.R.*, Kompas, 2 Apr 2016

Albert Camus adalah bintang kejora di gugusan parafrasa kesusastraan Perancis. Esai-esainya kaya dengan parafrasa yang brilian, sementara novel-novelnya sarat dengan frase yang indah, yang dituangkan dengan ketenangan yang stabil dan hening. Penerjemahnya ke dalam bahasa lain tentu akan secara otomatis terkondisikan ke suasana meditatif yang merupakan ciri khas gayanya. Penerjemah Camus ke dalam bahasa Indonesia, Nh Dini dan Apsanti Djokosujatno, menunjukkan gejala itu.

Fenomena Camus ataupun Shakespeare, dalam lingkungan penutur bahasa Inggris, adalah indikasi bahwa daya hidup dan daya pikat suatu bahasa tidak bisa dilepaskan dari artikulasi organisme karya kreatif sepanjang sejarah bahasa yang bersangkutan.

Para siswa di negara-negara para sastrawan tersebut sejak dini sudah dikenalkan tidak hanya dengan senarai judul karya mereka, tetapi juga dengan gaya bahasa dan logika mereka dalam bentuk forum diskusi. Secara implisit pelajaran bahasa menggamit dasar-dasar filsafat tanpa membongkar keangkeran aksennya, di samping melatih mereka merumuskan pikiran orisinal dalam bentuk esai.

Singkat kata, sungguh penting para siswa kita sejak dini didekatkan kepada gaya bahasa para bintang gaya yang kita miliki. Tak mengherankan apabila sebagian besar siswa merasa jenuh di kelas bahasa Indonesia. Para guru, dengan silabus yang menyeringai kalau ada yang coba-coba bongkar-pasang, cenderung mendahulukan nama-nama “mati” di benak dan hati remaja yang haus akan imajinasi, seperti Van Ophuijsen, Soewandi, atau Sutan Takdir Alisjahbana yang gaya prosanya kering dan novel-novel tebalnya didaktis dan “kuno”.

Prasangka negatif atas materi bahasa bahkan diidap oleh ahli bahasa setaraf TW Kamil. Pada kata pengantar untuk buku Ilmu Bahasa Umum, dia mengakui, “Ketika saya menerima tugas menerjemahkan karya SC Dik dan JG Kooij yang aslinya berjudul Algemene Taalwetenschap mula-mula saya sudah bersiap-siap menghadapi gaya bahasa yang rumit, penuh dengan kosakata yang sulit dan tata kalimat yang berbelit-belit.”

Amir Hamzah adalah bintang gaya bahasa molek dengan problem ada kesan kuno dan arkais dari gaya bahasa Melayunya yang kreatif. Chairil Anwar meteor dalam lirik puisi berbahasa modern, tetapi sedikit sekali materinya yang berupa esai sehingga tak menunjukkan elaborasi dalam gaya prosa. Sastrawan kita yang memukau dalam frase di antaranya Iwan Simatupang dan Rendra. Tentu akan banyak nama lain apabila analisis diperpanjang.

Tak bisa diabaikan ikon dalam retorika: Sukarno. Alangkah sayangnya jika tiada upaya riset untuk merumuskan gaya kampiun orasi dan narasi argumentatif ini menjadi materi pelajaran bahasa untuk siswa.

Ada nama lain dalam politik kita, yaitu DN Aidit. Tokoh brilian dalam frase dan parafrasa ini sebetulnya perlu dikaji faedah dari keunggulan gaya bahasanya demi kepentingan ilmiah.

* Pujangga

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s