Political Correctness

Ayu Utami*, Majalah Tempo, 4 Apr 2016

Marah di jalan, karena sepeda motor yang melanggar jalur, atau penyeberang yang tak peduli lampu lalu lintas, saya berteriak, “Buta lu ya!” Segera saya merasa berdosa kepada orang tunanetra.

Jengkel kepada tukang yang salah melulu dalam renovasi rumah, saya membatin, “Budek lu ya? Kan, dari tadi udah dibilangin….” Lagi-lagi saya merasa berdosa, kepada orang tunarungu.

Gemas melihat komentar-komentar penuh kebencian di media sosial, saya menggerutu, “Dasar pikiran kerdil!” Dan segera saya merasa bersalah pula kepada orang kate.

Saya pun sesaat membisu, sebab begitu banyak bias dan ketidakadilan dalam bahasa. Dan bisakah kita berbahasa secara politically correct?

Aduh, itu masalah juga. Sejauh ini ia tak punya padanan dan masukan di Wikipedia bahasa Indonesia: political correctness. Ternyata memang tak mudah menerjemahkan istilah ini. Ia lebih dari sekadar kepantasan bersikap (yang menuntut kita menurut pada tata krama luaran). Ini lebih mengandaikan kebenaran sikap mental, yaitu tidak bias, tidak rasis, tidak benci atau merendahkan kelompok tertentu. Tapi, nah! Bahkan ungkapan “tidak merendahkan” sebenarnya sudah mengandung benih ketidakpantasan! Kita menganggap buruk yang rendah. Tidakkah itu termasuk bias dari si jangkung-tinggi terhadap yang pendek-rendah?

Political correctness mengandaikan kita tidak menghina. Nah, kalimat ini pun sebenarnya tidak masuk akal. Subjeknya kan bukan person; tidak bisa melakukan hal-hal yang hanya bisa dibuat oleh kesadaran. Jadi, sebenarnya, kalimat yang benar adalah begini: Dengan political correctness, manusia mengandaikan bahwa pembicara tidak menghina kelompok yang berbeda dari yang dianggap ideal. Tapi pengungkapan begini jadi berbelit. Kalau kita hanya boleh pakai struktur yang benar (tapi njelimet), ujaran jadi susah dipahami. Maka, demi kepraktisan dan kenikmatan berkomunikasi, kita memilih yang tak logis. Sial betul. Maka kita kembali ke pertanyaan awal: bisakah kita betul-betul berbahasa secara tepat, logis, dan politically correct atau benar dalam sikap?

Jawabannya mungkin tidak. Itu adalah sejenis dosa asal bahasa kita: sesuatu yang kita tahu tidak tepat, tapi tak bisa kita hindari. Sesuatu yang kita tahu membawa korban, tapi tak bisa ditinggalkan. Dalam dilema demikian mungkin kita harus merenung jauh juga: ada apa dengan kemanusiaan kita?

Pertama, kita memang harus mengakui beberapa hal tanpa bermaksud melecehkan. Misalnya, orang yang bisa melihat memang punya keleluasaan fisik lebih ketimbang yang buta. Orang yang bisa mendengar juga demikian dibanding yang tuli. Orang yang jangkung umumnya berlari lebih cepat daripada yang kerdil.

Kedua, karena secara mental kita selalu merindukan keleluasaan, keadaan lebih bebas akan selalu punya makna positif dalam metafora di segala bahasa. Bandingkan misalnya: jernih-berkabut-gelap, putih-kelabu-hitam. Tanpa bermaksud melecehkan warna kulit, gelap dan hitam berasosiasi dengan pengalaman hambatan visual.

Ketiga, anehnya, dalam dunia binatang pun ada bias tentang posisi tinggi dan rendah. Kalau malas baca riset para peneliti hewan, tonton saja Animal Planet, National Geographic, dan sejenisnya. Atau perhatikan perilaku binatang peliharaan Anda. Untuk menunjukkan penyerahan diri atau niat damai, kucing, anjing, dan monyet akan merendahkan posisi di hadapan lawannya (kalau perlu, telentang memperlihatkan perut). Yang tinggi menguasai yang rendah.

Dari tiga butir tadi, bisa kita simpulkan bahwa keadaan buta, tuli, kerdil, dan rendah memang secara fisik, mental, alamiah defisit dibanding keadaan melihat, mendengar, tumbuh, dan tinggi. Seharusnya kita bisa mengakui itu tanpa melecehkan. Lantas, di mana titik menikung ketika pelecehan terjadi?

Tikungan itu ada pada titik di mana kita berbeda dari makhluk alamiah yang lain: etika dan estetika, yaitu ketika kita memaknai sesuatu sebagai baik, indah, ideal. Ada wilayah di mana kita tidak boleh menerapkan yang ideal. Seharusnya, kita bisa menerima “keadaan-keadaan lebih banyak keterbatasan”—dengan kata lain cacat—tanpa menempelkan sentimen menghina atau melecehkan. Seharusnya kita kembali bisa berbicara tentang cacat tubuh apa pun tanpa mengurangi kemanusiaan.

* Novelis dan kurator program sastra Komunitas Salihara

One thought on “Political Correctness

  1. Kasihan juga itu jika tuna rungu kemudian dimarahi lantaran tidak mengindahkan bunyi klakson misalnya, padahal dianya kan jelas-jelas nggak mendengar itu bunyi klakson, ya… heheee.
    Kita sebagai orang yang genap panca inderanya memang harus tahu diri dan bersabar agar tak marah di jalanan saat situasi macet misalnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s